• News

  • Gaya Hidup

Akhirnya Konser Majapahit Ananda Sukarlan Bakal Ditayangkan Malam Ini

  Akhirnya konser Majapahit Ananda Sukarlan bakal ditayangkan malam ini.
Dok: Ananda Sukarlan
Akhirnya konser Majapahit Ananda Sukarlan bakal ditayangkan malam ini.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Seharunys, konser "Majapahit : The Birth of Nusantara" tayang Rabu lalu 21 Oktober 2020, namun dengan alasan yang menurut Anandan mengecewakan jawabannya, akhirnya akan tayang malam ini, Minggu (25/10/2020) pukul 19.00.

“Silakan menyaksikan konser aya yang tertunda dan ini linknya, ya https://www.youtube.com/watch?v=FARK3h6yqaw
 Ananda pada Netralnews, Sabtu, (24/10/2020)

Ananda sempat menanyakan alasan pemabatan tersebut dan dijawab oleh produsernya sendiri yaitu Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru (PMMB) dibawah Kementrian Pendidikan & Kebudayaan RI dengan alasan kendala teknis. Konser ini adalah episode kedua dari seri Rapsodia Nusantara & Kejayaan Nusantara oleh Ananda Sukarlan & friends.

“Mas Nadiem tidak salah, bahkan ga tau apa-apa sampai pas waktu tayang. Dirjen Hilmar Farid malah menelpon saya segera padahal beliau itu beberapa hari ini sakit, minta maaf atas kelakuan anak buahnya yg memang error krn tidak bisa terkontrol akibat sakitnya pak Dirjen. Pak Hilmar malah tune in, masih dari tempat tidurnya dengan kondisi yang belum prima menunggu acara tersebut dan kaget dan bingung kenapa tidak tayang,” jelas Ananda.

Ananda lantas merangkum kejadian 48 jam terakhir ini, dan sekaligus merupakan "damage report" kepada mas Menteri Nadiem Makarim dan mas Dirjen Hilmar Farid, yang ditulis secara terbuka sebagai berikut.

1 - Diplomasi budaya yang gagal. Mungkin tidak banyak yang menyangka bahwa keluhan terbesar datang dari Peru, karena memang salah satu konten video ini adalah "menjodohkan" situs candi-candi budaya Majapahit dengan Machu Picchu dari kerajaan Inca di Peru yang merupakan kontemporer Majapahit abad 14-16. Saya menampilkan dua karya saya berdasarkan penyair dari Peru, Cesar Vallejo dan Jose Luis Mejia. Ingatkah anda, bahwa Peru itu beda 12 jam dengan WIB? Jadi banyak sekali orang dari Peru yang bangun untuk menonton video itu pukul 7 pagi! Nah, dengan penayangan yang dijadwalkan ulang hari Minggu besok, 25 Oktober pada saat yang sama, semoga para "Peruanos" mau ya bangun pagi-pagi hari Minggu di musim semi ini!

2 - Efek negatif mediatik
Dalam 24 jam setelah pembatalan tayang, ada 4 media yang berhubungan dengan saya. Dengan penuh tanggungjawab dan kesadaran, saya menjawab semua pertanyaan mereka bukan saja secara jujur tapi All the truth and nothing but the truth.Saya juga menyarankan mereka untuk menghubungi Direktorat PMMB untuk mendapatkan "both sides of the story".

Ternyata mereka kesulitan menghubungi Direktorat tersebut, dan baru Kamis sore, belasan jam setelah kejadian mendapatkan pernyataan dari mereka.

Masalahnya, banyak orang yang telah melihat bahwa link video tersebut SUDAH ada di YouTube, tapi setting-nya berubah menjadi "private" beberapa jam sebelum tayang, yang berarti video itu sudah siap tayang. Alasan "internet lelet" dari Direktorat PMMB tidak dipercaya banyak orang, dan saya pribadi sih kasihan dengan "anak" yang disebut bekerja dari rumah dan internetnya lelet tersebut (saat ini identitas anak ini mungkin misteri yang paling tidak terpecahkan......). Anyway, kasus ini menggulir bagai bola salju yang membesar di dunia internet.

3 - Efek psikologis. Di antara para musikus sangat berbakat yang kami ajak tampil, ada 3 orang yang berusia di awal 20-an : Rangga Suryanata (bariton) dan pianis Ayunia Indri Saputro dan Gabriella Prisca Handoko. Mereka masih dalam tahap awal karir mereka bermusik. Bisa bayangkan betapa "excited"nya mereka menunggu hari H? Bukan hanya mereka, tapi juga orangtuanya, bahkan kakek neneknya yang menunggu cucunya. Bisa bayangkan betapa kecewanya mereka?

4 - Efek negatif viewers
Ini sudah jelas. Para calon pemirsa Rabu lalu mengajak para teman mereka untuk ikut menonton untuk kemudian live chat. Bisa bayangkan hujan pertanyaan ke mereka ketika sudah beberapa menit lewat dan tidak ada apa-apa? Apakah mereka masih berani mengajak teman-teman mereka untuk nobar di jadwal baru, besok Minggu (25 Oktober) pukul 7 malam WIB? Kayaknya nggak deh ...

5 - Pemahaman kebebasan artistik dan konten sensitif
Jadi begini, saya diberitahu bahwa ada konten yang kita harus berhati-hati menayangkannya, oleh sebab itu "kami tunda dulu" kata Direktur PMMB.

Saya sudah keburu menyampaikan info ini ke beberapa wartawan, karena saya tidak diberitahu bahwa ini "off the record". Nah, justru buat saya, yang konten sensitif, bahkan menurut pemahaman nenek saya ehhhh ... saya sendiri yang berpikiran pendek dan sederhana ini adalah yang saya taruh di paling akhir di video ini. Sampai saat ini, saya tidak pernah mengalami kejadian seperti ini, di mana sang "commissioner" meminta saya untuk mengubah ideologi artistik atau genre musik saya.

Apalagi video ini dibuat dengan anggaran uang rakyat, dan bukan uang pribadi seperti halnya orang-orang yang telah meminta konser / karya saya yang dahulu, seperti Mantan Presiden RI B.J. Habibie atau Ratu Sofia dari Spanyol. Mereka meminta saya bukan atas nama negara, tapi dari uang pribadi mereka untuk kepuasan pribadi mereka. Itu pun mereka hanya menyodorkan tema dari musik yang mereka inginkan, tapi bagaimana saya mengerjakannya itu diserahkan ke penilaian artistik saya. Mereka meminta saya bukan karena "nama" saya, tapi mereka memang minta musik produk pemikiran saya tanpa sensor atau "bimbingan artistik" dari mereka, sama seperti kalau mereka memesan atau membeli lukisan, mereka tidak akan bilang "eh minta cat merahnya dibanyakin dong", misalnya.

Nah, kalau menggunakan uang negara, menurut saya (maaf jika saya salah), seorang pejabat negara tidak berhak untuk meminta genre musik yang ia pribadi suka, walaupun beliau yang memfasilitasi hasil karya tersebut. Kalau minta saya membuat konser, ya jangan hanya nama saya, tapi juga musik saya yang memang bunyinya seperti itu dong, itu sudah satu paket! Bagaimanapun juga, karena permintaan itu sudah pas di saat shooting, kami lakukan hal itu meskipun bertentangan dengan hati nurani kami, para musisi. Kurang apa lagi? Eh masih tidak ditayang!

Editor : Sulha Handayani