• News

  • RS Corner

UMR ''Killer'' Ekonomi vs GHL Pilar Ekonomi

Illustrasi aksi buruh menolak upah murah
istimewa
Illustrasi aksi buruh menolak upah murah

Oleh: Ricky Sutanto

SAYA banyak menyaksikan realitas kehidupan buruh dan karyawan di lapangan yang memprihatinkan dengan upah minimum regional ( UMR) atau upah minimum provinsi (UMP) yang sangat kecil.

Contohnya, kita sering menyaksikan karyawan fast food  yang dengan sigap melayani konsumen rumah makan cepat saji itu. Dengan penampilan rapi, ramah, dan senyum mereka mengantar makanan ke meja konsumen.

Tetapi, miris ketika jam istirahat atau makan siang buat mereka, umumnya mereka tidak ikut makan di rumah makan tempat bekerja. Mereka turun atau keluar mencari warung Tegal (warteg) atau semacamnya di pinggir jalan atau lorong pertokoan.

Mengapa? Karena gaji mereka tidak cukup kalau tiap hari kerja makan di restoran tempat kerjanya. Mereka memilih warteg yang memungkinkan mendapatkan harga makanan Rp 9.000 sampai Rp 12.000.

Itu hanya salah satu contoh. Bagaimana dengan buruh pabrik atau karyawan perusahaan lainnya? Kalau tidak, gaji mereka habis buat makan, tidak ada sisa dibawa pulang ke rumah.

Kondisi yang memprihatinkan itu terjadi bukan karena takdir, tetapi karena salah manajemen atau salah kaprah. Para pengusaha yang mempekerjakan buruh tidak melihat mereka sebagai aset yang bisa meningkatkan produktivitas. 

Demikian pula penguasa, tidak punya regulasi atau sistem yang bisa menciptakan keadilan bagi rakyat, termasuk para buruh atau karyawan.

Itu  sebabnya, saya mengajak semua pihak terutama para pengusaha dan penguasa untuk merenungkan bagaimana caranya bangsa Indonesia tercinta ini bangkit. Bangsa ini harus bangkit untuk merebut 50 besar Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.

Gross Domestic Product atau Produk Domestik Bruto (PDB) adalah sebuah indikator ekonomi untuk mengukur total nilai produksi yang dihasilkan oleh semua Orang dan Perusahaan (baik lokal maupun asing) didalam suatu Negara. Singkatnya, GDP bisa dibilang sama dengan Total Pendapatan suatu Negara

Pada akhir tahun 2014, The World Bank merilis daftar negara terkaya yang dilihat dari jumlah pendapatan nasional bruto per kapita pada tahun 2013. Daftar tersebut menempatkan Luksemburg pada posisi pertama, Norwegia pada posisi kedua, dan kemudian Qatar pada urutan ke tiga (bursanom.com/negara-terkaya-di-dunia).

Dari 100 daftar negara terkaya tersebut, hanya ada empat dari negara ASEAN, yaitu Singapura (urutan 9), Brunei Darussalam (25), Malaysia (66), dan Thailand (92). Ada pun Indonesia berada pada urutan ke-118 dengan GDP Perkapita sebesar US$ 3.475. 

Artinya, rata-rata penduduk negara kita berpenghasilan sebesar Rp 45.175.000 (kurs Rp 13.000 saat itu) setiap tahunnya. Maka setiap bulan penghasilan penduduknya rata-rata Rp 3.764.583 atau sekitar Rp 3,7 juta per bulan.

Gaji Layak Rp 6 Juta/Bulan

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, jumlah penduduk bekerja pada Februari 2015 telah mencapai 120,8 juta orang, atau bertambah sebanyak 6,2 juta orang dibanding keadaan Agustus 2014. Sementara bila dibandingkan dengan keadaan Februari 2014, jumlah penduduk bekerja pada Februari 2015 menunjukkan pertambahan 2,7 juta orang.

Kepala BPS Suryamin kepada pers Mei 2015 mengemukakan, secara keseluruhan pada Februari 2015 jumlah angkatan kerja Indonesia tercatat 128,3 juta orang, atau bertambah 6,4 juta orang dibanding Agustus 2014.

Nah, coba bayangkan kalau Rp 6 juta kali 128,3 juta sama dengan Rp 768,8 triliun bergulir di pasar setiap bulan atau Rp 9.237,6 triliun setahun, 4.59 kali melampau APBN. 

Saya percaya pertumbuhan ekonomi kita bisa 2 digit. Mungkin pengusaha dan penguasa selama ini salah kaprah, menekan gaji saama dengan menekan pertumbuhan ekonomi.

Sadarlah wahai kaum penguasa dan pengusaha buruh dengan UMR bisa melumpuhkan ekonomi, buruh dengan GHL mampu membangkitkan pertumbuhan ekonomi dengan 2 digit. "Kau picik kau cekik diri sendiri, kau murah hati kau makmur sejati"

Dengan hati keadilan, arif dan semangat sila ke 5 Pancasila GHL akan mampu mendongkrak roda pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Buruh jangan diinjak, tapi dibijak! dan Indonesia bangkit merata.

Tiongkok maju, karena memiliki 130 juta keluarga yang mampu beli rumah dan mobil. Hmm, ini serius dan fakta, namun implementasinya harus disadari pengusaha dan penguasa. God bless Indonesia. Amen.

Penulis adalah pengusaha nasional, mantan calon presiden 2014 dari PKPI dan penulis buku Kita Terkaya No. 5 Tahun 2015

Editor : Marcel Rombe Baan