• News

  • Internasional

Setelah Sejumlah Perundingan, Boko Haram Bebaskan 82 Siswi

Presiden Nigeria Muhammadu Buhari (Nigerian Pilot)
Presiden Nigeria Muhammadu Buhari (Nigerian Pilot)

ABUJA, NIGERIA, NETRALNEWS.COM - Menyusul sejumlah perundingan, kelompok bersenjata Boko Haram membebaskan 82 dari sekira 220-an siswi sekolah yang mereka culik di Kota Chibok, kawasan utara Nigeria, sejak April 2014, demikian sejumlah pejabat setempat menyatakan, Sabtu (6/5/2017).

Para siswi tersebut dilepaskan melalui sejumlah perundingan antara Boko Haram dan pihak pemerintah, kata seorang pejabat Nigeria, yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Para penyintas itu menjadi korban penculikan di sekolah menengah Kota Chibok, yang sempat memicu perbincangan hangat mendunia melalui di Internet bertanda pagar #bringbackourgirls.

Saat itu Ibu Negara Amerika Serikat Michel Obama dan sejumlah pesohor dunia juga berkampanye untuk pembebasan sandera dari Boko Haram.

Pada Oktober tahun lalu, Boko Haram sempat melepaskan 21 siswi usai tercapainya kesepakatan dengan perunding dari Pemerintah Swiss dan Palang Merah Internasional (ICRC). Selain itu, beberapa penyintas juga sempat berhasil melarikan diri.

Sebelum pelepasan korban pada Sabtu, masih ada 195 siswi yang disekap oleh kelompok Boko Haram.

"Pemerintah akan segera mengeluarkan pernyataan resmi," kata juru bicara Pemerintah Nigeria kepada Thomson Reuters Foundation.

Pada bulan lalu, Presiden Nigeria Muhammadu Buhari dalam pernyataan resmi mengutarakan bahwa "terus memantau situasi melalui sejumlah negosiasi dan juga melalui badan intelejen lokal demi memastikan keselamatan dan dibebaskannya para siswi serta korban penculikan lainnya."

Para siswi diculik dari sebuah sekolah di Chibok, sebuah daerah kawasan utara negara bagian Boro. Di tempat tersebut, Boko Haram sudah melancarkan aksi pemberontakan untuk mendirikan negara berdasarkan apa yang mereka sebut paham agama, yang menewaskan ribuan orang dan membuat lebih dari dua juta orang mengungsi.

Editor : Hila Japi
Sumber : Antara/Reuters