• News

  • Peristiwa

Terkait Gatot-Anies, Faizal: Refly Harun Ngaku Pakar Hukum Tapi Cara Berpikir Ugal-ugalan

Terkait Gatot-Anies, Faizal: Refly Harun ngaku pakar hukum tapi cara berpikir ugal-ugalan.
CNBC
Terkait Gatot-Anies, Faizal: Refly Harun ngaku pakar hukum tapi cara berpikir ugal-ugalan.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Progres 98 Faizal Assegaf menilai, pakar hukum tata negara Refly Haru berperilaku 'politik premanisme' dan cara berpikirnya ugal-ugalan, destruktif dan provokatif.

Hal itu disampaikan Faizal mengomentari pernyataan Refly Harun bahwa akan dahsyat jika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dipersatukan sebagai simbol perlawanan dari rezim saat ini.

"Bung @ReflyHZ, makin sempurna berperilaku 'politik premanisme'. Ngakunya pakar hukum, tapi cara berpikir ugal-ugalan, destruktif & provokatif," tulis Faizal di akun Twitternya, dikutip netralnews.com, Senin (5/10/2020).

Faizal menambahkan, manuver Refly Harun belakangan ini didasari logika akal pendek demi menunjukkan kebencian terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Manuver-manuver anda didasari 'logika akal pendek', demi menunjukan kebencian pada presiden @jokowi. Sikap yang demikian sangat kerdil dalam berdemokrasi," tegas salah satu Presidium Alumni 212 itu.

Sebelumnya, Refly Harun memprediksi bahwa bakal dahsyat jika Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo dipersatukan sebagai simbol perlawanan dari rezim saat ini.

Hal tersebut disampaikan Refly dalam video yang diunggah di akun YouTube-nya, Minggu (4/10/2020). Awalnya, Refly mengulas artikel berita dari salah satu media online yang menulis soal peluang Gatot Nurmantyo mengambil alih peran Prabowo Subianto di politik.

Refly mengatakan, ada ceruk kosong setelah Prabowo Subianto masuk dalam Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)- Ma'ruf Amin. Menurutnya, saat ini ceruk kosong itu diisi oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

"Ceruk kosong yang ditinggalkan Prabowo Subianto. Sejauh ini Anies Baswedan yang mengisi. Banyak sekali pendukung Prabowo yang kecewa yang kemudian menjagokan Anies Baswedan yang dianggap sekarang sebagai simbol perlawanan the establishment rezim Jokowi," katanya.

Refly kemudian membandingkan posisi Anies dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat ini dalam hal menggantikan posisi Prabowo mengisi ceruk kosong itu.

"Ridwan Kamil posisinya in between, tidak jelas. Ganjar Pranowo dianggap putra mahkota dari incumbent, dari arus yang saat ini berkuasa. Jadi bisa dibilang tokoh yang paling populer adalah Anies Baswedan," ujarnya.

Selain Anies, lanjut Refly, saat ini nama Gatot Nurmantyo juga tengah mencuat sejak dideklarasikannya KAMI pada 18 Agustus 2020 lalu, dan adanya upaya penghadangan terhadap KAMI di sejumlah daerah.

"Tapi, akhir-akhir ini mencuat sejak KAMI dideklarasikan dan ada penghadangan dimana-mana, nama Gatot Nurmantyo melonjak, naik terus, dan ada kemungkinan cukup diperhitungkan di perhelatan 2024 (Pilpres)," tutur Refly.

"Apalagi dia adalah purnawirawan TNI dengan pangkat jenderal dan kedudukan tertinggi sebagai Panglima TNI, tentu menberikan keuntungan tersendiri," sambungnya.

Karena itu, salah satu Deklarator KAMI itu menilai akan sangat dasyat jika Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan dipersatukan di Pilpres 2024 mendatang.

"Ya tentu akan dahsyat kalau Gatot dan Anies dipersatukan misalnya sebagai simbol perlawanan dari rezim. Tapi persoalannya, siapa yang mau menjadi nomor dua, karena dalam benak psikologis mereka, mereka harus menjadi the number one, menjadi nomor satu," ungkapnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sulha Handayani