• News

  • Peristiwa

Lentera Anak: Akses Rokok Masih Mudah dan Terjangkau Saku Anak

Ilustrasi merokok.
Istimewa
Ilustrasi merokok.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Indonesia adalah negara urutan ke-tiga perokok tertinggi di dunia, yaitu sebesar 90 Juta perokok aktif, dan memproduksi rokok rata-rata sebanyak 338 miliar batang setiap tahun.

Menurut  data Tobbaco Control Support Center pada 2015, konsumsi rokok rata-rata per orang per hari pada 2013, yaitu 12,3 batang atau 369 batang per bulan, atau 12-13 batang/hari/orang (Riset Kesehatan Dasar, 2018).

"Tingginya jumlah perokok di Indonesia disebabkan akses rokok yang mudah. Hampir semua warung dan toko menjual rokok dengan harga murah dan batangan, termasuk di sekitar sekolah," kata Ketua anak">Lentera Anak Lisda Sundari, dalam keterangannya pada Netralnews, Selasa (12/11/2019).

Dipaparkan, ada tujuh dari 10 tempat penjual yang memajang spanduk atau poster yang mempromosikan iklan rokok. Sebesar lima puluh sembilan persen remaja membeli rokok di warung/toko tidak pernah ditolak karena usianya (Astuty dan Freeman, 2018).  

"Sehingga siapapun termasuk anak- anak dapat membeli rokok di mana saja,dengan uang sakunya, sekitar 1000 rupiah per batang," tegas dia.

Menurut Lisda, apabila kondisi ini terus dibiarkan, maka prevalensi perokok di Indonesia akan terus meningkat. Pada tahun 2018 prevalensi perokok anak sudah mencapai 9,1persen. 

"Jumlah ini jauh melebihi target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019 untuk menurunkan perokok anak hingga batas  5,4 persen," tegas dia.

Menurut Lisda, peningkatan prevalensi perokok anak adalah bukti dari lemahnya pengendalian tembakau di tanah air. Indonesia, selain tidak memiliki regulasi pengendalian tembakau yang komprehensif, juga sangat lemah dalam pengawasan regulasi tersebut.

"Negara tidak boleh membiarkan kondisi ini terus terjadi. Negara wajib hadir dengan membuat regulasi yang komprehensif, untuk menekan prevalensi perokok anak yang terus meningkat," tegas Lisda.

Karena itu, bertepatan dengan perayaan Hari Kesehatan Nasional yang jatuh pada tanggal 12 November, anak">Lentera Anak mendesak pemerintah untuk mengutamakan perlindungan anak dengan memperkuat kebijakan pengendalian tembakau komprehensif. 

Menurutnya, regulasi ini harus mencakup pembatasan akses anak mendapatkan rokok, menaikan harga rokok semahal-mahalnya agar rokok tidak terjangkau bagi kantong anak, dan menerapkan Kawasan Tanpa Rokok dengan tegas.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Widita Fembrian