• News

  • Internasional

Umat Buddha Halangi Polisi Thailand Masuk ke Vihara

Umat Buddha berkumpul di depan Vihara Dhammakaya, Thailand. (ist)
Umat Buddha berkumpul di depan Vihara Dhammakaya, Thailand. (ist)

BANGKOK, NETRALNEWS.COM - Ratusan orang di vihara Buddha terbesar di Thailand menolak perintah untuk meninggalkan tempat itu, Minggu (19/2/2017), guna memberikan kesempatan kepada pihak kepolisian mencari mantan kepala vihara yang dituduh melakukan pencucian uang.

Polisi memerintahkan para pengikut meninggalkan Vihara Dhammakaya pada pukul 15.00 waktu setempat sehingga petugas bisa secara intensif melakukan pencarian terhadap mantan kepala vihara itu, Phra Dhammachayo.

Namun para pengikutnya yang menginginkan pihak berwajib itu menghentikan pengepungan memadati kompleks peribadatan seluas 400 hektare atau hampir 10 kali lipat luas Kota Vatikan itu.

Beberapa di antara mereka membawa plakat yang belum jadi dalam tulisan berbahasa Inggris dan Thailand yang meminta polisi untuk mundur dan menarik diri atas munculnya keprihatian dan bantuan dunia internasional.

Pemerintahan junta Thailand menggunakan undang-undang darurat khusus, Kamis (16/2) lalu, yang mengizinkan pihak kepolisian memeriksa Vihara Dhammakaya setelah beberapa bulan mengalami kegagalan dalam menangkap Phra Dhammacayo.

"Kami bekerja sama dengan pemerintah atas setiap langkah, namun satu langkah ini sudah terlalu jauh," kata Phra Pasura Dantamano, juru bicara vihara sekaligus bikhu senior kepada Kantor Berita Reuters.

"Kami meminta pihak berwajib untuk tidak menggunakan undang-undang darurat dan menghentikan pengepungan ini. Persediaan kebutuhan kami tinggal sedikit dan kami tanpa listrik serta air selama tiga hari," ujarnya.

Departemen Penyelidikan Khusus Thailand memerintahkan semua orang yang bukan warga setempat untuk meninggalkan tempat itu karena beberapa kegiatan di vihara menghalangi polisi dalam melakukan pencarian.

Para bikhu yang tinggal di vihara tersebut diberitahu untuk berkumpul secara terpisah.

Departemen tersebut juga memerintahkan 14 sesepuh vihara untuk menyerahkan diri kepada polisi atau menghadapi ancaman penangkapan.

Tidak seperti biasanya, vihara tersebut menentang pemerintahan militer.

Penentang dari sejumlah partai politik dan aktivis dibungkam sejak kudeta pada 2014.

Phra Dhammachayo menghadapi tuduhan melakukan konspirasi dengan pelaku pencucian uang dan menerima sejumlah barang hasil curian, demikian pula mengambil alih lahan secara ilegal untuk dibangin beberapa pusat meditasi.

Sejumlah ajudan Dhammachayo menolak tuduhan tersebut dan menganggapnya memiliki latar belakang politis.

Meskipun vihara tersebut tidak memiliki afiliasi politik dengan partai tertentu, kepala vihara itu sangat diyakini memiliki keterkaitan dengan mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra yang digulingkan pada 2006.

Pemerintah berikutnya yang dipimpin saudara perempuan Thaksin, Yingluck, juga digulingkan oleh militer pada 2014.

Pendekatan tidak elok pihak Vihara Dhammakaya untuk mendapatkan pengikut telah memicu proters dari kaum konservatif dengan mengatakan bahwa mereka mengeksploitasi umatnya dan menggunakan agama sebagai alat untuk menghasilan keuntungan finansial.

Namun pihak vihara menyatakan tetap berkomitmen terhadap nilai-nilai yang diajarkan dalam agama Buddha dalam bergaul dengan siapa pun.  

Editor : Nazaruli
Sumber : Antara