• News

  • Nasional

Ini Kata Teguh Santosa soal Konflik di Semenanjung Korea

Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea (PPIK) Teguh Santosa. (paling kanan)
Istimewa
Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea (PPIK) Teguh Santosa. (paling kanan)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea (PPIK) Teguh Santosa menegaskan, konflik di Semenanjung Korea harus dilihat dari perspektif yang lebih luas. Peristiwa itu bukan sekadar ketegangan yang disebabkan oleh uji coba persenjataan Korea Utara atau dipicu oleh latihan militer bersama Korea Selatan dan Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2017, bertempat di Kota Kasablanka, Jakarta, Sabtu (21/10/2017). 

Adapun acara tersebut bertema Asia’s Hot Spots: Rohingya, North Korea Marawi and ISIS yang dipandu wartawati MetroTV Andini Effendi. 

Selain Teguh Santosa juga hadir beberapa pembicara lain di antarnya Direktur Kawasan dan Kerjasama Multilateral BNPT Andhika Chrisnayudhanto, Prof. Richard Heydarian dari De La Salle University, Penasihat Senior Human Rights Working Group Rafendi Djamin, peneliti dari Akademi Pembangunan Filipina Jamil Maidan Flores, dan Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid. Para pembicara adalah mereka yang selama ini fokus pada isu Hak Asasi Manusia (HAM) di Marawi, Filipina dan Rakhine, Myanmar. 

Teguh mengatakan,dirinya sudah berulangkali berkunjung ke Korea Utara dan Korea Selatan untuk mendapatkan pemahaman yang memadai mengenai konflik yang berlangsung sejak akhir Perang Dunia Kedua dan sempat mengalami kulminasi berupa Perang Korea antara 1950-1953. 

"Jurnalisme, mengharuskan wartawan untuk mengetahui fakta, dan itu yang mendorongnya ingin terus mengetahui konflik di Semenanjung Korea dari berbagai sumber pertama, termasuk berulangkali mengunjungi kedua negara itu. 

“Ada hukum besi: don’t tell me the words, just show me the numbers,” kata Teguh Santosa yang juga Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) itu. 

Karena itu, Teguh mengingatkan kepada peserta dimana sebagian besar mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada isu-isu global dan kebijakan luar negeri, bahwa menyandarkan diri hanya pada pemberitaan yang one side, apalagi blast message dari media sosial yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Hal tersebut bisa menggiring pada kesimpulan yang salah. 

“Masih banyak yang percaya, bahwa semua laki-laki di Korea Utara harus memiliki model rambut yang sama dengan Kim Jong Un. Ini sebuah contoh kekeliruan yang berkembang di tengah masyarakat Korea," kata dosen mata kuliah politik Asia Timur di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ini. 

Jadi, yang harus disadari bahwa saat ini dunia tengah memasuki ketegangan baru. Maka, upaya memiliki kemampuan meramu kreativitas dalam merancang kebijakan luar negeri, Indonesia dan ASEAN sangatlkah penting. Selain itu, memiliki peluang tidak hanya menjadi middle power, tetapi juga menjadi leading power, kata Teguh Santosa yang saat ini menjabat sebagai Ketua bidang Luar Negeri di Organisasi Pers, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). 

"Pada era Perang Dingin, konflik di Semenanjung Korea adalah ekspresi dari containment politics antara dua kubu yang sedang bertarung memperebutkan dan mempertahankan hegemoni, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet,” ujarnya menjawab pertanyaan sejumlah peserta usai sesi diskusi. 

Kini, lanjut Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Online (RMOL) sebuah kantor berita politik di Indonesia ini, bahwa, konflik di kawasan itu adalah bagian tidak terpisahkan dari konflik baru antara Amerika Serikat yang ingin mempertahankan hegemoni di kawasan dengan Republik Rakyat Tiongkok yang dalam satu dekade belakangan ini berhasil mengukuhkan dirinya sebagai penantang baru. 

"Berbagai uji coba persenjataan yang dilakukan Korea Utara, termasuk uji coba bom hidrogen di awal September lalu, adalah upaya untuk menjaga balance of power. Bagaimanapun juga, Korea Utara merasa harus mengimbangi kekuatan yang menurut mereka selama ini mengancam.  

“Latihan militer bersama antara Korea Selatan dan Amerika Serikat di perbatasan adalan ancaman yang nyata bagi Korea Utara. Tapi tak banyak pemberitaan yang melihat dari perspektif itu,” paparnya. 

Kesimpulan lain yang dipetik Teguh dari interaksinya dengan Korea Utara sejauh ini adalah bahwa Korea Utara berusaha untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea berdasarkan pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan pemimpin kedua Korea di masa lalu. 

Maka menurut Teguh, Korea Utara tidak tertutup sama sekali melainkan sedang menerapkan strategi 'jaring nyamuk'. Karena dengan jaring ini Korea Utara bisa mengamati situasi di luar negara itu, dan di saat bersamaan memberikan kesempatan kepada pihak luar untuk mengamati mereka, namun 'nyamuk' tidak bisa masuk, tutup Teguh Santosa

Reporter : Dominikus Lewuk
Editor : Nazaruli