• News

  • Gaya Hidup

Milenial Perbanyak Tabungan dan Kurangi Investasi saat Pandemi, Emas Jadi Pilihan

ilustrasi investasi emas.
Kliring Berjangka Indonesia
ilustrasi investasi emas.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sebagian milenial mengaku memiliki instrumen investasi baru di tengah pandemi, yaitu emas. Dari riset tersebut juga didapati bahwa alokasi milenial untuk berinvestasi setelah pandemi lebih kecil apabila dibandingkan dengan alokasi sebelumnya. 

Pengurangan alokasi ini berarti milenial mencari alternatif instrumen investasi yang terjangkau dengan tetap memberikan return yang menjanjikan.

“Sebanyak 32% generasi milenial dilaporkan mencoba investasi baru yaitu emas. Ini merupakan persentase tertinggi dibandingkan dengan investasi lain yang banyak dikenal seperti reksa dana, saham, dan deposito,” ujar Humprey, VP Business Development Pluang by PT PG Berjangka, dalam pernyataan tertulis, Jumat (. 

Selain keterjangkauan harga, faktor ketidakpastian ekonomi dan juga harga emas yang sempat melambung di sekitar April-Juli 2020, diduga menjadi dorongan utama secara spesifik instrumen emas menjadi pilihan responden. 

Menurut Humprey, responden mengubah pola konsumsi mereka selama pandemi COVID-19. 53% responden mengubah alokasi mereka untuk membeli suplemen, vitamin, dan mineral lebih banyak daripada periode sebelum pandemi berlangsung.

Alokasi untuk melakukan diagnosis kesehatan dan menabung juga menjadi lebih besar. Sebaliknya alokasi untuk berlibur, menggunakan transportasi umum, menunjukan penurunan.

Tak hanya itu, COVID-19 juga berdampak pada alokasi menabung dan berinvestasi milenial. Alokasi untuk menabung mengalami sedikit peningkatan, sementara alokasi untuk berinvestasi menurun. Mayoritas responden menabung sebesar 5-10% setelah pandemi.

Milenial memiliki skor literasi finansial dan pengetahuan untuk berinvestasi yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Namun, hal tersebut tidak berarti milenial memiliki banyak produk finansial dan produk investasi.

Menabung, terutama untuk tujuan tabungan keluarga, dana emergensi, dan dana pensiun, merupakan tiga teratas target finansial responden survei. Kebutuhan untuk dana likuid untuk digunakan dalam waktu singkat terlihat lebih signifikan dibandingkan dengan kebutuhan untuk memiliki dana dalam jangka waktu lebih panjang.

Dalam mencapai target finansialnya, mayoritas responden masih memilih untuk menabung uang tunai dibandingkan dengan berinvestasi.

Humprey mengatakan untuk mencapai target keuangannya, terlihat bahwa kaum milenial lebih memilih menabung daripada berinvestasi. Sekitar 41% milenial lebih suka menabung, sementara 69% sisanya disalurkan ke jenis investasi lain. Investasi fisik seperti emas tetap menjadi yang paling diminati, diikuti oleh reksa dana dan saham.

Mayoritas responden mengalokasikan hingga 40% dari pendapatan bulanan mereka untuk menabung dan berinvestasi.

Mayoritas responden memilih risiko berinvestasi sebagai faktor yang patut dipertimbangkan sebelum memilih instrumen investasi.

“Mayoritas responden, sekitar 80% dari total, memilih emas sebagai instrumen investasi yang direkomendasikan,” ujar Humprey.

Sebagai informasi, riset dengan fokus perilaku menabung dan investasi milenial di masa normal baru ini melibatkan lebih dari 5.500 responden di kota-kota besar Indonesia. Riset tersebut dilakukan dengan survey online pada bulan Juli - Agustus 2020.

  

 

Editor : Irawan.H.P