• News

  • Peristiwa

Pelajar Ikut Demo Bakal Sulit Dapat Kerja, TZ Ingat Ahok: Narapidana jadi Komut Pertamina

Wakil Sekjen MUI Tengku Zulkarnain.
Istimewa
Wakil Sekjen MUI Tengku Zulkarnain.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wakil Sekretaris Jendral (Wasekjen) MUI Tengku Zulkarnain menanggapi pernyataan Kapolres Metro Tangerang yang menyatakan siswa yang tertangkap karena ikut demo terancam sulit mendapatkan pekerjaan.

Brutal ! itu kata yang diungkapkan Ustad Zul, sapaan akrab Tengku Zulkarnain. Menurutnya dari memukul anak bangsa, menendangi dan menembaki gas air mata, kini mengancam tidak memberikan SKCK saat mereka kerja.

Ia pun mengaku teringat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mantan narapidana kasus penistaan agama yang bisa menjabat komisaris utama (Komut) PT Pertamina.

"Brutal..? Dari memukuli anak bangsanya, menendangi mereka, menembaki dgn gas airmata, ujungnya mengancam tidak memberi SKCK saat mereka mencari kerja...," kata Ustad Zul, dalam akun Twitternya, @ustadtengkuzul.

"Jadi teringat Ahok. Narapidana bisa jadi Komisaris Utama Pertamina dgn gaji milyaran. Apa pakai SKCK juga, kah? Atau...?," tanya Ustad Zul.

Sebelumnya Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol Sugeng Hariyanto mengatakan, pelajar yang ikut dalam aksi demonstrasi akan terekam dalam catatan kepolisian.

Hal tersebut akan mempersulit pelajar yang mengikuti aksi demonstrasi untuk mendapatkan pekerjaan di masa depan.

"Mereka yang sudah diamankan akan ter-record di Intel dan ini menjadi catatan tersendiri ketika mereka mau mencari pekerjaan," ujar dia dalam keterangan suara, Selasa (13/10/2020).

Untuk itu, kata Sugeng, orangtua harus memperhatikan anak-anak mereka yang masih pelajar untuk tidak mengikuti aksi demonstrasi penolakan Undang-Undang Cipta Kerja.

"Ini tolong menjadi perhatian orangtua untuk memperhatikan hal ini. Ini akan menyulitkan adik-adik (pelajar) nanti ketika mau lulus juga," kata dia.

Sugeng mengatakan sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Banten dan Kota Tangerang untuk melarang pelajar mengikuti aksi demonstrasi.

Reporter : Wahyu Praditya Purnomo
Editor : Nazaruli