• News

  • Peristiwa

Dapat Izin BPOM, Inilah Obat COVID-19

Dapat Izin BPOM, inilah obat COVID-19 .
Farmasi
Dapat Izin BPOM, inilah obat COVID-19 .

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - PT. Kalbe Farma akhirnya memperkenalkan Covifor (remdesivir) di impor oleh PT. Amarox Pharma Global, anak perusahaan Hetero Corporate Industrial Estates, Sanath Nagar Hyderabad India.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah memberikan izin edar terhadap obat Covifor dari Kalbe Farma dalam skema izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization/UEA).

Covifor merupakan versi generik Remdesivir yang membeli lisensi dari perusahaan biofarmasi asal Amerika Serikat, Gillead Sciences.
Hetero, sebuah perusahaan farmasi yang berbasis di Hyderabad, telah meluncurkan obat Covifor ini, setelah mendapat persetujuan dari Drug Controller General India pada 21 Juni 2020.

Obat tersebut tersedia dalam bentuk botol suntik 100 mg dengan harga Rs 5.400 atau sekitar 1 juta rupiah. Remdesivir telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam menurunkan viral load pada pasien COVID-19 yang parah dan membantu mereka pulih lebih cepat.

Obat ini masih dalam uji coba di beberapa negara, meskipun FDA AS memberikannya persetujuan darurat untuk digunakan pada kasus COVID-19 yang parah.

Dilansir dari laman majalah famasitika,Kamis, (1/10/2020), disebutkan tiga fakta Covifor yang sudah mendapat izin dari BPOM:

Remdesivir adalah salah satu analog nukleosida yang digunakan untuk pengobatan COVID-19
Analog nukleosida adalah kategori obat penting yang termasuk dalam kelompok agen antivirus yang sudah digunakan untuk pengobatan efektif infeksi HIV, virus hepatitis B, virus hepatitis C, virus herpes simpleks dan infeksi varicella-zoster.

Remdesivir adalah analog nukleosida yang membatasi replikasi virus di dalam tubuh, baik dengan menghalangi enzim RNA polimerase atau dengan memutus rantai RNA (rantai genetik) virus. Analog nukleosida lain yang telah disetujui untuk pengobatan pasien COVID-19 adalah favipiravir.

Obat remdesivir generik sama amannya dengan yang bermerek
Semua perusahaan besar, termasuk Food and Drug Administration AS dan Harvard Medical School, mengklaim bahwa obat generik sama aman dan efektifnya dengan obat-obatan yang bermerek. Bahan aktif yang digunakan pada obat generik memiliki kualitas, kekuatan, kemurnian, dan stabilitas yang serupa dengan yang digunakan untuk obat bermerek. Selain itu, obat generik tersedia dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan obat bermerek.

Demikian pula, obat remdesivir generik Hetero, yang disebut Covifor, diharapkan sama efektif dan amannya dengan obat bermerek.

Remdesivir pada awalnya dibuat untuk melawan Ebola tetapi tidak bekerja sebaik yang diharapkan
Remdesivir awalnya dikembangkan oleh Gilead Sciences, sebuah perusahaan farmasi yang berbasis di AS, selama wabah Ebola untuk melawan penyakit mematikan itu. Remdesivir bekerja pada enzim RNA polimerase yang diperlukan untuk perbanyakan virus. Ketika virus tidak dapat membuat lebih banyak salinan dari dirinya sendiri, ia tidak dapat menyebar ke dalam tubuh dan akhirnya mati.

Namun, obat tersebut tampaknya tidak bekerja sebaik yang diharapkan untuk virus Ebola, oleh karena itu diuji terhadap strain virus Corona (SARS dan MERS) pada tahun 2017 dan sekarang untuk SARS-CoV-2 pada tahun 2020.

Editor : Sulha Handayani