• News

  • Gayahidup

Mengapa Menggunakan Handphone Dilarang di Pesawat

Penggunaan ponsel di dalam pesawat diatur dalam undang-undang. (Ilustrasi: Lifewire)
Penggunaan ponsel di dalam pesawat diatur dalam undang-undang. (Ilustrasi: Lifewire)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Beberapa waktu lalu pernah terdengar Kepala Dinas Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Bangka Belitung (Babel), Zakaria Umar Hadi, menjadi tersangka atas kasus pemukulan pramugari Sriwijaya Air.

Hal ini berkaitan dengan kejadian penggunaan telepon genggam handphone (HP) didalam pesawat. Apa dan bagaimana sebenarnya masalah aturan main dari penggunaan HP di pesawat terbang, bagaimana kita menegakkan aturan di pesawat. 

Mantan pilot Teddy Sukarno menjelaskan, contoh yang sederhana adalah, dalam kegiatan sehari-hari dijalan raya.  Setiap saat selalu menyaksikan pelanggaran rambu lalu lintas oleh para pengguna jalan. Gambaran tersebut telah mewakili semua bahwa dengan jujur harus diakui bahwa di negeri ini memang masalah penegakkan aturan sangat lemah. 

Demikian pula yang terjadi dengan insiden pemukulan pramugari terkait dengan penggunaan HP di pesawat terbang. Aturannya dengan gamblang menyebutkan bahwa dilarang menggunakan HP di dalam pesawat terbang. Hal ini jelas sekali seperti tertuang dalam Undang-undang nomor 1 tentang Penerbangan tahun 2009 pada pasal 54 ayat F, yaitu penggunaan HP di pesawat terbang dilarang dan ancaman hukumannya adalah kurungan selama 1 tahun dan denda sebesar 200 juta rupiah. 

Nah, jadi sebenarnya persoalannya menjadi sangat sederhana yaitu pemakaian HP di pesawat tidak dapat dibenarkan. 

Menurut Teddy, berbahaya atau tidak, sekali lagi pada dasarnya penyebab utama dari insiden tersebut adalah akibat dari lemahnya penegakkan aturan, dalam hal ini di dunia penerbangan kita. Apabila pelaksanaan penegakkan aturan tidak segera dilakukan dengan baik, maka dipastikan kejadian serupa akan berulang kembali. Ketegasan Maskapai Penerbangan, menegakkan aturan, dalam hal ini melarang dengan tegas para penumpangnya menggunakan HP harus bisa ditegakkan. 

Bila tidak Kementerian Perhubungan, dalam hal ini sebagai pemegang Otoritas Penerbangan Nasional harus turun tangan mengambil tindakan menjatuhkan sanksi dengan efek jera. 

Mengapa dilarang dalam konteks persiapan untuk berangkat terbang, ada banyak kegiatan yang harus dilakukan oleh para awak pesawat dan para teknisi. Saat penumpang memasuki pesawat (boarding) sebelum take off, itu adalah sebagian dari kegiatan persiapan terbang yang tengah dilakukan.

Teddy menambahkan, bisa dibayangkan, apabila penumpang tidak dilarang menggunakan HP, maka yang terjadi adalah sebagian besar penumpang akan memakai HP pada saat kegiatan boarding. Hal ini jelas akan sangat mengganggu kegiatan dari persiapan terbang yang tengah dilakukan. Saat penjelasan mengenai prosedur keadaan darurat, dalam hal penggunaan HP dilarang saja, banyak penumpang yang tidak memperhatikan. Dapat dibayangkan bila tidak dilarang, mungkin yang terjadi adalah selama penjelasan tersebut, semua penumpang sibuk dengan HP-nya masing-masing. Jadi dari segi kegiatan persiapan terbang saja, sebenarnya penggunaan HP akan sangat mengganggu proses itu. 

Dari sisi teknis, penggunaan HP sangat berpotensi mengganggu operasi penerbangan. HP adalah sebuah alat yang dikenal sebagai “transceiver” yaitu peralatan yang dapat berfungsi sebagai pemancar (transmit) dan juga menerima (receive). Proses memancar dan menerima dari sebuah HP adalah menggunakan gelombang radio atau elektro-magnetik energi. 

“Jadi bisa dibayangkan bila dalam satu pesawat ada seratusan penumpang menggunakan HP nya maka betapa pancaran gelombang radio tersebut akan beraktifitas dalam ruang yang relatif sempit didalam pesawat. Pesawat terbang sendiri banyak menggunakan peralatan komunikasi dan navigasi yang menggunakan gelombang radio,” tutur Teddy pada Netralnews, belum lama ini. 

Dalam proses perkembangan produksi pesawat telah ditemukan betapa peralatan-peralatan di pesawat yang menggunakan gelombang radio tersebut telah saling mengganggu satu dengan lainnya. Itu sebabnya, semua peralatan komunikasi dan navigasi di pesawat yang menggunakan eleketro-magnetik energi, dalam proses instalasinya di pesawat, harus melalui proses sinkronisasi. Hal tersebut adalah bertujuan agar tidak terjadi saling mengganggu atau “distorsi” pada peralatan di pesawat yang menggunakan gelombang radio. Penggunaan HP di pesawat sangat berpotensi mengganggu peralatan komuniksai dan atau navigasi pesawat yang menggunakan elektro-magnetik energi.

Sekali lagi ditekankan disini berpotensi mengganggu, jadi sebenarnya pelarangan penggunaan HP adalah satu tindakan pencegahan semata. Bagaimana dengan telepon di Pesawat? Berlawanan dengan pelarangan HP di pesawat, maka justru pada beberapa Maskapai penerbangan disediakan fasilitas penggunaan telepon di dalam pesawat terbang. Belakangan ini, tidak sekedar HP akan tetapi juga, beberapa Maskapai menyediakan layanan WIFI onboard.

Untuk hal ini, maka penggunaannya telah diatur yaitu tidak pada kesempatan Take Off dan Landing. Instalasi peralatan elektronik ini pun telah melalui proses sinkronisasi sehingga, HP maupun WIFI onboard tersebut tidak akan mengganggu peralatan elektronik yang ada di pesawat. 

Moda “Airplane Mode” di HP Pada HP kerap ada pula yang dilengkapi dengan moda “Airplane”. Dengan menempatkan HP di “Airplane mode” maka artinya adalah HP tersebut tidak akan memancarkan gelombang radio atau elektronik magnetik energi. Artinya adalah, bahwa HP tersebut berada pada posisi tidak bisa dipakai untuk menelepon dan juga sekaligus tidak bisa menerima panggilan telepon. Jadi….aman.

Kesimpualannya adalah, penegakkan aturan harus dilakukan dengan tegas, terus menerus, tanpa pandang bulu, Apabila ada pelanggaran harus ditindak sesuai aturan yang berlaku. Dalam Hal HP, aturannya sudah sangat jelas. Lakukan dan tegakkan aturan tersebut, dipastikan tidak akan ada lagi yang berani melanggar. Bayangkan, satu tahun kurungan dan denda Rp200 juta..

 

Editor : Sulha Handayani