• News

  • Peristiwa

Balita Merokok Sejak Usia 18 Bulan, Bisa Gagalkan Menikmati Bonus Demografi!

Ledakan jumlah perokok anak siap gagalkan Indonesia nikmati bonus demografi.
Children Care
Ledakan jumlah perokok anak siap gagalkan Indonesia nikmati bonus demografi.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pada Mei 2010, publik Indonesia dan dunia dikejutkan dengan viralnya video seorang balita berusia dua tahun yang merokok 40 batang rokok sehari. Terungkap bocah itu bernama Aldi Rizal Suganda, asal Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, sudah merokok sejak usia 18 bulan.

Bila tidak merokok, Aldi akan marah-marah dan membenturkan kepalanya ke tembok. Gara-gara video yang viral itu Indonesia mendapat julukan sebagai negara perokok anak (baby smoker country). Barulah setelah mendapat bantuan penanganan dan terapi, Aldi menghentikan kebiasaan merokoknya pada 2013.

"Tahun ini hampir satu dekade berlalu sudah, sejak kasus Aldi merebak di jagad maya. Kini, apa kabar perokok anak di Indonesia? Sudahkah berkurang? Alih-alih berkurang, justru sebaliknya jumlah perokok anak di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun," kata Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari baru-baru ini.

Pada tahun 2018 perokok anak usia 10-18 tahun meningkat mencapai 9,1 persen atau sama dengan 7,8 juta anak (Riset Kesehatan Dasar Nasional tahun 2018). Padahal RPJMN (Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional) menargetkan pada tahun 2019 prevalensi perokok anak harus turun menjadi 5,4 persen.

Lisda menyatakan peningkatan prevalensi perokok anak adalah bukti dari lemahnya pengendalian tembakau di Indonesia. Padahal sejak tahun 2012 Indonesia sudah memiliki Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Produk Tembakau Bagi Kesehatan. 

"Namun apa apa yang terjadi hari ini setelah tujuh tahun PP No. 109/2012 diimplementasikan? Tidak ada perubahan signifikan," kata dia.

Menurutnya, justru kondisi saat ini memburuk karena prevalensi perokok anak meningkat. Rokok elektronik juga sudah menyerbu pasar Indonesia, dan mulai digandrungi anak dan remaja.

"Ini sekaligus membuktikan bahwa tujuan dari PP 109/2012 untuk melindungi kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat dan lingkungan dari dampak zat adiktif rokok gagal,” kata Lisda.

Untuk menyelamatkan Indonesia dari kegagalan meraih bonus demografi, Lisda meminta Pemerintah tidak lagi separuh hati dalam melindungi anak dari dampak rokok.

Hal mendesak yang harus dilakukan adalah merevisi PP 109/2012, untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif konsumsi produk tembakau pada kesehatan, dan menurunkan  prevalensi perokok anak.

“Kepentingan anak tidak boleh dibenturkan dengan kepentingan bisnis, apalagi bisnis rokok yang merupakan produk berbahaya dan mengandung zat adiktif. Sudah sangat mendesak Negara hadir sepenuhnya, untuk melindungi anak-anak Indonesia dari serbuan industri rokok,” pungkasnya.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani