• News

  • Peristiwa

Bambang Brodjo Dinilai Lebih Layak Pimpin Ibu Kota Baru, Ini Kelebihannya Dibanding Ahok

Pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago.
voxpolcenter.com
Pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengantongi empat nama calon Kepala Badan Otorita Ibu Kota Negara (IKN) yang baru di Kalimantan Timur.

Keempat kandidat itu, yakni Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk Tumiyono.

Dari keempat nama itu, Ahok disebut-sebut sebagai kandidat terkuat yang bakal dipilih Jokowi untuk pimpin ibu kota baru.

Mengomentari hal itu, Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menilai, Bambang Brojo lebih layak jadi Kepala Otoritas IKN dibanding Ahok.

Alasannya, Pangi menyebut, Bambang lebih paham persoalan dan masalah fundamental di ibu kota baru karena pernah menempati posisi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

"Ketimbang Ahok lebih baik Bambang Brodjonegoro, beliau pernah menjadi Kepala Bappenas dan paham soal desain dan masalah ibu kota baru. Lebih tahu persoalan dan masalah fundamental di ibu kota baru," kata Pangi kepada wartawan, Senin (9/3/2020).

"Karena dari awal Bappenas yang merancang dan mendesain ibu kota baru, beliau memahami dan dari awal ikut merancang ibu kota baru," sambungnya.

Sementara Ahok, Pangi menilai, mantan Gubernur DKI Jakarta itu belum ada gebrakan selama menjabat Komut Pertamina. "Kualitas kerjanya di Komisaris Pertamina belum nampak ada gebrakan sama sekali," ucap dia.

Selain itu, Pangi berpendapat bahwa ada potensi muncul kegaduhan jika ibu kota baru dipimpin Ahok. Jokowi disebutnya juga bakal terkena imbas dari kegaduhan itu jika memiilih Ahok sebagai Kepala Badan Otorita IKN.

"Bagaimana mungkin selama ini sudah gaduh dan membuat kita terpecah kemudian mau dipilih lagi. Saya kehabisan akal sehat untuk membaca fenomena ini, soal Ahok menjadi 'gubernur' ibu kota baru," ungkap Pangi.

"Pak Jokowi makin banyak masyarakat tidak respek, beliau melawan emosi publik dan gagal membaca sentimen. Beliau boleh jadi kian hari makin tergerus legitimasinya," jelas Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting itu.

Terlepas dari itu, Pangi menyarankan, sebaiknya saat ini Presiden Jokowi fokus terhadap pembangunan ibu kota baru yang masih menjadi polemik, ketimbang membahas soal siapa yang bakal jadi Kepala Otorita IKN.

"Jauh lebih baik presiden menyelesaikan dulu pembangunan ibu kota baru yang sampai hari ini masih berpolemik, dan masyarakat di sana menolak karena mereka khawatir tentang masa depan hutan mereka nantinya, ketimbang bicara kepala daerah dan keistimewaan Ahok sebagai kepala daerah di ibu kota baru," pungkasnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Irawan.H.P