• News

  • Megapolitan

Pabrik Miras Ilegal Ini Sehari Bisa Produksi 15 Dus Ciu

Alat berat menghancurkan barang bukti minuman keras.
NNC/Anhar Rizki Affandi
Alat berat menghancurkan barang bukti minuman keras.

JAKARTA, NNC - Jajaran Subdit Industri dan Perdagangan (Indag) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya telah menggerebek pabrik rumahan atau home industry, yang membuat minuman keras (miras) jenis ciu tanpa izin edar pada akhir April 2018 lalu. Dari hasil pemeriksaan, diketahui pabrik rumahan ini seharinya mendistribusikan 15 dus botol ciu.

"Seharinya pabrik ini bisa memproduksi 15 karton (dus-red)," kata Kasubdit Indag Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, AKBP Sutarmo di Jakarta, Jumat (4/5/2018).

Ia menerangkan, untuk satu karton isinya ada 24 botol dan tiap botol berisi ciu sebanyak 600 mililiter.

"Satu botol dengan isi 600 mililiter itu dijual seharga Rp11 ribu," terangnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan, tempat yang digunakan untuk memproduksi ciu ini merupakan rumah kontrakan. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci harga kontrakan rumah tiga lantai itu.

Setiap lantai mempunyai fungsi masing-masing, misalnya seperti di lantai satu untuk tempat penyimpanan ciu, dan juga tempat tinggal pemilik berinsial PRW yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka.

Kemudian lantai dua digunakan sebagai tempat produksi, penyaringan dan pengemasan. Untuk diketahui, minuman ciu ini dikemas dalam botol air mineral, dan distribusikan dengan disamarkan dalam dus air kesehatan.

Lantai tiga juga masih digunakan untuk tempat produksi, penyaringan dan pengemasan, selain itu juga digunakan untuk menyimpan drum kosong.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono menjelaskan, home industry tersebut telah beroperasi selama dua tahun lebih.

Keuntungan yang didapat Rp118 juta per bulan, atau Rp1,4 miliar per tahun. Karena pabrik rumahan itu sudah beroperasi kurang lebih dua tahun, diperkirakan keuntungan yang telah didapat selama itu mencapai Rp3 miliar lebih.

"Di TKP ini kami ditemukan 5 ton, yang terdiri dari 2 ton bahan jadi, dan 3 ton bahan setengah jadi," tambahnya.

PRW yang merupakan pemilik usaha tersebut akan dijerat Undang-undang Nomor 18/2012 tentang Pangan, dengan ancaman hukuman maksimal 2 tahun penjara dan denda Rp4 miliar.

Reporter : Toar Sandy Purukan
Editor : Lince Eppang