• News

  • Peristiwa

Kisruh ‘Nasi Anjing‘, Tengku Zul: Mau NKRI Tumpah Darah? Eko: Harusnya Nasi 34B or 36C

Eko Kuntadhi dan Tengku Zulkarnain
foto: istimewa
Eko Kuntadhi dan Tengku Zulkarnain

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sebagai informasi, masyarakat Warakas, Tanjung Priok menerima bantuan Nasi Anjing. Nama itu digunakan karena Anjing dikenal sebagai hewan yang setia. Filosofinya agar setia pada Allah, setia pada pemerintah, Pancasila dan Undang-undang 1945.

Selain itu, bantuan diberi nama Nasi Anjing karena ukurannya yang lebih besar daripada kudapan bernama Nasi Kucing. Pasalnya nasi ini bukan untuk mengenyangkan melainkan untuk bertahan. Makanan yang diberikan tidaklah juga berasal dari Daging Anjing sehingga halal.

Namun, viralnya "Nasi Anjing", mengundang beragam respons dari masyarakat. Bahkan, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain mengatakan tidak tepat membela dan membandingkan Nasi Anjing dengan Nasi Kucing.

Menurutnya menu Nasi Anjing belum ada dijual seperti menu Nasi Kucing. Sehingga menurutnya, Nasi Kucing tidak bisa dibandingkan dengan Nasi Anjing.

"Berhentilah membela perusak kedamaian dan membela mrk.

Apakah kalian mau NKRI satu saat tumpah darah?

Na'udzubillah...," cuit dia, Selasa (28/4/2020).

Lebih lanjut Tengku Zulkarnain menilai, begitu sensitifnya kata Anjing di negeri ini. Sampai umat Nasrani dari Suku Karo dan Batak di Sumatera Utara jika buka restoran yang menyediakan menu Anjing Bakar tidak mau menuliskannya di plang restoran.

"Mereka hanya tuliskan:"Sedia B1 utk menyebutkan BIANG(Anjing), B2 utk Babi," tegas dia.

Lain lagi dengan pegiat media, Eko Kuntadhi. Secara terpisah, yakni di akun Facebooknya, Senin (27/4/2020) membagikan tulisannya berjudul "Nasi Anjing".

Berikut  catatan lengkap Eko Kuntadhi:

NASI ANJING

Ada relawan yang baik hati. Mereka memasak berbungkus-bungkus nasi beserta lauknya, lalu dibagikan kepada orang yang menbutuhkan. Sebetulnya ini adalah kegiatan yang sangat terpuji.

Bentuk nasi bungkusnya sederhana. Ukurannya tidak terlalu gombyor. Isinya juga cuma nasi dengan lauk tempe orek, teri kacang dan sosis, plus sayur buncis.

Karena ukurannya lumayan nendang, nasi ini lebih besar dari nasi kucing yang biasa dijual di warung angkringan. Nah, karena ukurannya lebih kesar dari nasi kucing, mereka menyebutnya nasi anjing.

Sementara untuk ukuran bungkus nasi yang lebih besar, seperti bungkusan nasi dari warung padang yang nasinya segambreng, orang menyebutnya nasi Dinosaurus.

Karena dinamakan nasi anjing itulah, akhirnya banyak orang salah paham. Dikira di dalamnya ada daging anjing. Padahal nasi anjing cuma penamaan doang. Gak ada daging anjingnya. Lagian siapa juga yang doyan.

Herannya mereka yang memprotes nasi anjing ini, tidak pernah protes penjual Hotdog. Bahkan mereka sangat menyukai es pocong, nasi goreng gila, atau kerupuk melarat.

Di hari lain, mereka juga menyukai kue puteri salju meskipun putri saljunya tidak memakai jilbab. Mereka juga suka singkong melarat sebagai peganan. Atau setiap lebaran suka mengunyah kue kuping gajah dan kue tete.

Bukan hanya itu, mereka juga suka minum susu beruang yang iklannya bergambar naga.

Tapi karena belum umum, nasi anjing pada akhirnya melahirkan sensitifitas yang berlebihan. Orang pada protes. Tapi memang sih, penamaan nasi anjing, dalam konteks bahasa keseharian di Indonesia, bisa diartikan lain. Mungkin sebaiknya mereka mengganti dengan istilah yang pas. Atau gak usah pakai nama sama sekali.

Kadang kedalaman psikologi masyarakat perlu diselami, agar gak salah langkah. Meskipun tujuannya baik.

"Mas mestinya untuk menandakan ukuran bungkus nasi, gak usah pakai nama hewanlah," ujar Abu Kumkum.

"Harusnya pakai nama apa, Kum?"

"Kan, bisa gunakan ukuran yang sudah umum. Misalnya, nasi 34B, nasi 36C atau nasi 38D. Kan lebih bisa dipahami, mas..."

Editor : Taat Ujianto