• News

  • Lingkungan

Akibat Perubahan Iklim, 40 Tahun Lagi Cokelat Bisa Punah

Cokelat diperkirakan akan punah pada awal 2050 karena peningkatan suhu bumi.
Knowmore
Cokelat diperkirakan akan punah pada awal 2050 karena peningkatan suhu bumi.

JAKARTA, NNC - Menurut sebuah studi baru, produksi cokelat diperkirakan akan punah pada awal tahun 2050 karena suhu yang lebih hangat dan kondisi cuaca yang lebih gersang. Para ilmuwan dari University of California bekerja sama dengan perusahaan Mars untuk mencoba dan menyimpan hasil panen kakao sebelum terlambat.

Periset sedang menjajaki kemungkinan menggunakan teknologi pengeditan gen yang disebut CRISPR untuk membuat tanaman yang bertahan menghadapi tantangan cuaca baru.

Menurut sebuah artikel yang diterbitkan di The Independent, disebutkan bahwa Myeong-Je Cho, direktur genom tumbuhan di sebuah institut yang bekerja sama dengan Mars, bekerja untuk menciptakan versi tanaman kakao yang lebih tahan lama yang akan bertahan dan berkembang dengan iklim yang lebih hangat.

Cho mengatakan, hal ini dimungkinkan dengan bantuan sebuah teknologi baru yang disebut CRISPR yang memungkinkan terjadinya perubahan kecil pada DNA yang akan membuat panen lebih murah dan lebih dapat diandalkan.

Dilansir dari laman Deccan Chronicle, Selasa (2/1/2018), tanaman kakao hanya bisa tumbuh di dalam jalur sempit lahan hutan hujan kira-kira 20 derajat ke arah utara dan selatan khatulistiwa, dimana suhu, hujan dan kelembaban semua tetap konstan sepanjang tahun.

Lebih dari separuh cokelat dunia sekarang berasal dari dua negara di Afrika Barat yakni Pantai Gading dan Ghana. Tapi daerah tersebut tidak akan cocok untuk cokelat dalam beberapa dekade mendatang. Pada 2050, suhu yang meningkat akan bergeser ke arah pegunungan, yang lahannya sebagian besar saat ini dipertahankan untuk margasatwa, menurut National Oceanic and Atmospheric Administration.

Mars, perusahaan senilai US$35 miliar yang paling dikenal dengan Snickers, menyadari masalah ini dan yang lainnya dipresentasikan oleh perubahan iklim dan kemudian, pada bulan September, menjanjikan US$1 miliar sebagai bagian dari upaya yang disebut "Sustainability in a Generation," yang bertujuan untuk mengurangi karbon jejak bisnis dan rantai pasokannya lebih dari 60 persen pada tahun 2050.

Editor : Lince Eppang