• News

  • Peristiwa

Industri Rokok Disebut Gencar Bidik Remaja untuk Jaga Kelangsungan Bisnis, Ini Buktinya

Ilustrasi kegiatan produksi di pabrik rokok.
swissinfo.ch
Ilustrasi kegiatan produksi di pabrik rokok.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari ungkap salah satu penyebab tingginya jumlah perokok anak. Penyebabnya adalah industri rokok yang sangat gencar menyasar anak dan remaja sebagai target pemasaran produknya dengan berbagai strategi yang menjual gaya hidup anak muda.

"Industri rokok sangat berkepentingan terhadap anak muda untuk menjamin keberlangsungan bisnis mereka, karena mereka berpotensi menggantikan para perokok senior yang sudah meninggal atau berhenti merokok,” ujar Lisda pada Netralnews, Senin (17/2/2020).

Salah satu strateginya dengan pemasangan iklan rokok pada media luar ruang (baliho, banner, dan stiker) di area sekolah. Data yang dihimpun Lentera Anak pada monitoring iklan rokok (2015) menyebutkan 85 persen sekolah dikelilingi iklan rokok dengan jumlah pengiklan sebanyak 30 merek.

Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)  menunjukkan iklan rokok di beragam media setiap tahun terus meningkat. Pada 2014 BPOM mengawasi 51.630 iklan rokok di berbagai media, meningkat menjadi 69.244 (2015), dan menjadi 85.815 iklan rokok pada 2016.

Di samping itu, Lisda menilai akses anak untuk mendapatkan rokok di Indonesia sangat mudah. Hampir semua warung dan toko menjual rokok dengan harga murah dan batangan “Hanya dengan uang seribu rupiah anak sudah bisa membeli rokok,” katanya.

Banyaknya perokok anak, tambah Lisda, juga disebabkan banyaknya “model perokok” di sekitar mereka. Anak-anak terbiasa melihat orang dewasa merokok. Bisa jadi orang tuanya, guru, atau kakak mereka yang merokok sembarangan, di rumah, sekolah, atau di angkutan umum. Sementara anak adalah peniru terbaik.

"Dengan melihat orang dewasa merokok, tertanam dalam benaknya bahwa merokok seolah-olah kegiatan yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga bila orang dewasa bisa melakukan itu, ia pun ingin juga melakukannya,” tegas Lisda.

Tingginya jumlah perokok anak, kata Lisda, akan berpotensi mengancam masa depan Indonesia. Dampak merokok baru mereka rasakan 10-15 tahun mendatang ketika usia mereka produktif. Lisda khawatirkan, di tahun 2030-an ketika Indonesia menikmati bonus demografi, justru banyak masyarakat usia produktif yang sakit-sakitan.

"Ledakan jumlah perokok anak siap menggagalkan Indonesia untuk meraih bonus demografi. Karena mereka akan menjadi beban dan bencana bagi masyarakat dan Negara,” tandasnya.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P