• News

  • Ekonomi Makro

Ini Alasan Mengapa Kilang LNG Blok Masela Harus di Darat

Ilustrasi Blok Masela (sindonews.com)
Ilustrasi Blok Masela (sindonews.com)

JAKARTA, NETRALNEWS - Keberadaan Blok Masela tidak hanya sekadar urusan bisnis semata, tetapi jauh dari itu, sangat terkait dengan perbatasan negara dan kedaulatan NKRI. Karena itu, untuk memastikan blok Masela berada dalam kendali dan kuasa penuh pemerintah Indonesia, maka kilang LNG tersebut harus dibangun di darat.

“Oleh karena itu, keberadaan Masela sebagai batas nyata kedaulatan wilayah laut harus dikuasai oleh pemerintah Indonesia melalui pembangunan kilang di darat. Hal yang sama dengan industri migas di Kepulauan Natuna yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan,” ujar mantan Penasehat Ahli Kepala BPMigas Bidang Komunikasi, AM Putut Prabantoro, di Jakarta, Senin (29/2/2016) malam.

Putut menjelaskan, Blok Masela yang terletak di Laut Arafura itu miliki posisi sangat strategis karena berbatasan langsung dengan Australia. Blok tersebut  adalah penanda batas nyata atas garis maya batas laut Indonesia dan Australia.

Dalam ilmu kemaritiman, kata Putut, batas wilayah laut adalah garis maya yang tidak bisa dikuasai dan hanya bisa dikendalikan. 

“Karena Masela terletak pada garis maya laut, batas wilayah Indonesia itu menjadi nyata ketika Blok Masela berdiri, sehingga harus dikuasai,”ujarnya.

Menurut Putut, penguasaan atas wilayah laut dan batas maya laut itu akan semakin nyata jika kilang Blok Masela berada di daratan.

Namun bila dibangun di laut, maka Indonesia akan kesulitan mengendalikan batas wilayah tersebut. Hal itu terkait dengan jarak dan teknologi Indonesia ketika dibandingkan dengan teknologi Australia, Jepang ataupun Belanda.

Industri migas merupakan industri jangka panjang. Dalam industri migas di Indonesia, efek domino pembangunan migas hanya bisa terjadi jika wilayah kerjanya terdapat di daerat. Efek domino kesejahteraan tersebut tidak mungkin terjadi jika kilang dibangun di laut.

Bahkan, kata Putut, tidak tertutup kemungkinan jika supporting field  Blok Masela bisa saja dipindahkan  ke Australia dengan berbagai alasan.

“Blok Masela itu jika dari Kupang berjarak 800 Km, bandingkan dengan jarak Blok Masela ke Darwin, Australia yang hanya 400 km. Kalau di laut bagaimana akan dikendalikan blok dan kilangnya? Kalau kilang di darat pasti akan lebih mudah menguasai bloknya yang merupakan batas nyata Australia dan Indonesia. Selain itu juga jelas efek dominonya.  Effek domino bagi industri migas di Indonesia menduduki peringkat kedua setelah industri hulunya,”ujarnya.

Terkait polemik pembiayaan, kata Putut, hal itu tidak penting dan strategis untuk diperdebatkan. Pasalnya, pembiayaan operasional Blok Masela dan kilangnya berdasarkan skema cost revovery. Itu berarti, semua biaya menjadi beban negara Indonesia.

“Jadi tidak penting untuk berdebat soal murah atau mahal karena tetap negara yang membayar. Yang paling penting adalah, apakah kedaulatan wilayah RI akan terjaga jika kilang LNG di laut. Apakah efek domino akan terjadi jika kilang dibangun di laut,”ujar penulis buku “Migas – The Untold Story” ini.

Penulis : Very Herdiman
Reporter : Very Herdiman
Editor : Firman Qusnulyakin