• News

  • Peristiwa

Kritisi Gubernur DKI, Ade Armando: Tak Punya Hati, Dia Tak Peduli Nasib Anak-Anaknya

Ade Armando
FB/Ade Armando
Ade Armando

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dosen Komunikasi Universitas Indonesia, Ade Armando, Rabu (21/10/20) membuat cuitan dan mengunggah pernyataannya  dalam video Channel CokroTV yang mengulas pernyataan Gubernur Anies Baswedan terhadap pelajar yang iku demo menolak Omnibus Law beberapa waktu terakhir.

Ade Armando mengatakan: "Anies Baswedan memang tidak punya hati. Dia tidak peduli dengan nasib anak-anaknya .."

Sementara dalam videonya ia menjabarkan secara detail mengapa ia menyimpulkan demikian.

"Komentar Anies Baswedan soal keterlibatan anak dan remaja menunjukkan indikasi kalau Anies Baswedan tidak memiliki kepedulian terhadap anak-anak yang harus ia lindungi di Jakarta," kata Ade Armando.

Sementara sebelumnya diberitakan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akhirnya angkat bicara menanggapi adanya sejumlah anak sekolah yang tertangkap saat mengikuti demonstrasi menolak Undang-Undang Cipta Kerja.

Bahkan, lima di antara anak yang tertangkap merupakan pelajar Sekolah Dasar (SD) yang masih berumur 10 tahun.

Anies pun meminta agar pelajar yang mengikuti demo agar tidak dikeluarkan dari sekolah. Menurut Anies, pelajar yang bermasalah seharusnya mendapatkan pendidikan yang lebih banyak.

Cara memberikan hukuman dengan mengeluarkan dari sekolah bukanlah cara yang tepat untuk anak tersebut bisa belajar.

"Saya selalu sampaikan sudah tidak zaman lagi kalau anak yang bermasalah malah dikeluarkan dari sekolah," ujar Anies dalam rekaman saat wawancara di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (15/10/2020).

Adapun Polda Metro Jaya berencana membuat surat pernyataan kepada para orangtua dan sekolah pelajar yang tertangkap saat kerusuhan. Tujuannya agar orangtua mengetahui dan bisa mengawasi anak tersebut.

Anies sendiri tidak mempermasalahkan rencana tersebut. Sebab menurutnya, sekolah dan orangtua harus merespons dengan memberikan pendidikan yang baik.

"Ini prinsip pendidikan, kalau ada anak yang memerlukan pendidikan lebih jauh. Justru harus diberikan lebih banyak bukan justru malah dikurangi," kata Anies, dikutip dari Kompas.com.

Guru diminta bedah UU Cipta Kerja

Selain itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga meminta guru se-DKI Jakarta memberikan tugas ke para siswa membedah isi UU Cipta Kerja. Agar si murid tidak terkena hoaks.

Anies pun tak masalah dengan pelajar sekolah yang ikut menyampaikan aspirasi menolak pengesahan Undang-undang Cipta Kerja atau UU Ciptaker. Padahal, pada kesempatan itu, tak sedikit pelajar yang bentrok dengan petugas polisi dan melakukan sejumlah perusakan.

"Nanti kalau sekolahnya sudah mulai, nanti gurunya bisa kasih tugas. Kaji ini soal UU Ciptaker," ujar Anies Baswedan.

Diketahui, draft atau naskah terakhir UU Ciptaker berjumlah 1.035 halaman, namun yang diketok pada rapat Paripurna DPR berjumlah 905 halaman, dan yang diserahkan ke presiden 812 halaman.

Tentu bukan perkara mudah membedah dan mempelajari seluruh isinya.

“Jadi, nanti guru ngasih tugas aja. Di mana letak yang menurut Anda perlu diperbaiki, di mana letak yang menurut Anda tidak disetujui,” sambungnya.
Anies menilai dengan turun ke jalan, pengetahuan siswa sekolah terkait wawasan kebangsaan bisa terangsang.

Jadi bagus, seandainya mereka turut melakukan demo. Sebab, itu merupakan gambaran rasa peduli mereka terhadap nasib negara.

“Anak-anak justru dirangsang. Kalau ada anak yang peduli soal bangsanya, bagus dong. Kalau tidak peduli bangsanya justru repot. Sekarang diarahkan. Jadi, diarahkan dengan tugas yang mendidik,” tegasnya.

Terkait banyaknyan pelajar yang melakukan perusakan saat aksi demo berlangsung, Anies Baswedan menilai, tak selayaknya mereka mendapat hukuman, apalagi sampai dikeluarkan sekolah.

Sebab, disitat dari Suara, tindakan tersebut bukan cara yang tepat. Mengingat, pelajar menjadi tak dapat pembinaan.

“Saya selalu sampaikan, sudah tidak zaman lagi kalau anak yang bermasalah malah dikeluarkan dari sekolah. Ini prinsip pendidikan, kalau ada anak yang justru memerlukan pendidikan lebih jauh, justru harus diberikan lebih banyak, bukan malah dikurangi,” katanya lagi.

“Kalau bermasalah, justru harus dapat banyak perhatian dari sekolah. Kalau dia dikeluarkan, maka dia tidak ada yang membina,” kata Anies Baswedan.

Editor : Taat Ujianto