• News

  • Peristiwa

Dituntut Penjara Seumur Hidup, Heru Hidayat Pikirkan Nasib Karyawannya

Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk Heru Hidayat
Istimewa
Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk Heru Hidayat

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk Heru Hidayat mengaku, dampak dari perkara PT Asuransi Jiwasraya(Persero), membuat jumlah karyawan yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang dirintisnya hanya tersisa 1.000 orang dari yang sebelumnya mencapai 10.000 karyawan. 

Hal itu disampaikan Heru dalam pledoinya yang dibacakan dalam sidang lanjutan kasus Asuransi Jiwasraya, Kamis (22/10/2020). “Seluruh karyawan saya yang saat ini hanya tersisa 1.000 orang dari 10.000 orang akibat adanya perkara ini," katanya. 

Heru juga mengaku bahwa dirinya terus memikirkan nasib 1.000 karyawannya setelah ia dituntut hukuman seumur hidup dan penyitaan seluruh asetnya. Pun, ia memikirkan keluarga dan 9.000 karyawan yang kehilangan pekerjaan karena kasus yang menjeratnya. 

“Sebagai pengusaha, saya adalah kepala dan pemimpin bagi 10.000 lebih  karyawan ketika itu, 10.000 karyawan yang berpegang dan menggantungkan hidupnya dan keluarganya kepada saya,” ungkap Heru. 

Dalam pledoinya, Heru menilai bahwa hukuman seumur hidup dan penyitaan aset yang dituntutkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) kepadanya dalam perkara itu bagaikan hukuman mati.

“Saya mendengarkan pembacaan tuntutan pada diri saya, seumur hidup dan seluruh aset saya dirampas, tuntutan yang bagaikan hukuman mati bagi saya, sebab saya dituntut untuk menjalani hidup di penjara sampai mati dan seluruh hasil kerja keras saya selama saya hidup dirampas," ujar Heru. 

"Mendengar tuntutan tersebut saya bagaikan penjahat hina yang tidak pantas mendapatkan kesempatan kedua. Apakah saya memang terbukti telah melakukan kejahatan yang pantas dituntut seperti ini ? Apakah saya pantas mendapatkan tuntutan seperti ini ? Apakah Saya layak mendapatkan perlakuan seperti ini?” tegasnya.

Heru menambahkan, pembacaan tuntutan seumur hidup oleh JPU itu menjadi lanjutan mimpi buruk yang dialaminya ketika pertama kali dipanggil Kejaksaan Agung untuk diperiksa pada 14 Januari 2020. Ia mengatakan tidak akan melupakan hari itu. Apalagi, tambahnya, ketika diperiksa, ia seketika dijadikan tersangka dan ditahan hingga saat ini meringkuk dalam bui. 

“Hari yang bagaikan mimpi buruk yang tak usai-usai sampai saat ini. Saya merasa terjatuh dan sangat terpuruk, sebab saya tidak tahu kenapa saya bisa jadi tersangka,” paparnya.

Heru bahkan mengaku sampai didakwa dan dituntut pun dia tidak mengerti sama sekali isi dakwaan dan tuntutan, serta alasan dia menjadi terdakwa dalam perkara ini.

Heru juga membantah tuntuntan JPU yang menyebutkan dirinya menikmati aliran dana hingga Rp10 triliun dari Jiwasraya. Dalam tuntutan JPU, Heru Hidayat juga diminta untuk mengganti dana tersebut.

Pasalnya, Heru menyebut hingga saat ini tidak memiliki harta kekayaan mencapai Rp10 triliun. “Zaman sudah maju dan terbuka ini, dapat ditelesuri apakah Saya memiliki harta sampai sebesar Rp. 10 Triliun. Lalu darimana dapat dikatakan Saya memperoleh dan menikmati uang Rp10 Triliun lebih?” jelasnya.

Lebih jauh, Heru Hidayat menegaskan bahwa BPK sendiri mengatakan hitungan tersebut diperoleh dari selisih uang yang dikeluarkan Jiwasraya dengan nilai dari saham dan reksadana per tanggal 31 Desember 2019.

Di sisi lain, dia menyebut jika dalam persidangan tak tampak adanya bukti atas tuduhan yang dialamatkan kepadanya terkait penerimaan dana lebih dari Rp 10 triliun. Sepanjang persidangan, jelas dia, tak satupun saksi baik dari Jiwasraya, para Manajer Investasi (MI), maupun broker, yang mengatakan pernah memberi uang sampai Rp10 Triliun kepadanya.

Seperti diketahui, dalam perkara ini, JPU menuntut Heru dipenjara selama seumur hidup ditambah kewajiban membayar uang pengganti sebesar Rp10,728 triliun karena dinilai terbukti melakukan korupsi pengelolaan dana investasi pada PT. Asuransi Jiwasraya yang merugikan keuangan negara senilai Rp16,807 triliun serta tindak pidana pencucian uang.

Editor : Sesmawati