• News

  • Kesehatan

Remaja Rentan Idap Anemia Gizi, Begini Cara Atasinya

Remaja rentan mengidap anemia gizi karena pola makan yang tidak teratur.
Myhealthtips
Remaja rentan mengidap anemia gizi karena pola makan yang tidak teratur.

PADANG, NETRALNEWS.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Padang, Sumatera Barat, menyebutkan anemia gizi rentan diidap anak usia sekolah sehingga remaja perlu mengatur pola makan dalam mencegahnya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes setempat Depitra Wiguna di Padang, Selasa (7/11/2017), mengatakan remaja rentan mengalami anemia gizi disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur, diet tanpa bimbingan ahli dan sering tidak sarapan.

Berdasarkan data Dinkes Padang di tahun 2016 sebanyak 679 remaja atau anak sekolah memiliki risiko anemia gizi dengan rincian SD/MI 55 orang, SMP/Mts 241 orang, dan SMA/SMK 383 orang.

Akibat dari anemia gizi dapat menyebabkan menurunnya kemampuan dan konsentrasi dalam belajar, menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan otak serta meningkatkan risiko menderita penyakit infeksi.

"Oleh karena itu pola makan perlu menjadi perhatian terutama agar memilih makanan sehat dan bergizi" tambahnya.

Pelbagai upaya dilakukan dalam rangka mengurangi anemia gizi pada remaja antara lain melakukan sosialisasi ke sekolah, intervensi melalui pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) yang ada di puskesmas.

"Di PKPR remaja bisa berkonsultasi mengenai permasalahan kesehatan pada remaja," lanjut dia.

Sebelumnya, Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB Prof Dodik Briawan mengatakan anemia merupakan masalah gizi mikro yang dialami hampir semua negara.

Jumlah penderitanya diperkirakan mencapai dua miliar orang atau sepertiga dari populasi dunia. Penderita anemia paling banyak berasal dari Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika.

Secara umum, lanjutnya, 50 persen kejadian anemia karena kurangnya asupan zat besi sehingga sering disebut Anemia Gizi Besi atau AGB. Anemia sudah dikenal sejak pertengahan abad ke-16 di Eropa dengan nama chlorosis.

Hasil penelitian mahasiswa Program Magister IPB tahun 2016 mengungkapkan bahwa estimasi kerugian ekonomi bangsa Indonesia terhadap kasus anemia mencapai Rp62 triliun atau setara dengan 0,711 persen PDB.

"Kerugian ekonomi pada anak balita dan sekolah sebesar Rp1,3 juta, remaja Rp830 juta, wanita dewasa Rp1,9 juta, dan laki-laki dewasa Rp2,8 juta per kapita per tahun," katanya.

Pemerintah telah melakukan beberapa program untuk menangani AGB, yakni melalui fortifikasi pangan, suplementasi zat besi, komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) gizi, dan peningkatan kualitas konsumsi pangan.

Editor : Lince Eppang
Sumber : Antara