• News

  • Kesehatan

Remaja Tewas Dipatuk King Cobra, Pakar: Tak Ada Antibisanya di Indonesia

Ular jenis Cobra
Blogcobra
Ular jenis Cobra

JAKARTA, NNC - Rizki Ahmad, remaja usia 19 tahun merupakan warga Palangkaraya,Kalimantan Tengah. Dia dikenal sebagai pecinta reptil di Palangkaraya, namun alami peristiwa naas yakni dipatuk oleh King Cobra piaraanya sendiri.

Peristiwa terjadi saat kegiatan olahraga pagi di Bundaran Besar Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Minggu (8/7/2018). Warga yang olahraga dikagetkan dengan kejadian King Cobra yang melukai pemiliknya.

Menanggapi hal ini, Pakar Toksikologi Dr dr Tri Maharani MSi SpEM menjelaskan bahwa Indonesia hanya memiliki tiga antibisa (polivalen) ular, yakni bagi kasus gigitan ular kobra, ular tanah dan ular weling. Padahal di Indonesia ada sebanyak 348 jenis ular dan 76 jenis ular di antaranya berbisa.

"Antivenom atau antibisa ular Indonesia biosave atau sabu tidak mengcover (King Cobra) dan hanya mengcover bungarus fasciatus atau welang, cobra atau naja spurtatix atau ular sendok dan juga caloselesma rhodostoma atau ular tanah. Sedangkan yang bisa dipakai untuk King Cobra adalah monovalen King Cobra buatan Neuro-polyvalent snake antivenom(QSMI) Thailand dan di Indonesia memang belum teregistrasikan, sehingga belum dipakai," jelas Dr Tri pada NNC, Rabu (11/7/2018).

Lebih lanjut Dr Tri katakan, untuk semua pemain atraksi ular di Indoneaia telah menelan banyak korban. Sejak 2015, sudah ada sekitar 40 orang yang meninggal akibat atraksi terutama King Cobra.

Dijelaskan Dr Tri, bisa, yakni neurotoxin posynaptik akibat King Cobra ini dapat akibatkan kelumpuhan otot pernafasan dan kegagalan nafas serta kegagalan jantung dan fatalitas meninggal.

"Kekurang pengetahuan first aid atau penanganan awal dari gigitan ular berbisa membuat tingginya angka kejadian. Saya menganjurkan untuk ikut pelatihan RECSIndonesia (lembaga nirlaba konsultan online penanganan snakebites) dan Indonesia Toksinology untuk first aidnya," jelas Penasihat Gigitan Ular World Health Organization (WHO) ini.

Saran ini disampaikan Dr Tri, sebelum program ada dari pemerintah tentang kasus gigitan ular dan pengadaan antivenom atau antibisa untuk ular-ular yang tidak dicover Biosave Indonesia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli