• News

  • Kesehatan

Turunkan Jumlah Perokok, Ini Saran dari IAKMI

Ilustrasi perokok.
Live Strong
Ilustrasi perokok.

JAKARTA, NNC - Dewan Penasihat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia ( IAKMI) Jawa Barat yang juga merupakan pengajar di Departemen Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Dr Ardini Raksanagara mengungkapkan, sudah seharusnya Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok ketiga terbesar di dunia melihat produk tembakau alternatif sebagai inovasi dan solusi untuk menurunkan jumlah perokok dan menyelamatkan jutaan jiwa.

Kata Dr Ardini, sudah ada banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko lebih rendah. Sebut saja Inggris, Selandia Baru, Rusia, Cina dan sekarang diperkuat oleh Food and Drug Administration (FDA), sebagai lembaga yang paling ketat dalam peraturan dan menyatakan hal serupa. 

"Hasil penelitian tersebut bukan main-main, ini ada dasar ilmiahnya dan bisa dipertanggungjawabkan. Sekarang tinggal pemerintah sebagai regulator untuk melihat dan mempelajari secara seksama inovasi dari produk tembakau alternatif. Syukur-syukur jika akhirnya juga dilakukan penelitian di Indonesia untuk mengetahui hasilnya secara lebih jelas lagi, sehingga kemudian dapat merumuskan kebijakan yang terarah," terang Dr Ardini, seperti keterangan tertulis yang NNC terima, Selasa (24/4/2018).

Lebih lanjut, Dr Ardini memaparkan bahwa ada banyak jiwa yang harus diselamatkan segera dari asap rokok. Tidak hanya nyawa, pemerintah pun dapat terkurangi bebannya dalam pengeluaran biaya pengobatan untuk perokok yang jumlahnya sangat besar setiap tahunnya. 

Pernyataan ini disampaikan Dr Ardini, karena Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA, tengah melakukan penelitian lebih jauh mengenai potensi manfaat ataupun kerugian yang dibawa oleh produk tembakau yang dipanaskan, salah satunya adalah rokok elektrik. 

Komisaris FDA Scott Gottlieb sempat menyatakan bahwa FDA akan terus menjalankan rencananya dalam meregulasi level nikotin dari berbagai rokok konvensional dan meminimalisir jumlah zat adiktif dengan tujuan untuk membuat perokok berpindah dari produk rokok konvensional ke produk yang lebih rendah risiko. 

“Inovasi terkadang memang sulit untuk dapat langsung diterima. Tetapi saya yakin dengan dukungan semua pihak yang diperkuat dengan hasil-hasil penelitian yang membuktikan produk ini lebih rendah risiko, saya berharap pemerintah tidak lagi menutup mata terhadap potensi ini dan mau membuka diri untuk mempelajari potensi ini,” tutup Dr Ardini.

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Widita Fembrian