• News

  • Peristiwa

Imbauan Fadli: Pemerintah Harus Rangkul HRS, TNI Stop Menakut-nakuti Masyarakat

Politisi Fadli Zon
Istimewa
Politisi Fadli Zon

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politisi Partai Gerindra Fadli Zon berpendapat, seharusnya pemerintah merangkul Imam Besar Front Pembela (FPI) Islam Habib Rizieq Shihab (HRS).

Hal itu disampaikan Fadli terkait hiruk pikuk perdebatan dan bahkan polemik berkepanjangan hingga melibatkan berbagai macam institusi yang mewarnai kepulangan Habib Rizieq ke Indonesia sejak (10/11/2020) lalu.

"Seharusnya pemerintah merangkul Habib Rizieq, seorang warga negara, seorang ulama, dan juga tokoh masyarakat yang banyak sekali pengikutnya di Indonesia.

Merangkul dalam arti sebagai warga negara," kata Fadli dalam video yang diunggah di akun YouTube-nya, Senin (23/11/2020).

"Karena beliau selama kurang lebih 3,5 tahun berada di Arab Saudi dan mengalami juga berbagai macam dinamika bahkan fitnah di sana, di Arab Saudi. Dan akhirnya kembali ke Tanah Air dengan selamat, disambut oleh lautan manusia," sambungnya.

Menurut Fadli Zon, ada beberapa hal mengapa pemerintah harus merangkul Habib Rizieq, bukan dimusuhi.

Pertama, Fadli menyebut, Habib Rizieq adalah seorang habaib, seorang sayyid, keturunan Nabi Besar Muhammad SAW. Hal itu dikonfirmasi juga oleh sebuah institusi Rabithah Alawiyah, yang memang mempunyai sebuah data tentang bagaimana kekerabatan, keturunan Nabi Muhammad.

"Dalam masyarakat Indonesia, sejak jauh sebelum kemerdekaan, tentu mereka yang mempunyai keturunan langsung dari Nabi Muhammad mempunyai posisi yang istimewa dalam masyarakat kita, biasanya menjadi seorang ulama, menjadi panutan, menjadi teladan dan seterusnya, dan Habib Rizieq telah menunjukkan itu," ujarnya.

Kedua, Fadli mengatakan, Habib Rizieq adalah pemimpin FPI, sebuah organisasi yang secara de facto mempunyai pengikut yang cukup banyak di seluruh Indonesia.

"Bahkan FPI sangat aktif di dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, kemanusiaan. Ketika terjadi bencana di berbagai tempat selalu biasanya berada di paling depan. Mereka yang datang paling awal dan mereka pulang paling belakang. Jadi sangat jelas kegunaan dari organisasi ini dan ternyata banyak yang mengikutinya," ungkapnya.

Kemudian, lanjut Fadli, posisi Habib Rizieq sebagai ulama yang dijadikan panutan oleh banyak orang, diteladani, bahkan dijuluki imam besar.

"Ini adalah fakta-fakta yang tidak bisa kita abaikan. Dan menurut saya, fakta itu sudah ditunjukkan dengan kembalinya Habib Rizieq, kemudian peristiwa ketika Habib Rizieq ke Megamendung, begitu juga Maulid di berbagai tempat telah menimbulkan kerumunan yang mereka (pengikut HRS) datang sendiri ke tempat tersebut, tidak ada pengarahan, apalagi paksaan," jelasnya.

Fadli melanjutkan, antusiasme massa menyambut dan mengikuti berbagai kegiatan HRS itu kemudian dipersoalkan seolah-oleh ada pelanggaran protokol kesehatan.

"Ini yang juga kemudian dipersoalkan seolah- olah ada pelanggaran terhadap protokol kesehatan. Tentu kita juga harus menjaga protokol kesehatan dalam konteks menghindari kerumunan, menjaga jarak, memakai masker dan selalu mencuci tangan. Saya kira saya pun sangat setuju dan selalu mengkampanyekan itu," jelas Fadli.

Namun di luar konteks itu, Fadli menganggap, penanganan berbagai isu protokol kesehatan terkait sejumlah acara HRS, sudah jauh berlebihan.

Selain penanganan protokol kesehatan yang berlebihan, Fadli juga menyinggung penurunan baliho Habib Rizieq oleh prajurit TNI. Ia mengaku prihatin dengan keterlibatan TNI dalam penurunan baliho itu.

"Kita sangat sayang dan sangat bangga dengan TNI kita yang dilatih sedemikian rupa, dan TNI itu berasal dari rakyat dan bekerja melindungi NKRI dari berbagai ancaman, terutama ancaman dari luar," imbuhnya.

"Kita sangat prihatin, kenapa TNI yang kita bangga-banggakan itu akhirnya ikut campur dalam satu urusan yang seharusnya bisa diselesaikan oleh Satpol PP atau bahkan oleh institusi yang berada di bawah Satpol PP," tandas Fadli.

Lebih jauh, Fadli pun mengkritik menuver TNI-Polri di sekitar markas FPI di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat.

Fadli berpendapat, manuver TNI-Polri itu  untuk menakut-nakuti masyarakat. "Tentu saja masyarakat sipil bukanlah lawan militer. Militer, tentara kita yang gagah perkasa itu mempunyai senjata dan lawannya bukanlah masyarakat, bukanlah rakyat sipil, apalagi ini (Habib Rizieq) adalah seorang ulama," katanya.

Untuk itu, Fadli menghimbau kepada TNI-Polri agar menghentikan semua manuver-manuver itu. "Saya menghimbau sebaiknya dihentikanlah upaya-upaya menakut-nakuti masyarakat, menakut- nakuti masyarakat dengan cara-cara seperti ini," jelas Fadli.

Di akhir video itu, mantan Wakil Ketua DPR ini kembali mengingatkan pemerintah untuk merangkul Habib Rizieq dan ulama lainnya serta para kyai.

"Sekali lagi saya menghimbau kepada pemerintah, seharusnya Habib Rizieq itu dirangkul, bukan dimusuhi. Begitu juga dengan para ulama, para kyai, dan juga para masyarakat. Jangan sampai ada terkesan ini adalah ketidaksukaan terhadap ulama, kyai, habaib atau ketidaksukaan terhadap Islam," pungkasnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli