• News

  • Peristiwa

Perwakilan UNICEF Sebut Anak-anak Paling Dirugikan oleh Pandemi COVID-19

Ilustrasi anak yang sedang demam.
Ilustrasi anak yang sedang demam.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Perwakilan dari Komite Pengendalian COVID-19 UNICEF Arie Rukmantara mengatakan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling dirugikan atau menjadi korban oleh dampak pandemi COVID-19 karena terbebani dari berbagai aspek.

"Yang paling dirugikan dalam krisis kesehatan pasti anak-anak. Karena mereka tidak punya sumber daya yang mumpuni untuk memutuskan bagaimana keluar dari krisis kesehatan ini. Mereka adalah korban yang paling terpinggirkan, mereka adalah korban dari pandemi ini," katanya dalam keterangannya pada diskusi mengenai sosialisasi adaptasi kebiasaan baru yang dipantau secara daring di Jakarta, Rabu (25/11/2020).

Ia menyatakan, UNICEF sejak awal selalu melibatkan diri dalam menangani krisis kesehatan termasuk pandemi COVID-19, khususnya untuk anak-anak.

Menurutnya, UNICEF telah terlibat dalam beberapa wabah penyakit yang terjadi di dunia termasuk di Indonesia seperti H1N1 pada 2009, wabah kolera pada 2014, MERS-CoV pada 2012 di Arab Saudi, wabah flu burung tahun 2016, dan pada masa dulu di Indonesia terjadi KLB polio, KLB difteri, KLB gizi buruk dan sebagainya.

"Prinsipnya mencegah lebih baik daripada mengobati. Saat ini bagaimana menekan seminimal mungkin supaya pencegahan jadi pencegahan utama untuk melindungi masyarakat terutama anak-anak Indonesia," kata dia.

Ditegaskannya juga, cara menyosialisasikan adaptasi kebiasaan baru bagi anak-anak adalah dengan mencontohkannya secara langsung dan dilakukan berulang-ulang.

Anak-anak harus diberikan pemahaman disertai dengan bukti dari penelitian atau sains mengenai pencegahan COVID-19 dengan 3M, yakni  menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak 

"Bahwa penggunaan masker dalam 3M ini ada sainsnya, anak-anak akan mudah menerimanya," kata dia, seperti dilansir Antara.

Ia menambahkan, sejumlah penelitian mengemukakan bahwa masker yang digunakan bisa menurunkan risiko sampai 50 hingga 70 persen, sementara mencuci tangan menurunkan tingkat risiko hingga 85 persen.

Dengan demikian, anak-anak harus dibiasakan dalam menjaga jarak, atau menghindari kerumunan. "Kalau digabung semuanya mudah-mudahan kita terlindungi sama sekali dari COVID-19, artinya ada kemungkinan kita tetap produktif dan aman dari COVID-19," imbuhnya.

 

Editor : Irawan.H.P