• News

  • Peristiwa

Musni Umar: Saya Tidak Percaya yang Dikemukakan Menteri Agama

Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Musni Umar.
Istimewa
Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Musni Umar.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Musni Umar mengomentari pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi yang menyebut bahwa kelompok radikal mengirim anak good looking, bahasa Arabnya bagus, hafal Alquran (hafiz) ke masjid di lingkungan institusi pemerintahan untuk menyebarkan radikalisme.

Musni menduga, radikalisme yang dimaksud Menag adalah radikalisme dalam paham politik.

"Dugaan saya, karena dia (Fachrul) adalah pejabat politik, maka radikalisme yang dimaksud adalah berarti radikalisme dalam paham politik," kata Musni.

"Konsekuensinya, masjid dituduh sebagai sumber penyebaran radikalisme dengan modus antara lain anak yang good looking, pandai bahasa Arab dan hafidz," sambungnya.

Terkait hal itu, Rektor Universitas Ibnu Chaldun ( UIC) Jakarta ini mengaku tidak percaya dengan apa yang disampaikan Menag. "Sebagai sosiolog, saya tidak percaya yang dikemukakan Menteri Agama RI itu," ujarnya.

Komentar Musni itu disampaikan lewat tulisannya berjudul "Radikalisme Masuk ke Masjid-Masjid: Anak Good Looking dan Amar Ma'ruf Nahi Munkar" yang diunggah di arahjaya.com.

Berikut tulisan lengkap Musni Umar, dikutip netralnews.com, dikutip dari arahjaya.com, Senin (7/9/2020).

Radikalisme Masuk ke Masjid-masjid: Anak Good Looking dan Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Menteri Agama RI Letnan Jenderal TNI Purn Fachrul Razi mengatakan tentang cara masuknya kelompok maupun paham-paham radikalisme ke masjid-masjid yang ada di lingkungan pemerintahan, BUMN, dan di tengah masyarakat. Salah satunya dengan menempatkan orang yang memiliki paham radikal dengan kemampuan keagamaan dan penampilan yang tampak mumpuni.

“Caranya masuk mereka gampang; pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Alquran), mereka mulai masuk,” kata Fachrul dalam webinar bertajuk ‘Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara’, di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9), CNN Indonesia, Kamis, 03/09/2020 05:15).

Radikal Dan Radikalisme

Kamus Besar Bahasa Indonesia membedakan kata ‘radikal’ dengan ‘radikalisme.’

Kata ‘radikal,’ pertama, bermakna ‘secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip).’

Kedua, radikal adalah istilah politik yang bermakna ‘amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan)’.

Ketiga, radikal juga berarti ‘maju dalam berpikir atau bertindak’.

Adapun makna radikalisme mempunyai tiga arti, pertama, ‘paham atau aliran yang radikal dalam politik’.

Kedua, ‘paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis’.

Ketiga, ‘sikap ekstrem dalam aliran politik.

Radikalisme Politik

Menteri Agama RI berbicara tentang radikalisme. Dugaan saya, karena dia adalah pejabat politik, maka radikalisme yang dimaksud adalah berarti radikalisme dalam paham politik.

Konsekuensinya, masjid dituduh sebagai sumber penyebaran radikalisme dengan modus antara lain anak yang good looking, pandai bahasa Arab dan hafidz.

Sebagai sosiolog, saya tidak percaya yang dikemukakan Menteri Agama RI itu.

Pertama, menghadirkan anak-anak good looking ke Masjid yang mahir bahasa Arab dan hafiz hanya sebagai strategi dakwah untuk menarik minat anak-anak dan orang tua.

Kedua, saat anak-anak good looking dihadirkan di Masjid tidak ada ustaz atau kiai yang berceramah tentang politik.

Ketiga, bapak-bapak, ibu-ibu yang hadir di Masjid mayoritas tidak suka mendengar ceramah politik.

Keempat, mayoritas dai, ustaz dan kiai dalam ceramah mereka di masjid hanya menyampaikan ceramah agama. Dalam konteks ceramah, yang sering disalah pahami adalah amar ma’ruf nahi munkar.

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Dalam Alqur’an, Allah memerintahkan supaya umat Islam mengajak untuk mengamalkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Dalam wikipedia disebutkan makna Amar makruf nahi mungkar (bahasa Arab: الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر‎, al-amr bi-l-maʿrūf wa-n-nahy ʿani-l-munkar) adalah sebuah frasa dalam bahasa Arab yang berisi perintah menegakkan yang benar dan melarang yang salah. Dalam ilmu fikih klasik, perintah ini dianggap wajib bagi kaum Muslim.

Jadi dalam Alqur’an dan Sunnah Nabi Mihammad SAW Tidak hanya melaksanakan shalat, puasa, zakat, haji dan perbuatan baik

Dalam Islam, Allah mewajibkan umat Islam untuk melaksanakan dan mengajak untuk amar ma’ruf nahi mungkar.

Oleh karena itu, tidak mungkin ustaz, ulama, kiai, cendekiawan Muslim yang lurus dan paham tentang Islam, tidak berbicara politik, ekonomi, keadilan, kebenaran, korupsi, kecurangan dan sebagainya karena hal itu diperintahkan dalam Alqur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Agama Fachrul Razi mengingatkan untuk mewaspadai sejumlah tempat yang diduga menjadi pintu masuknya radikalisme di lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN). 

"Kalau kita bicara tentang radikalisme ASN, maka banyak tempat yang perlu kita waspadai," kata Fachrul dalam webinar bertajuk 'Strategi Menangkal Radikalisme Pada ASN' yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube Kementerian PANRB, Rabu (2/9/2020).

Tempat pertama yang perlu diwaspadai, menurut Fachrul, yakni saat proses rekrutmen dan seleksi ASN. "Tempat pertama adalah pada saat dia masuk. Kalau kita tidak seleksi dengan baik, maka dikhawatirkan benih-benih atau pemikiran-pemikiran radikal itu akan masuk ke dalam ASN," ujarnya.

Kemungkinan kedua masuknya paham radikalisme, yaitu melalui lembaga pendidikan ASN. "Pada saat di ASN ada pendidikan- pendidikan khusus, nah bisa masuknya melalui itu. Untuk itu betul-betul kita waspadai di lembaga pendidikan kita, betul-betul pembimbing-pembimbingnya, dosen- dosennya, mereka-mereka yang memang bersih dari peluang-peluang radikalisme. Kalau nggak nanti masuknya dari sana," ucap dia.

Kemungkinan lain, lanjut Fachrul, yakni paham radikalisme masuk lewat rumah ibadah, baik rumah ibadah di institusi pemerintahan, BUMN, maupun rumah ibadah di tengah-tengah masyarakat.

"Saya katakan di institusi pemerintahan sangat banyak peluang untuk masuk pemikiran-pemikiran radikalisme," ujarnya.

Menag kemudian memaparkan cara-cara masuknya kelompok maupun paham- paham radikalisme ke rumah ibadah yang ada di lingkungan pemerintahan, BUMN, dan di tengah masyarakat.

Menurutnya, kelompok radikal ini awalnya mengirim orang yang "good looking" ke rumah ibadah di lingkungan institusi pemerintahan. Kemudian orang itu perlahan-lahan bisa mendapatkan simpati dari para pengurus dan para jemaah masjid, hingga bisa dipercaya menjadi imam bahkan diangkat menjadi salah satu pengurus masjid.

Setelah mendapatkan posisi strategis tersebut, ungkap Menag, orang itu mulai merekrut sesama rekan-rekannya yang memiliki pemahaman radikal lainnya masuk ke masjid itu.

"Cara masuk mereka gampang, kalau saya lihat polanya. Pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Alquran) mulai masuk, ikut-ikut jadi imam, lama-lama orang situ bersimpatik, kemudian diangkat jadi pengurus masjid, kemudian masuk temannya dan sebagainya," jelas Fachrul. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati