• News

  • Editor's Note

Regenerasi, Kunci Menuju Prestasi

Parade kontingen Indonesia Olimpiade 2016
Parade kontingen Indonesia Olimpiade 2016

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Regenerasi. Kata yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan publik menyusul keberhasilan kontingen Indonesia di ajang Olimpiade 2016 yang meraih satu medali emas dari cabang bulutangkis melalui ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan dua medali perak lewat lifter Sri Wahyuni dan Eko Yuli Irawan.

Kata regenerasi ini pula yang sempat disentil Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menyambut kedatangan kontingen Indonesia di Istana Merdeka, Rabu (24/8/2016) lalu. Jokowi mengakui prestasi di Rio de Janiero bukanlah hasil yang instan.

Karenanya, “Ke depan, kita harus menata perencanaan dengan baik, fokus, dan memprioritaskan pada cabang-cabang olahraga yang mempunyai prospek merebut medali, baik di ajang Olimpiade maupun Asian Games,” ujar Jokowi.

Melihat ke belakang, sebelum Susi Susanti dan Alan Budikusuma mengukir rekor sebagai atlet pertama Indonesia yang meraih medali emas di ajang Olimpiade (1992), sejatinya Indonesia sempat “berencana” meraih emas di dua Olimpiade sebelumnya.

Pada Olimpiade 1984 di Los Angeles, sprinter Muhammad Purnomo mengukir sejarah sebagai atlet Asia pertama yang menembus babak semifinal 100 meter putra. Tim estafet 4x100 putra pun sempat menoreh hasil yang sama.

Barulah empat tahun kemudian di Seoul (1988), tim panahan putri yang terdiri dari Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, dan Kusuma Wardhani, nyaris menyentuh emas. Kalah dari tim putri Korsel, Indonesia harus puas dengan raihan perak, medali pertama di ajang Olimpiade.

Setelah era Susi dan Alan, prestasi Indonesia di Olimpiade menunjukkan grafik yang menurun. Hanya satu emas yang bisa direbut pebulutangkis Tanah Air di empat ajang berikutnya. Bahkan, di Olimpiade 2012, tak ada satu emas pun yang bisa direbut. Saat itu, pamor Indonesia masih dapat diselamatkan para lifternya, Triyatno dan Eko Yuli Irawan,  yang menyabet 1 perak dan 1 perunggu.

Rapor kontingen Indonesia di Olimpiade tampaknya tak terlalu jauh dengan naik-turunnya prestasi di ajang regional: Sea Games dan Asian Games. Di ajang Sea Games, Indonesia kembali menjadi pengumpul medali emas terbanyak saat menjadi tuan rumah di Palembang 2011.

Namun, keberhasilan saat itu lebih banyak disebabkan dipertandingkannya sejumlah nomor non-Olimpiade yang menjadi lumbung medali bagi kontingen Indonesia, semisal sepatu roda, pencak silat, dan panjat tebing. Buktinya, di dua event berikutnya yang digelar di Myanmar (2013) dan Singapura (2015), posisi Indonesia kembali menurun, hanya mampu meraih peringkat keempat dan kelima.

Setali tiga uang dengan rapor Tim Merah Putih di kancah Asian Games. Sejak 1990 di Beijing, menempati posisi tujuh besar, prestasi Indonesia dalam klasemen medali terus anjlok. Yang terburuk, saat Asian Games digelar di Doha (2006).  Saat itu, Indonesia hanya mampu meraih dua medali emas melalui Taufik Hidayat (bulutangkis) dan Ryan Leonard Lalisang (bowling). Posisi Indonesia turun ke peringkat ke-22.

Di mata para pengamat dan mantan atlet, turunnya prestasi Indonesia disebabkan tidak adanya regenerasi di cabang-cabang olahraga yang selama ini menjadi andalan, seperti bulutangkis, angkat besi, panahan, dan atletik. “Salah satu caranya memopulerkan kembali bulutangkis. PBSI dan pemerintah harus bekerja keras menggalakkan kembali minat bulutangkis pada masyarakat,” ujar Susi memberi contoh.

Pernyataan itu memang benar adanya. Peran aktif pemerintah menjadi faktor yang sangat berperan dalam mengembangkan olahraga yang berprestasi. Bukan rahasia, selama ini pemerintah dapat dikatakan tidak terlalu memperhatikan masa depan atlet yang terbukti telah berprestasi dan mengangkat nama dan martabat bangsa di kancah internasional. Bahkan, tidak sedikit mantan atlet yang dulu berprestasi harus bekerja keras membanting tulang untuk menghidupi keluarganya.

Untuk itu, kebijakan Presiden Jokowi yang akan membentuk yayasan pendanaan olahraga patut diapresiasi. Selain untuk memberikan bantuan dan pendampingan demi pembinaan olahraga serta regenerasi atlet yang berpestasi, yayasan dimaksud juga dibentuk untuk menjamin masa depan atlet.

Adanya langkah pemberian bonus miliaran rupiah dan tunjangan hari tua—puluhan juta per bulan—bagi atlet yang berprestasi diharapkan dapat mengubah mindset masyarakat terhadap olahraga. Tujuannya, demi mengibarkan Merah Putih dan mengumandangkan “Indonesia Raya”.

Editor : ME Gunawan