• News

  • Kesehatan

Bencana Jadi Faktor Risiko Remaja Alami Perubahan Perilaku

Ilustrasi
dok.healthy
Ilustrasi

JAKARTA, NNC - Psikiater Anak dan Remaja Divisi Psikiatri Anak dan Remaja Departemen Medik Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI RSCM, Dr dr Tjhin Wiguna SpKJ(K) mengatakan, bencana menjadi salah satu faktor risiko remaja alami perubahan perilaku.

Melalui kejadian bencana, pendukung tumbuh berkembangnya remaja terdampak, struktur keluarga berubah dan dukungan teman sebaya yang dulu ada menjadi hilang. Hal ini lantas membuat rasa nyaman remaja hilang, karena yang awalnya aman tentram menjadi penuh tekanan.

"Akibat bencana, kehidupan remaja berubah dan perlu sesuaikan diri dalam masa transisi. Remaja kemudian memiliki rasa ketidakpastian sehingga galau," jelas Dr Tjin dalam acara seminar kesehatan jiwa di IMERI UI, Jumat (12/10/2018).

Sebagai contoh, dirinya pernah berkeliling dari tenda ke tenda pengungsi terdampak gempa Aceh 2004, tiga bulan seusai gempa terjadi. Banyak orang tua keluhkan, anaknya tidak mau tidur, pertama karena takut akan bencana dan memang susah tidur.

Selain itu, ada juga yang mengaku anaknya menjadi nakal. Misalnya yang dulunya tidak begadang, menjadi begadamg. Biasanya sore ikut pengajian, namun setelah bencana menjadi kerap nongkrong.

"Ada juga remaja yang jadi perokok, karena lingkup pergaulan akibat bencana jadi terbatas. Teman bergaulnya adalah orang dewasa, jadi mulai coba rokok dan sebagainya," kata Dr Tjin.

Dr Tjin juga ungkap hasil survey perilaku dan menunjukkan perilaku conduct atau perilaku remaja cenderung maladaptif pasca bencana. Sehingga ada kemungkinan bahwa bencana jadi risiko remaja alami perubahan perilaku.

"Gangguan conduct itu gangguan tingkah laku, contohnya perokok. Memang tidak bisa bilang pasti remaja akan alami gangguan conduct, namun remaja berisiko berperilaku seperti itu," terang dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya