• News

  • Ekonomi Makro

Indonesia Bisa Tergantung dengan Impor Migas

Focus Group Discussion (FGD) Konsorsium Riset Migas Kelautan yang melibatkan pemerintah, DPR, akademik, dan swasta di Depok, Jawa Barat, Rabu (7/9/2016). (Netralnews.com/Martina Rosa Dwi Lestari)
Focus Group Discussion (FGD) Konsorsium Riset Migas Kelautan yang melibatkan pemerintah, DPR, akademik, dan swasta di Depok, Jawa Barat, Rabu (7/9/2016). (Netralnews.com/Martina Rosa Dwi Lestari)

DEPOK, NETRALNEWS.COM - Upaya peningkatan produksi migas tidak terlepas dari upaya penemuan cadangan migas, upaya peningkatan produksi tersebut dilakukan karena adanya penurunan produksi minyak, salah satunya diakibatkan karena aktifitas pemboran sebagai dampak penurunan harga minyak.

Saat ini telah dibentuk lembaga pemerintah bernama Komite Eksplorasi Nasional (KEN) yang bertugas untuk mempercepat temuan baru yang memiliki berbagai program yang di rekomendasikan. Jika dikaji kebanyakan temuan di Indonesia bagian Barat berasal dari petroleum system yang terdapat pada cekungan Era Kenozoikum (Cekungan Tersier).

Sedangkan, kemungkinan pada Era Mesozoikum yang berumur lebih tua belum banyak dipelajari dan dinilai tidak ekonomis. Namun belakangan, ada kajian keberadaan hidrokarbon pada Era Mesozoikum menjadi salah satu terobosan menarik dan mendesak untuk ditindaklanjuti.

Untuk dapat merealisasikan program tersebut perlu diadakan Focus Group Discussion (FGD) Konsorsium Riset Migas Kelautan yang melibatkan pemerintah, DPR, akademik, dan swasta untuk dicantumkan dalam program 2017 yang segera harus ditetapkan. 

Dewan Energi Nasional, Andang Bachtiar mengatakan, kebutuhan Indonesia akan minyak lebih dari 50% dan 90% untuk gas, jika kebutuhan itu tidak terpenuhi, Indonesia akan tergantung dengan impor migas. Maka dengan adanya konsorsium ini diharapkan riset dan solusi yang baik ke depannya.

''Setelah konsorsium ini juga akan kembali diadakan pembahasan pendanaan, kemudian persiapan hingga diawal tahun 2017 dapat dimulai (7/9/2016). Hal ini sejalan juga dengan kegiatan eksplorasi biogenik gas yang memiliki nilai ekonomis.

Ada pun tujuan dari konsorsium ini adalah menghimpun langkah-langkah nyata dalam rangka mempercepat temuan baru dan masukan yang konstruktif mengenai percepatan eksplorasi tersebut. Di mana terbentuknya Konsorsium Riset Migas Kelautan sebagai wadah untuk merealisasikan percepatan penemuan lapangan migas baru di lepas pantai Indonesia Bagian Barat.

"Konsorsium pernah digagas 10 tahun yang lalu dan sempat berjalan hanya selama 3 tahun, lalu dengan berbagai perubahan baru terpilihnya presiden Jokowi yang meementingkan negara maritim akhirnya konsorsium ini kembali lagi,"tambah Andang Bachtiar yang menjadi moderator FGD.

Anggota DPR Satya Yudha juga berharap agar tim dapat bekerjasama dan bersinergi untuk membedah apa yang dicita-citakan bersama dapat tercapai.

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Marcel Rombe Baan