• News

  • Megapolitan

Jubir Persis Ungkap Alasan Ahok Harus Ditahan

Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Netralnews/YC Kurniantoro)
Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Netralnews/YC Kurniantoro)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sejumlah pelapor Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam kasus dugaan penistaan agama, mendatangi Bareskrim Polri di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta Pusat, Rabu (23/11/2016) sore,

Juru bicara dari Kantor Konsultasi dan Bantuan Hukum Persatuan Islam ( Persis) Zamzam Aqbil Raziqin selaku salah satu pihak yang melaporkan Ahok mengatakan, kedatangan mereka guna menyampaikan pernyataan sikap terkait alasan logis untuk Bareskrim Polri agar segera menahan Ahok.

"Intinya, Polri harus lakukan langkah preventif dengan menahan Ahok. Karena berdasarkan Pasal 21 ayat 1 KUHAP, ada tiga poin yang sudah terpenuhi agar Ahok ditahan," ujar Zamzam.

Poin pertama menurutnya, tidak ada alasan tidak menahan Ahok, meski statusnya sebagai calon gubernur (cagub).

"Apakah cagub atau bukan, langkah preventif tetap harus dilakukan, yaitu harus ditahan," tuturnya.

Sementara poin kedua, Ahok juga telah menghilangkan barang bukti berupa video yang diunggah oleh Pemprov DKI. Padahal, poin tersebut cukup beralasan untuk mengirimkan Ahok ke balik jeruji besi.

"Kekhawatiran tersangka menghilangkan barang bukti jika tidak ditahan, sangat besar. Buktinya, masyarakat malah sudah tahu, jika video pidato Ahok sudah dihapus dari Youtube. Terlepas itu dihilangkan siapa, saya tidak tahu," paparnya.

Selanjutnya poin ketiga, alasan penahanan Ahok jika mengulangi perbuatan serupa. Hal ini terjadi saat Ahok menuduh ada indikasi pendemo bayaran yang dibayar Rp500 ribu per orang.

"Ahok tidak hanya mengulangi perbuatannya. Tapi, malah membuat tudingan baru, pendemo dibayar Rp500 ribu. Jadi, selama tidak ditahan, dia berkesempatan bicara di depan publik. Itu menguatkan poin tentang mengulang perbuatan serupa," ungkap Zamzam.

Ikut hadir dalam penyampaian pernyataan sikap itu, Sekretatis Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Pedri Kasman, perwakilan Forum Anti-Penistaan Agama (FAPA), Irene Centre, dan dari perorangan, Burhanuddin.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Y.C Kurniantoro