• News

  • Peristiwa

Jangan Takut Bicara Sex, Jika Tak Ingin Ada Pelecehan pada Anak Anda

Perkenalkan sex pada anak sejak dini.
Dok: Astra
Perkenalkan sex pada anak sejak dini.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Suara tawa anak-anak dan remaja terdengar renyah saat menikmati dongeng yang disampaikan oleh kelompok pemuda asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada sore hari waktu Indonesia bagian tengah.

“Dengan cara seperti ini kami merangkul anak remaja untuk memahami tubuhnya sendiri,” ujar Mariana Yunita Hendriyani Opat, Pengedukasi Hak Kesehatan Seksual Anak, yang sekaligus juga pendiri Tenggara Youth Community.

Mariana atau yang akrab disapa dengan Tata bersama dengan rekannya mendirikan Tenggara Youth Community dan mencetuskan program Bacarita Kespro yang ditemukan dengan komunitas antar desa untuk memberikan edukasi mengenai kesehatan seksual dan reproduksi untuk anak remaja. Edukasi disampaikan dengan metode pembelajaran inovatif seperti mendongeng, permainan edukasi, dan penggunaan alat peraga.

Bacarita Kespro berasal dari kata bacarita dalam bahasa Melayu Kupang berarti ‘bercerita’. Target program ini adalah remaja yang berasal dari kelompok poor, marginal, social excluded, dan underserved.

“Saya menemukan fakta sebagian besar dari 500 remaja di NTT tidak memiliki akses terhadap sumber informasi pendidikan seksual dan komunitas untuk menceritakan persoalan pendidikan seksual. Angka ini selaras dengan beragam persoalan lainnya seperti kasus pelecehan seksual yang masih kerap terjadi atau kehamilan luar nikah di kalangan remaja NTT,” tutur sosok kelahiran Kiupukan pada 3 Juli 1992, dalam siaran persnya, Selasa, (24/11/2020).

Melihat banyaknya anak dikeluarkan dari sekolah saat menghadapi kasus kehamilan di luar pernikahan, serta minimnya pemahaman orang tua mengenai hak dan kebutuhan remaja, Tata menggerakkan programnya untuk memberikan komunikasi dua arah, dimana peran orang tua dan anak diikutsertakan.

Pendidikan Kesehatan
Hambatan utama dalam program ini adalah tembok tabu dalam konteks pendidikan seksual. Tidak semua orang menyadari pentingnya pendidikan seksual usia dini. Bahkan, untuk bercerita kepada lingkungan terdekat seperti keluarga dan saudara, tidak semua remaja bisa melakukannya. Dan tidak mudah pula meyakinkan komunitas, termasuk lingkungan gereja mengenai pendidikan seksual

“Waktu saya menduduki bangku sekolah dasar, saya mengalami kekerasan serupa, namun hal tersebut seakan lumrah. Hingga pada saat perguruan tinggi, saya merasa harus bergegas untuk mencarikan solusinya, yakni dengan edukasi kesehatan yang membuat para anak remaja berani untuk bercerita kepada orang tua, dan orang tua dapat wawasan untuk menjelaskan,” ujar sosok perempuan lulusan
Universitas Nusa Cendana.

Salah satu indikator keberhasilan program tersebut adalah ketika orang tua mulai terbuka terhadap pendidikan seksual. Tidak hanya menjelaskan kepada anaknya, tetapi juga orang tua lain. Tata merasa, mereka bisa dikatakan berhasil jika pendidikan seksual dibicarakan secara terbuka di lingkungan keluarga.

Dalam konteks paling pragmatis, Tenggara Youth Community juga mengukur keberhasilan dengan pemahaman materi ajar. Misalnya, mereka membuat kuis setelah penyampaian materi dan jika pemahaman telah berubah, Tata mengatakan hal itu bisa menjadi indikator keberhasilan program.

Editor : Sulha Handayani