• News

  • Editor's Note

Awas, KLB Miras Oplosan

Hasil razia miras oplosan Polri
NNC/Toar Sandy
Hasil razia miras oplosan Polri


JAKARTA, NNC - Belakangan ini bangsa kita disentakan oleh sebuah peristiwa yang jauh lebih berbahaya dari apapun, lantaran korban yang berjatuhan sudah mencapai ratusan. Momok menakutkan itu bernama minuman keras (miras) oplosan.

Wakil Kepala Polri Komjen Syafrudin menyebut, korban meninggal minuman keras (miras) oplosan secara nasional ada sekitar 112 orang. Sebanyak 62 orang total korban meninggal akibat miras di Jawa Barat, yang terdiri dari 45 orang meninggal di Cicalengka, Kabupaten Bandung; 7 orang di Kota Bandung; 7 orang di Kabupaten Sukabumi; 2 orang di Kabupaten Cianjur; dan 1 orang meninggal di Kabupaten Ciamis.

Tak heran jika kemudian, kasus miras ini ditetapkan sebagai sebuah status Kejadian Luar Biasa (KLB). Polisi pun lantas mengambil langkah tegas. Untuk menghentikan peredaran miras oplosan yang membuat puluhan orang meregang nyawa, melalui Operasi Cipta Kondisi, polisi menggelar razia miras ilegal.

Kapolda maupun Kapolres di seluruh Indonesia diperintahkan untuk menangani kasus ini. Pelaku pembuat, distributor maupun penjual miras oplosan di wilayah mereka masing-masing harus ditangkap. Yang dinilai kurang serius dalam memberantas kasus minuman keras oplosan akan dicopot.  "Saya perintahkan untuk membuat kasus ini berhenti, artinya mengungkap hingga akar-akarnya, dari pelaku dan distributornya, sampai yang punya skenario dan lain-lain," tegas Syafruddin di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Rabu (11/4/2018).

Merespon peristiwa tersebut, Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Idham Azis mengaku telah membentuk tim khusus untuk memberantas miras ilegal di wilayah Polda Metro Jaya. "Secara intens saya sudah bentuk tim di masing-masing Polres (wilayah hukum Polda Metro Jaya-red) untuk melakukan operasi miras," kata Idham Azis kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (17/4/2018).

Ketegasan aparat memang diperlukan. Sebab setiap kejadian selalu ada hukum kausalnya, hukum sebab akibatnya. Bukan tanpa sebab jika miras oplosan begitu marak dan seolah berdigjaya merenggut nyawa anak manusia. Sejumlah pengamat menyebut,  mewabahnya miras oplosan itu diakibatkan masih lemahnya dan kurang tegasnya aparatur hukum.

Ketua Asosiasi Ilmuwan dan Praktisi Hukum Indonesia (Alpha) Azmi Syahputra kepada Antara di Jakarta, Senin malam, 16 April 2018 mengatakan, aparatur hukum setingkat unit kepolisian yang berfungsi sebagai mitra kamtibmas yang sering berkeliling di tengah masyarakat sebenarnya sudah tahu. "Namun, karena seolah 'saling diam', jadi kurang peduli dengan fungsinya sebagai penegakan hukum atau harus berfungsi preventif dari sebuah peristiwa di masyarakat," kata pengajar Fakultas Hukum Universitas Bung Karno ini.

Menurut Azmi, selain memperkuat fungsi peran lingkungan masyarakat, langkah yang tepat adalah memberikan hukuman maksimal agar sistem peradilan pidana optimal dan sinergis sehingga ada kesatuan tindakan yang sama antara polisi, jaksa, dan hakim. Selain itu, agar pelaku penjual dan produsen miras oplosan dihukum setinggi-tingginya supaya jera.

Pasalnya, keberadaan minuman oplosan itu sangat membahayakan keamanan nasional dan terkait dengan kualitas sumber daya manusia Indonesia, "Maka diperlukan hukuman maksimal ditambah dakwaan yang berlapis dan optimal dari ancaman pembunuhan berencana, menjual tanpa izin, manipulasi pajak. Jerat pula dengan undang-undang pangan," ucap Azmi.

Idham sendiri seperti membantah pernyataan di atas. Setidaknya, pemimpin Polda Metro Jaya ini telah membentuk 15 satgas, dua satgas Polda dan 13 satgas di polres-polres untuk terus melakukan razia dan operasi miras.

Selama Operasi Berantas Miras periode Maret-April 2018, ada 180 orang diamankan, karena diduga terlibat dengan penjualan minuman keras (miras) oplosan atau ilegal. Dari 180 orang yang diamankan di 148 lokasi tersebut, polisi juga menyita puluhan ribu miras oplosan.

"Dari 180 tersangka ini dilakukan penyitaan miras di 148 TKP (tempat kejadian perkara), seluruh Metro Jaya dan sekitarnya. Dengan hasil kurang lebih 39.000 botol berbagai jenis minuman, miras baik dalam bentuk jerigen, galon, plastik serta botol-botol Aqua," tutur Idham.

Total barang bukti sebanyak 39.834 miras tersebut, terdiri dari 34.151 miras dalam bentuk botol, kemudian 661 miras oplosan, ciu 2.054 botol, anggur 2.933 botol, alkohol/etanol 31 jerigen, cap tikus empat kantong besar dan lain-lain 281 botol.
 
Idham Azis pun mengimbau kepada masyarakat agar tidak mengonsumsi miras oplosan. Karena, banyak dampak negatif jika mengkonsumsi miras tersebut. "Saya mengimbau kepada masyarakat, sesuai juga dengan agama kita, yang kita anut kan tidak boleh minum minuman keras, minuman keras itu akan merusak bumi kita, akan merusak juga tatanan sosial," begitu kata  Idham di Mapolda Metro Jaya, Jumat (20/4/2018).

Editor : Wulandari Saptono