• News

  • Lingkungan

Cegah Karhutla Berulang, Doni Monardo: Kembalikan Gambut ke Kodratnya

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo.
BNPB
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan, gambut memiliki hak asasi ekosistemnya sehingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat dicegah atau dikurangi. Gambut yang sudah kering akan sangat sulit dipadamkan ketika sudah ada api.

Dijelaskan bahwa karakter gambut yang bersifat kering dan memiliki kedalaman beragam bahkan hingga 30 meter tentu akan sulit dipadamkan oleh personel darat, pengemboman air bahkan dengan hujan buatan (TMC).

"Gambut juga memiliki hak asasi ekosistemnya sehingga karhutla dapat dicegah atau dikurangi. Kembalikan gambut sebagaimana kodratnya, yaitu basah, berair dan berawa,” ujar Kepala BNPB Doni Monardo saat memberikan pesan di hadapan pegawai BNPB pada hari ini, di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (1/10/2019).

Gambut yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk merupakan batu bara muda. Oleh karena itu, apabila gambut ini kering, gambut yang bisa dikatakan sebagai bahan bakar akan tersulut dengan mudah.

Menurut Doni, hadapi karhutla tahun ini mirip dengan yang terjadi pada empat tahun lalu. Tantangan utama yang dihadapi setiap tahun sama yaitu memadamkan karhutla di lahan gambut

Untuk diketahui, luas hutan dan lahan terbakar dari awal tahun hingga Agustus 2019 lalu mencapai 328.724 hektar. Karhutla didominasi oleh kebakaran di lahan mineral sejumlah 239.161 ha dan gambut 89.563 ha.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa luas karhutla terbesar terjadi di Nusa Tenggara Timur. Doni menjelaskan bahwa kebakaran di wilayah itu berbeda dengan enam provinsi lainnya. Kebakaran di Sumatera Selatan (Sumsel), Jambi, Riau, Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) terjadi di lahan gambut yang sangat sulit dipadamkan dan memicu terjadinya asap.

Dalam pesan yang disampaikan bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, Kepala BNPB menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas upaya jajarannya dalam penanggulangan karhutla yang masih terjadi.

Doni juga mengapresiasi kepada semua pihak, seperti TNI, Polri, KLHK, BMKG, BPPT, Manggala Agni, BPBD, masyarakat dan sukarelawan yang turun ke lapangan dan berhadapan dengan api dan asap.

“Mereka yang memadamkan api adalah para penjuang kemanusiaan,” kata Doni.

Doni mengajak jajarannya untuk menyebarluaskan pesan dan informasi melalui kanal media mengenai pengelolaan gambut. Dia menekankan lagi bahwa kodrat gambut yang basar dan berair sehingga bencana karthutla tidak terulang lagi di tahun depan.

Data citra satelit modis-catalog Lapan dalam 24 jam terakhir mencatat 697 titik panas terjadi di wilayah Sumsel, Jambi, Riau, Kalbar, Kalteng dan Kalsel. Rincian titik panas sebagai berikut, Kalsel 148 titik, Sumsel 106, Kalteng 65 dan Jambi 46. Wilayah Riau dan Kalbar tidak terdeteksi titik panas.

Hingga kini, 29.039 personel masih beroperasi untuk melakukan pemadaman dan pendinginan, sedangkan 45 helikopter dikerahkan untuk pengeboman air dan patroli. Sementara itu, lebih dari 228 ton garam disemai selama TMC dengan memanfaatkan pesawat dukungan BPPT dan TNI.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P