• News

  • Editor's Note

Kabinet Gaduh, Apa Kata Dunia  

Presiden Joko Widodo
jadiberita.com
Presiden Joko Widodo

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS.COM- Kabinet itu pada hakikatnya bak simfoni. Simfoni terdiri dari berbagai jenis alat musik, namun dalam keberagamannya justru menghasilkan musik yang indah. Kabinet kita juga seperti simfoni. Banyak menteri, tetapi kinerjanya membuat publik puas.

Tapi apa yang terjadi belakangan ini jauh panggang dari api. Ada menteri bukannya jadi pemusik yang mendukung simfoni, tetapi lebih suka menjadi pemain solo, meninggalkan simfoni kabinet. Berkicau sendiri di ranah publik, bukan di dalam sidang kabinet. Bahkan silang pendapat itu tampil di depan panggung publik. Inilah yang membuat kegaduhan. 

Silang pendapat itu terjadi berkiatan dengan sejumlah isu berkaitan dengan masalah strategis seperti pengolahan gas Blok  Masela di Maluku, kebijakan impor beras, pembangunan listrik 35.00 megawatt dan kereta api cepat Jakarta Bandung.

 Kenapa kegaduhan itu terjadi? Sebuah simfoni jadi kacau kalau para pemainnya tidak tunduk pada konduktornya. Tidak hanya itu. Antarpemain juga harus ada chemistry. Dalam  soal kegaduhan di tubuh kabinet itu, chemistry itulah yang tampaknya belum terbentuk dengan baik. Akar latar belakang menteri yang berbeda-beda itu bukan mustahil membawa kepentingan yang bermacam-macam pula. 

Padahal, ketika seseorang dipilih presiden menjadi menteri, ia sudah harus segera meninggalkan kepentingan pribadinya, kepentingan golongan, dan juga kepentingan partai politik yang jadi rumah politiknya. Sejak saat itu, ia harus menjadi mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negara, bermetamorfosa jadi negarawan. 

Kegaduhan antara menteri di kabinet dapat berdampak tidak baik terhadap Presiden Joko Widodo. Rencananya Presiden akan segera memanggil menteri yang  bersilang pendapat dan meminta penjelasan dari para menteri yang terlibat polemik. Penegasan Presiden “yang penting semua (menteri) harus satu visi dengan Presiden” tidak cukup untuk meredam kegaduhan atau silang pendapat untuk menteri-menterinya. Saat ini Presiden Joko Widodo memang jadi penyatu para menteri yang jadi pembantunya di kabinetnya. 

Banyak pihak menyayangkan terjadinya silang pendapat antara menteri yang muncul di ranah publik. Ketua DPR Ade Komarudin, misalnya, mengatakan, perbedaan pendapat di antara menteri itu wajar. Itu bagian dari dinamika. Akan tetapi beda pendapat itu harus tertib, dan terjadi di ruang rapat atau sidang kabinet, bukan di ruang publik. 

Di tengah situasi yang berat saat ini, kita berharap Presiden dan menterinya makin kompak. Kebersamaan itu dapat meningkatkan kinerja kabinet. Silang pendapat di depan publik dapat mengurangi kepercayaan publik terhadap pemerintah. 

Presiden telah membawa kultur baru, revolusi mental. Dan itu harus dimulai dari lingkungan terdekat Presiden, yaitu menteri-menterinya yang benar-benar mau bekerja untuk melayani kepentingan rakyat dan negara. Kabinet ini mestinya sibuk kerja, kerja dan kerja. Bukan berpolemik di antara anggotanya. Jika mereka tetap gaduh, apa kata dunia.

 

 

Penulis : Willy Hangguman
Editor : Willy Hangguman