• News

  • Peristiwa

Denny: Film Nusa dan Rara Sama Sekali Tidak Bicara Tentang Indonesia, Ini Berbahaya

Denny Siregar
Foto: Istimewa
Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pegiat media sosial Denny Siregar masih terus menyoroti munculnya surat edaran Kepala Dinas Pendidikan Bangka Belitung yang mewajibkan siswa SMA baca buku tokoh HTI. Sabtu (3/10/20) ia membuat catatan panjang berjudul "Film Animasi Propaganda HTI."

Denny mengatakan: "Jangan kaget juga, kalau HTI bahkan sudah lebih maju dalam membuat film animasi anak-anak. Namanya Nusa dan Rara. Ide cerita film ini, siapa lagi kalau bukan dr salah satu dedengkot HTI, bernama Felix Siaw."

Di Indonesia, menurutnya film masih belum jadi perhatian pemerintah utk propaganda persatuan, tapi dimanfaatkan kelompok hijrah utk propaganda identitas agama.

Menariknya, kata Denny: "Film animasi Nusa dan Rara mau diangkat ke bioskop oleh Visinema. Ini PH besar yang dibelakangnya ada salah satu pendana seperti GDP Ventures, yang notabene punya kelompok Djarum."

Setelah menulis hal itu, Denny kembali membuat catatan panjang dengan judul "Upin Ipin, Propaganda Persatuan Malaysia."

Menurutnya: "Ya, Malaysia pada waktu itu sedang cemas, karena ada potensi pecahnya kesatuan mereka karena tidak ada ikatan yang kuat. Apalagi mereka tidak punya bahasa persatuan seperti kita, bahasa Indonesia. Masing2 ras di Malaysia, pake bahasa ibu. Bahasa Inggris jadi jembatan, tapi tidak punya kedekatan emosional."

Karena "rasa takut" itulah, menurut Denny, muncul film Upin dan Ipin.

"Makanya bagi saya film Nusa dan Rara, sama sekali tidak bicara tentang Indonesia. Tapi bicara tentang eksklusifitas agama. Ini berbahaya dan harus segera diubah, jika ingin negeri ini tetap bersama dalam perbedaan,"  lanjut Denny.

"Dan tanpa bantuan pemerintah, juga ormas besar agama yang ingin menjaga negeri ini, maka doktrin lewat udara atau media sosial, bisa jadi perusak negeri kita lewat generasi masa depan.. Masak untuk ginian aja kita harus diajari Malaysia ?? Malu kann.." tegas Denny.

 

Berikut catatan lengkap Denny:

UPIN IPIN, PROPAGANDA PERSATUAN MALAYSIA

Sewaktu tinggal agak lama di Malaysia, saya sering melihat banner propaganda persatuan dgn tagline "Malaysia satu".

Ya, Malaysia pada waktu itu sedang cemas, karena ada potensi pecahnya kesatuan mereka karena tidak ada ikatan yang kuat. Apalagi mereka tidak punya bahasa persatuan seperti kita, bahasa Indonesia. Masing2 ras di Malaysia, pake bahasa ibu. Bahasa Inggris jadi jembatan, tapi tidak punya kedekatan emosional.

Karena "rasa takut" itulah, muncul film Upin dan Ipin.

Upin Ipin dan keluarganya ini mewakili bangsa Melayu yg mewakili 68 persen etnis di Malaysia. Dan beragama Islam. Tapi di film animasi itu juga memunculkan etnis lain seperti Chinese dan India. Upin Ipin tidak bicara tentang agama, tapi bicara tentang nilai-nilai perbedaan.

Sasarannya adalah anak2, generasi masa depan. Mereka ditanamkan kebhinekaan sejak dini. Model yang seharusnya kita lakukan karena masalah

Malaysia sama dengan kita disini, terutama sejak banyak kelompok agama yang mencoba mendominasi. Menjadikan Indonesia seperti Arab, dengan menghilangkan budaya asli.

Makanya bagi saya film Nusa dan Rara, sama sekali tidak bicara tentang Indonesia. Tapi bicara tentang eksklusifitas agama. Ini berbahaya dan harus segera diubah, jika ingin negeri ini tetap bersama dalam perbedaan.

Ketakutan seharusnya menjadi kekuatan. Korea Selatan takut sama dominasi Jepang dan produk elektroniknya. Maka mereka melakukan propaganda lewat Kpop untuk mengenalkan dirinya. Mereka berhasil. Malaysia dulu takut dengan dominasi Indonesia lewat industri musiknya, maka mereka menciptakan animasi untuk mengenalkan dirinya.

Indonesia takut sama siapa ?? Ga ada. Bahkan ada kelompok 212 yang sama Tuhan pun gak takut, maka mereka dgn seenak udelnya memainkan agama.

Ketidak takutan Indonesia ini bukan kekuatan, justru memperlemah kewaspadaan kita.

Maka kita seharusnya takut dgn propaganda HTI yang ingin menjadikan negeri ini negeri agama. Buatlah film-film sebagai propaganda tentang perbedaan, tentang keragaman dan saling menghormati antar suku dan agama tanpa menggurui. Seperti Upin dan Ipin dengan pesan dahsyatnya..

Dan tanpa bantuan pemerintah, juga ormas besar agama yang ingin menjaga negeri ini, maka doktrin lewat udara atau media sosial, bisa jadi perusak negeri kita lewat generasi masa depan..

Masak untuk ginian aja kita harus diajari Malaysia ?? Malu kann...

Seruput kopinya, kawan.. Ini sebagai pengingat kita semua.

Denny Siregar

Editor : Taat Ujianto