• News

  • Gaya Hidup

Anak yang Tidak Sarapan Berisiko Obesitas

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Berita Terkait

Banyak anak yang tidak memiliki kebiasaan sarapan. Tanpa disadari, kebiasaan tidak sarapan itu justru memicu anak tumbuh dengan kelebihan berat badan atau obesitas. 

Dokter spesialis anak bidang nutrisi dan penyakit metabolik Yoga Devaera menjelaskan, anak yang tidak sarapan biasanya akan merasa sangat lapar pada jam makan berikutnya. Akhirnya, makan tidak teratur dan konsumsi makanan pun berlebihan. 

"Kalau enggak sarapan, saat jam makan selingan, porsi yang dihabiskan bisa terlalu banyak dari biasanya, total kalorinya jadi berlebih juga," ujar Yoga dalam acara Nestle Breakfast Cereals di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Sabtu (13/2/2016). 

Anak yang obesitas, bisa tetap obesitas saat dewasa jika tidak segera ditangani. Dampak jangka panjang, mereka berisiko terkena berbagai penyakit seperti diabetes tipe dua dan jantung

Yoga mengatakan, ada berbagai alasan mengapa anak tidak sarapan. Biasanya, karena waktu memulai aktivitas di sekolah yang terlalu pagi. Anak pun menjadi sering melewatkan sarapan karena terburu-buru berangkat sekolah. 

Banyak pula anak yang beralasan tidak mau sarapan karena sakit perut. Sementara itu, pada remaja biasanya melewatkan sarapan karena takut gemuk. 

"Orang melewatkan sarapan untuk menurunkan berat badan itu salah. Karena kalau tidak sarapan, saat siang justru ingin ngemil atau makan lebih banyak," ungkap Yoga. 

Untuk itu, menurut Yoga, sarapan harus dibiasakan sejak kecil. Sarapan sebaiknya dilakukan sebelum pukul 09.00 mengingat padatnya aktivitas sehari-hari. Setelah itu dilanjutkan makan selingan seperti buah-buahan pukul 10.00, kemudian makan siang. Setelah makan siang dan sebelum makan malam, sebaiknya juga ada makanan selingan. 

Untuk porsi makan, lanjut Yoga, bisa disesuaikan dengan usia anak. Sarapan sebaiknya juga memenuhi gizi seimbang. Tak hanya sehat, sarapan dengan nutrisi lengkap juga memengaruhi prestasi belajar anak di sekolah.