• News

  • Peristiwa

Denny: HTI Sudah Lebih Maju Membuat Animasi, Namanya Nusa dan Rara, Menariknya...

Denny Siregar
Foto: Istimewa
Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Setelah warganet ramai  menyoroti munculnya surat edaran Kepala Dinas Pendidikan Bangka Belitung yang mewajibkan siswa SMA baca buku tokoh HTI, Pegiat media sosial Denny Siregar, Sabtu (3/10/20) membuat catatan panjang berjudul "Film Animasi Propaganda HTI."

Kata Denny: "Jangan kaget juga, kalau HTI bahkan sudah lebih maju dalam membuat film animasi anak-anak. Namanya Nusa dan Rara. Ide cerita film ini, siapa lagi kalau bukan dr salah satu dedengkot HTI, bernama Felix Siaw."

"Di Indonesia, film masih belum jadi perhatian pemerintah utk propaganda persatuan, tapi dimanfaatkan kelompok hijrah utk propaganda identitas agama," lanjutnya.

"Menariknya, film animasi Nusa dan Rara mau diangkat ke bioskop oleh Visinema. Ini PH besar yang dibelakangnya ada salah satu pendana seperti GDP Ventures, yang notabene punya kelompok Djarum," tegas Denny.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

FILM ANIMASI PROPAGANDA HTI

Kaget lihat Kepala Dinas Pendidikan Bangka Belitung, yang mewajibkan semua sekolah untuk baca buku karangan Felix Siaw, dedengkot HTI ??

Saya sih ga kaget. Karena sejak lama tahu, bahwa HTI sudah masuk dalam hampir semua jaringan pendidikan di Indonesia. Salah satu program Hizbut

Thahrir memang melakukan pembelokan pemahaman dalam pelajaran agama di semua dunia pendidikan. Ini berkaitan langsung dgn tujuan HTI ingin mendirikan negara Islam disini.

Jangan kaget juga, kalau HTI bahkan sudah lebih maju dalam membuat film animasi anak-anak. Namanya Nusa dan Rara. Ide cerita film ini, siapa lagi kalau bukan dr salah satu dedengkot HTI, bernama Felix Siaw.

Apa yang berbahaya dari film Nusa dan Rara? Itu kan film anak-anak ??

Dilihat sepintas memang tidak ada apa2, itulah kelebihan HTI. Tapi kalau mau melihat lebih luas, film Nusa dan Rara itu sebenarnya sedang membangun eksklusifitas keagamaan. Islam ditampilkan dalam wajah budaya arab, lihat aja pakaian Nusa yg bergamis.

Identitas keagamaan tampak sekali dari cara berpakaian mereka, seolah Islam itu ya harus seperti itu. Itu doktrin kepada anak2 dan guru2 sekolah pelan2.

Sesudah Nusa dan Rara dikenal, baru pelan2 akan dimasukkan doktrin khas mereka kelak, "ngucapkan salam ke agama lain itu dosa" sampai "hanya kita agama yg paling benar". Miriplah dgn doktrin2 yang mereka lakukan ke umat mereka, tapi ini kepada anak kecil.

Bedakan dengan film produksi Malaysia, Upin dan Ipin dimana animasinya menunjukkan berbagai macam karakter, bukan saja Melayu dan bukan saja Islam. Film Upin dan Ipin adalah bagian dr propaganda pemerintah Malaysia, yang ingin menciptakan kesatuan suku dan ras, supaya menjadi Malaysia satu.

Di Indonesia, film masih belum jadi perhatian pemerintah utk propaganda persatuan, tapi dimanfaatkan kelompok hijrah utk propaganda identitas agama.

Menariknya, film animasi Nusa dan Rara mau diangkat ke bioskop oleh Visinema. Ini PH besar yang dibelakangnya ada salah satu pendana seperti GDP Ventures, yang notabene punya kelompok Djarum.

Visinema dan pendananya hanya berfikir tentang bisnis, tanpa sadar ikut meluaskan propaganda identitas yang dibangun oleh HTI dan jaringan mereka..

Gagapnya kita menahan laju gerakan militansi HTI, karena banyak dari kita kurang pengetahuan tentang mereka. Jangan kaget kalau suatu saat kita kalah bukan karena mereka pintar, tapi karena justru kita terlalu bodoh untuk melindungi negara kita..

Saya menulis ini bukan untuk mempopulerkan mereka, justru untuk mengingatkan bahaya yang lebih besar dalam keragaman kita, jika politik identitas mulai dibenamkan ke anak-anak kita yang masih polos tanpa mereka sadari..

Seruput kopinya..
Denny Siregar

Heboh edaran wajib baca buku Felix Siauw

Sementara sebelumnya diberitakan, tak lama setelah keluarkan surat edaran, Kepala dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Bangka Belitung (Babel) Muhammad Soleh mengaku salah dan meminta maaf atas ketidaktahuannya terkait kewajiban siswa SMA/SMK se-Babel membaca buku Muhammad Alfatih karya aktivis HTI Felix Siauw.

Kadisdik Provinsi Bangka Belitung (Babel) Muhammad Soleh mengaku salah dan meminta maaf atas ketidaktahuannya terkait kewajiban siswa SMA/SMK se-Babel membaca buku Muhammad Alfatih karya aktivis HTI Felix Siauw.

"Kami minta maaf atas kekhilafan dan kesalahan ini. Hal ini disebabkan ketidaktahuan kami kalau buku Muhammad Alfatih tersebut karya aktivis HTI," kata Muhammad Soleh, Jumat (2/10).

Soleh membenarkan pada Rabu (30/9) pihaknya telah mengeluarkan surat kepada seluruh kepala sekolah untuk jenjang SMA/SMK mewajibkan siswa membaca buku Muhammad Alfatih karya Felix Siauw.

Pihaknya mewajibkan siswa membaca buku Muhammad Alfatih untuk meningkatkan literasi dan survei karakter para siswa di tengah pandemi covid-19 mengingat tahun ini akan diadakan asistensi minimal.

"Ini bagian upaya kami untuk meningkatkan semangat anak-anak berliterasi. Makanya kami memberikan sejarah. Nah kebetulan, literasi pada buku Muhammad Alfatih tentang perjalanan perjuangan. Bagus kita wajibkan siswa membacanya,"ujarnya.

"Dalam waktu dekat kami akan mengalihkan ke buku yang lain," tegasnya dinukil Mediaindonesia.com.

Diketahui, Sultan Muhammad al-Fatih merupakan tokoh Islam yang menaklukkan Konstitinopel di Romawi Timur.

Dikecam PWNU

Sementara itu, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bangka Belitung (Babel) memprotes keras kebijakan kepala Dinas Pendidikan (Disdik) yang mewajibkan siswa SMA/SMK membaca buku Muhammad Al Fatih 1453 karangan Felix Siauw. Protes itu dilayangkan melalui surat teguran ke Gubernur Babel Erzaldi Rosman Djohan.

Ketua PWNU Babel, KH Jaafar Siddiq mengatakan, PWNU sudah mengirimkan surat ke Gubernur Babel untuk menindaklanjuti perihal surat kepala Dinas Pendidikan terkait kewajiban membaca buku Felix Siauw tersebut.

"Tadi pagi saya sudah menghubungi kepala Dinas Pendidikan Babel, terkait surat perintahnya ke sekolah-sekolah untuk membaca dan merangkum buku Muhammad Al Fatih karya Felix Siaw dan ternyata beliau sendiri belum pernah membaca buku ini, ini fatal sekali," kata Jaafar dilansir iNews.id, Jumat (2/10/2020).

Dia mengatakan, kewajiban membaca buku karangan Felix Siaw dinilai memiliki agenda terselubung.

 

Editor : Taat Ujianto