• News

  • Peristiwa

Usai 19 Karyawan Tempo Di-PHK, Denny Siregar Ungkap Rahasia Selamatkan Media

Denny Siregar
Foto: Istimewa
Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dilansir Trenasia.com, dikabarkan bahwa akibat kondisi perekonomian yang kian sulit, pandemi COVID-19 kembali memakan ‘korban baru’ dari industri media. Media terkemuka PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) atau Tempo dikabarkan telah memangkas 19 karyawannya.

Menanggapi hal itu, pegiat media sosial, Minggu malam (25/10/20) membuat catatan panjang berjudul "Tempo, Riwayatmu Kini..."

"Jujur saya dulu sama sekali tidak tahu bagaimana caranya 'cari uang' dari media sosial..," cuit  Denny memulai catatannya.

"Pertama main di FB pastinya. Gak terasa, kawan di FB yang dari angka puluhan, sekarang sudah ratusan ribu. Dan oleh beberapa media saya disebut sebagai influencer, atau orang yang berpengaruh di media sosial. Eh, pada suatu waktu saya dihubungi oleh media online baru. Mereka ingin berita2 mereka dibaca orang. Gimana caranya ? Saya diminta menulis disana. Saya malas trus kasih usul, 'Gimana kalau saya share aja beritanya di pages saya?' Mereka setuju.Sekali share, saya dapat sekian rupiah. Maaf ya, ga mau buka dapur. Pamali, kata orang," lanjut Denny.

"Dan benar saja, setiap saya share beritanya, yang baca bisa ribuan orang. Malah pada momen bagus bisa puluhan sampai ratusan ribu. Media online baru itu puas. Peringkat mereka yang dulu 2000an, langsung melonjak ke angka 50. Mereka bisa cari iklan.. Sejak itulah beberapa media online baru menghubungi saya minta dishare beritanya. Hargapun naik sesuai hukum permintaan," imbuhnya.

"Yang saya lucu media besar sekelas Tempo, bahkan tidak paham strategi ini. Mereka pake bot2 utk membagikan berita mereka. Lah, siapa yang mau baca apa yg dishare oleh bot yang bahkan followernya 0 orang??" lanjutnya.

"Tapi begitulah, banyak perusahaan lebih suka trending di twitter daripada dampak langsung dari dibacanya berita mereka.Cerdaslah dalam menyikapi dunia digital. Atau kelak, mereka yang dulu berjaya, pada akhirnya cuman jadi kerangka dinosaurus yang dipajang di museum nasional," tegas Denny.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

TEMPO, RIWAYATMU KINI...

Jujur saya dulu sama sekali tidak tahu bagaimana caranya "cari uang" dari media sosial..

Main medsos ya main aja. Pertama main di FB pastinya. Gak terasa, kawan di FB yang dari angka puluhan, sekarang sudah ratusan ribu. Dan oleh beberapa media saya disebut sebagai influencer, atau orang yang berpengaruh di media sosial.

Bukan buzzer ya. Buzzer itu akun anonim - biasanya bot - dgn follower minim yg kerjaannya hanya menshare berita saja tanpa ada dampaknya, selain cuman trending doang. Biasanya ada di twitter.

Eh, pada suatu waktu saya dihubungi oleh media online baru. Mereka ingin berita2 mereka dibaca orang. Gimana caranya ? Saya diminta menulis disana. Saya malas trus kasih usul, "Gimana kalau saya share aja beritanya di pages saya ?" Mereka setuju.

Sekali share, saya dapat sekian rupiah. Maaf ya, ga mau buka dapur. Pamali, kata orang

Dan benar saja, setiap saya share beritanya, yang baca bisa ribuan orang. Malah pada momen bagus bisa puluhan sampai ratusan ribu. Media online baru itu puas. Peringkat mereka yang dulu 2000an, langsung melonjak ke angka 50. Mereka bisa cari iklan..

Sejak itulah beberapa media online baru menghubungi saya minta dishare beritanya. Hargapun naik sesuai hukum permintaan.

Dari cerita ini saya hanya ingin membagikan moral story. Bahwa apapun yang kita geluti, dengan cinta dan konsistensi, maka dampaknya adalah rejeki. Bahkan di medsos, yang dulu diejek orang karena disebut "membuang waktu saja".

Yang saya lucu media besar sekelas Tempo, bahkan tidak paham strategi ini. Mereka pake bot2 utk membagikan berita mereka. Lah, siapa yang mau baca apa yg dishare oleh bot yang bahkan followernya 0 orang ?? Tapi begitulah, banyak perusahaan lebih suka trending di twitter daripada dampak langsung dari dibacanya berita mereka.

Media sebesar Tempo, kelak akan dimakan oleh media online baru yang punya strategi lebih cerdik dan efisien. Mereka mungkin terlalu tua, gemuk dan lamban bereaksi, sehingga sudah biaya operasionalnya tinggi, capek2 nulis berita eh gada yang baca lagi..

Cerdaslah dalam menyikapi dunia digital. Atau kelak, mereka yang dulu berjaya, pada akhirnya cuman jadi kerangka dinosaurus yang dipajang di museum nasional.

Dengan tulisan, "Dulu pernah ada majalah besar, enak dibaca dan perlu, bernama Tempo".

Seruput kopinya, kawan..
Denny Siregar

19 Karyawan Tempo Kena PHK

Mengenai berita PHK tersebut, Direktur Pengembangan Bisnis Tempo.co Tomi Aryanto tidak membantah adanya kabar pemecatan bagi sejumlah karyawannya itu. Menurutnya, saat ini Tempo tengah melaksanakan transformasi unit digital perusahaan sehingga dibutuhkan penyesuaian bagi personel-personel di dalamnya.

“Dalam proses itu diperlukan penyesuaian formasi sumber daya termasuk personel,” terang Tomi melalui pesan singkat kepada TrenAsia.com, Minggu 4 Oktober 2020.

Unit digital yang dimaksud ini merupakan divisi pemberitaan. Hal tersebut dilakukan, sambung Tomi, agar Tempo bisa tetap memberikan melayani publik dan tetap mengabarkan berita-berita yang berkualitas.

“Unit yang ada didesain kembali untuk memenuhi kebutuhan tersebut sehingga Tempo bisa tetap melayani publik untuk mendapatkan berita-berita berkualitas,” kata dia.
Citra Media

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Indenden (AJI) Indonesia Abdul Manan mengakui bahwa kini situasi industri media memang sedang berat. Apalagi, perusahaan media saat ini masih amat bergantung pada industri lainnya.

Ketika ekonomi lesu, maka pendapatan media juga akan menurun mengingat banyak perusahaan yang pasti bakal mengetatkan bujet iklannya. Dalam keadaan ini, Manan memaklumi jika ada beberapa media yang berupaya melakukan sejumlah efisiensi demi memangkas beban operasional.

Namun, dia mengingatkan bahwa aksi pemutusan hubungan kerja (PHK) mestinya menjadi opsi terakhir yang diambil perusahan. Daripada melakukan PHK, sambung dia, ada baiknya jika perusahaan mengambil opsi pengurangan gaji.

“Asal perusahaan bisa mengomunikasikannya kepada pekerja, opsi pengurangan gaji itu bisa lebih diterima ketimbang PHK,” kata Manan.

Di luar itu, Manan mengingatkan jikapun opsi PHK harus diambil, maka perusahaan harus betul-betul memerhatikan pemenuhan hak-hak karyawannya. Jangan sampai media yang selama ini vokal menjadi corong bagi perjuangan hak-hak pekerja, malah bertindak semena-mena pada karyawannya sendiri.

Hal ini, lanjut dia, bakal menjadi preseden buruk bagi perusahaan dan tentu juga melunturkan kepercayan pembaca kepada media itu sendiri. Plus, bisa menjadi celah pelanggaran hukum yang bakal membawa perusahaan dan karyawannya harus bertarung di pengadilan.

“Hormatilah hak para pekerja itu, karena kalau tidak diberikan (hak-haknya) bisa berujung pada masalah hukum,” tegas dia.

Tak hanya Tempo, belum lama ini sejumlah media Tanah Air juga melakukan hal serupa. Beberapa media yang terpaksa merumahkan karyawannya adalah The Jakarta Post hingga media daring Kumparan.

Editor : Taat Ujianto