• News

  • Peristiwa

Satgas Covid Sentil Pemicu Keramaian, Eko: Solusinya Tinggal Bagikan Masker!

Pegiat media sosial Eko Kuntadhi
Istimewa
Pegiat media sosial Eko Kuntadhi

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pegiat media sosial Eko Kuntadhi memberikan saran yang nyeleneh kepada Satgas Penanganan Covid-19. Eko malah menyarankan agar satgas tidak Perlu repot menyentil pemicu kerumunan Karena solusinya tinggal Bagikan saja masker.

"Solusinya gampang : bagiin masker!" Tulis Eko di akun Twitternya, Senin (16/11/2020).

Sebelumnya, ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyentil para pemicu kerumunan yang bisa mengakibatkan banyak penularan kasus positif baru.

Kasus penularan COVID-19 di Jakarta yang kembali melonjak menjadi perhatian Satgas. Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo menyebut saat ini ICU di 98 rumah sakit rujukan COVID-19 di Jakarta sudah terisi 68 persen.

"Tentunya kita berharap ruangan-ruangan ICU ini, termasuk juga ruangan isolasi, tidak boleh penuh. Satu hal, adalah meningkatkan disiplin dan kesadaran kolektif untuk tidak melakukan berbagai macam acara yang dapat menimbulkan kerumunan," kata Doni dalam konferensi pers secara virtual, Minggu (15/11/2020).

Doni juga mengatakan dalam 2 minggu terakhir kasus pasien corona mengalami peningkatan terutama di ruang isolasi di sejumlah rumah sakit.

Dalam dua minggu terakhir ini, angka kasus mengalami peningkatan terutama di ruang isolasi, yang semula 32 persen, saat ini naik ke posisi 53 persen," lanjut Doni.

Untuk itu, ia meminta agar masyarakat dan seluruh tokoh untuk tidak menggelar acara yang memicu keramaian dan menyebabkan penularan. Termasuk acara pernikahan.

"Sekali lagi, kepada semua pihak, terutama tokoh yang memiliki keinginan untuk menyelenggarakan acara-acara yang menciptakan kerumunan, tolong ditunda dulu, sampai kondisi pandemi ini betul-betul bisa kita kendalikan,” tegasnya.

Doni juga mengultimatum siapa pun yang tetap berkukuh menciptakan kerumunan di tengah pandemi corona. Doni mengingatkan, aktivitas dan kegiatan yang mengundang keramaian akan berpotensi membahayakan keselamatan orang banyak.

"Mereka yang menyelenggarakan kegiatan tersebut nantinya bukan hanya mendapatkan sanksi di dunia oleh pemerintah, tetapi juga kelak di kemudian hari akan mendapat permintaan pertanggungjawaban oleh Allah SWT, karena kegiatan-kegiatan yang menimbulkan kerumunan itu, terjadi penularan," tutur Doni.

Selain itu, Doni menyinggung acara pernikahan yang digelar Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab untuk putrinya. Doni menegaskan, Pemprov DKI Jakarta tidak pernah mengizinkan acara yang memicu kerumunan, termasuk acara pernikahan tersebut.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak pernah mengizinkan, Gubernur DKI melalui Wali Kota jakarta Pusat telah membuat surat, nanti suratnya bisa dilihat, telah kami peroleh dari Pemprov DKI," kata Doni.

Doni menjelaskan, saat acara itu, pihaknya memang membagikan ribuan masker. Sebab, berdasarkan laporan Kasatpol PP DKI Jakarta, Arifin, ada sekitar 7 ribu orang yang berkumpul dan sebagian besar tidak mengenakan masker.

Bisa dibayangkan kalau tidak ada bantuan masker, lantas ada yang terpapar COVID-19, satu sama lainnya bisa menulari. Proses penularan akan terjadi, semakin banyak dan mengkhawatirkan kita," kata Kepala BNPB itu.

Terkait acara tersebut, Doni juga mengapresiasi keputusan Gubernur DKI Anies Baswedan yang mengambil langkah tegas memberikan sanksi denda kepada pihak Habib Rizieq Syihab dan Front Pembela Islam (FPI) karena melanggar aturan penerapan protokol kesehatan.

Doni menyebut, sanksi denda yang diberikan Pemprov DKI menjadi denda yang tertinggi selama PSBB transisi, yaitu Rp 50 juta.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Sesmawati