• News

  • Peristiwa

Birgaldo: Surat Pembatalan Wajib Baca Buku Dedengkot HTI dari Kadis Mencurigakan

Surat Kadisdik Provinsi Bangka Belitung (Babel) Muhammad Soleh
Foto: FB/Birgaldo
Surat Kadisdik Provinsi Bangka Belitung (Babel) Muhammad Soleh

BABEL, NETRALNEWS.COM - Polemik siswa diwajibkan membaca buku karya Felix Siauw di Bangka Belitung (Babel) masih ramai menjadi menjadi sorotan publik. Pasalnya, usai keluarkan surat imbauan, Kadisdik Babel kemudian membuat surat pembatalan dan minta maaf.

Pegiat media sosial Birgaldo Sinaga, Jumat malam (2/10/20) menanggapi hal itu dan menyoroti adanya hal aneh dalam surat tersebut, katanya:

Surat pembatalan wajib membaca buku dedengkot HTI dari  Kadis Pendidikan Babel ini mencurigakan.
Bagaimana mungkin bisa sebuah stempel basah bisa sama persis bentuknya. Tebal tekanan cetakan stempelnya sama. Besar tinta stempelnya sama. Sudut posisi stempelnya sama.

Sedangkan surat itu berbeda tanggal terbitnya.
Apakah ini cuma trik untuk meredam suara netizen?

Sebelumnya, Birgaldo juga membuat cuitan menanggapi hal tersebut.

Sifat: Sangat Segera.
Hal: Membaca Buku Karya Felix Siaw dedengkot HTI.

Makin berat sekali perjuangan kita sebagai sebuah bangsa jika institusi pendidikan sudah seperti ini. Kadis Pendidikan Prov Babel memerintahkan seluruh sekolah membaca buku pentolan HTI.

Betapa suramnya masa depan bangsa kita.
Ada grand design yang bukan lagi bersifat bawah tanah atau clandestin. Tapi sudah terang2an kasat mata tanpa takut lagi.

Yang menyedihkan jika negara diam dan tidak melakukan tindakan sanksi yang tegas.

Sebelumnya diberitakan, tak lama setelah keluarkan surat edaran, Kepala dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Bangka Belitung (Babel) Muhammad Soleh mengaku salah dan meminta maaf atas ketidaktahuannya terkait kewajiban siswa SMA/SMK se-Babel membaca buku Muhammad Alfatih karya aktivis HTI Felix Siauw.

Kadisdik Provinsi Bangka Belitung (Babel) Muhammad Soleh mengaku salah dan meminta maaf atas ketidaktahuannya terkait kewajiban siswa SMA/SMK se-Babel membaca buku Muhammad Alfatih karya aktivis HTI Felix Siauw.

"Kami minta maaf atas kekhilafan dan kesalahan ini. Hal ini disebabkan ketidaktahuan kami kalau buku Muhammad Alfatih tersebut karya aktivis HTI," kata Muhammad Soleh, Jumat (2/10).

Soleh membenarkan pada Rabu (30/9) pihaknya telah mengeluarkan surat kepada seluruh kepala sekolah untuk jenjang SMA/SMK mewajibkan siswa membaca buku Muhammad Alfatih karya Felix Siauw.

Pihaknya mewajibkan siswa membaca buku Muhammad Alfatih untuk meningkatkan literasi dan survei karakter para siswa di tengah pandemi covid-19 mengingat tahun ini akan diadakan asistensi minimal.

"Ini bagian upaya kami untuk meningkatkan semangat anak-anak berliterasi. Makanya kami memberikan sejarah. Nah kebetulan, literasi pada buku Muhammad Alfatih tentang perjalanan perjuangan. Bagus kita wajibkan siswa membacanya,"ujarnya.

"Dalam waktu dekat kami akan mengalihkan ke buku yang lain," tegasnya dinukil Mediaindonesia.com.

Diketahui, Sultan Muhammad al-Fatih merupakan tokoh Islam yang menaklukkan Konstitinopel di Romawi Timur.

Dikecam PWNU

Sementara itu, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bangka Belitung (Babel) memprotes keras kebijakan kepala Dinas Pendidikan (Disdik) yang mewajibkan siswa SMA/SMK membaca buku Muhammad Al Fatih 1453 karangan Felix Siauw. Protes itu dilayangkan melalui surat teguran ke Gubernur Babel Erzaldi Rosman Djohan.

Ketua PWNU Babel, KH Jaafar Siddiq mengatakan, PWNU sudah mengirimkan surat ke Gubernur Babel untuk menindaklanjuti perihal surat kepala Dinas Pendidikan terkait kewajiban membaca buku Felix Siauw tersebut.

"Tadi pagi saya sudah menghubungi kepala Dinas Pendidikan Babel, terkait surat perintahnya ke sekolah-sekolah untuk membaca dan merangkum buku Muhammad Al Fatih karya Felix Siaw dan ternyata beliau sendiri belum pernah membaca buku ini, ini fatal sekali," kata Jaafar dilansir iNews.id, Jumat (2/10/2020).

Dia mengatakan, kewajiban membaca buku karangan Felix Siaw dinilai memiliki agenda terselubung.

Editor : Taat Ujianto