• News

  • Editor's Note

Partai Sakit, Bangsa Ikut Sakit


terbitsport.com

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS.COM- Bangsa atau negara dapat diibaratkan sebagai tubuh. Tubuh terdiri dari bermacam-macam anggota tubuh. Tetapi semuanya satu tubuh. Negara juga satu tubuh yang terdiri dari macam-macam unsur, seperti politik, hukum, pendidikan dan banyak lagi. Semuanya membentuk bangsa yang satu, negara yang satu.

Di bawah politik, terdapat banyak partai politik yang menjadi pilar bagi tumbuhnya demokrasi. Negeri tanpa banyak partai, bukanlah negeri demokrasi. Kita adalah negara demokratis dengan sekian partai. 

Seperti tubuh, kalau ada bagian anggota tubuh yang sakit, maka rasa sakit itu tidak hanya dirasakan oleh anggota tubuh, tapi dirasakan oleh seluruh tubuh. Gigi yang sakit tak hanya dirasakan oleh gusi atau mulut, tapi seluruh tubuh. 

Saat ini irama politik kita jadi tersendat karena dua partai besar kita, Golkar dan PPP masih menghadapi masalah. Sebagai partai tua dan berpengalaman, kedua partai ini adalah aset bangsa. Namun justru keduanya sedang menghadapi masalah pelik, terjadi dualisme kepengurusan yang susah  didamaikan.

 Untuk sementara pengurus Golkar Bali dan Jakarta sudah bisa duduk bersama setelah pemerintah menghidupkan kembali DPP Golkar hasil Munas Riau tahun 2009.  Tidak ada lagi kubu Bali dan Jakarta. Rencananya munas akan diselenggarakan April 2016 ini. Namun bayang-bayang putusan MA yang terkait dengan perselisihan kedua kubu bakal keluar. Bila salah satu kubu menang,   maka bukan mustahil konflik partai itu bisa meletus lagi. 

Di PPP kini muncul kubu Emron Pangkapi dan kubu Djan Faridz hasil Muktamar Jakarta 2014. Pemerintah telah mengakui kepengurusan DPP hasil Muktamar 2011 Bandung. Dengan pengakuan ini, mestinya kubu PPP hasil muktamar Surabaya  pimpinan M Romahurmuziy dan kubu Djan Faridz bisa bersatu. Nyatanya belum.

Masalah di kedua partai ini tentu tak bisa dipandang hanya sebagai masalah internal keduanya. Ibarat anggota tubuh yang sakit, kedua partai ini bisa dibilang sedang “sakit”. Rasa sakit itu jelas ikut dirasakan oleh bangsa dan negara juga. Ikut dirasakan oleh seluruh rakyat. Paling tidak proses politik jadi ikut terhambat. Kesertaan kedua partai ini bisa terhambat dalam menghadapi pilkada 2017 mendatang bila “sakit” itu tidak segera diobati.

Kita berharap politisi kedua partai lebih mengutamakan bangsa dan negara daripada ambisi pribadi atau kelompok. Rakyat sudah lelah menyaksikan konflik internal partai. Bahkan tidak hanya rakyat, kader partai juga sudah lelah melihat konflik. 

Kondisi ini hendaknya bisa dijadikan  momentum oleh para politisi dari kedua partai itu untuk melangkah dari politisi menjadi negarawan yang lebih mementingkan bangsa dan negara daripada kepentingan diri sendiri dan kelompok. Ingat, partai sakit, bangsa ikut sakit pula. 

  

 

Penulis : Willy Hangguman
Editor : Willy Hangguman