• News

  • Peristiwa

MUI Masih Diperlukan bagi Indonesia? AA: Soal Rizieq Tak Berani Bersikap, Apa Gunanya?

Ade Armando
FB/Ade Armando
Ade Armando

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dosen Universitas Indonesia (UI) Ade Armando menyampaikan pendapatnya tentang keberadaan Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta mengusulkan bagimana semestinya MUI bersikap terhadap Habib Rizieq Shihab (HRS).

Kamis (26/11/20), melalui akun FB-nya, Ade mencuit: "Majelis Ulama Indonesia menyelenggarakan Musyawarah Nasional. Masih diperlukankah MUI di Indonesia? Kalau soal Rizieq saja MUI tak berani bersikap, ya apa juga gunanya mereka ada?"

Sementara dalam video Chennel Youtubenya, Ade menulis: "Majelis Ulama Indonesia harus bicara soal Rizieq kalau MUI masih ingin Islam dianggap sebagai agama yang membawa rahmat bagi sekalian alam dan kalau MUI masih ingin ulama Indonesia dihormati. Mengapa?"

Bagi Anda yang ingin mengetahui penjelasan lebih jauh, bisa simak DI SINI.

Sementara sebelumnya diberitakan, Ketua Umum nonaktif Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin mengibaratkan MUI sebagai suatu kereta yang diisi oleh banyak gerbong organisasi kemasyarakatan (ormas). Dia menegaskan, jika satu ada satu orang di dalam gerbong tak mengikuti masinis sebagai pengendali menuju tujuan dapat keluar.

"Saya mengumpamakan MUI seperti kereta api. Kereta api ada rel, ada pakem, ada rute, ada tujuan yang jelas ada stasiunnya. Banyak gerbongnya yang mencerminkan beragam ormas yang banyak orang," kata Ma'ruf Amin dalam sambutan Munas X MUI di Hotel Sultan, Rabu (25/11/2020) malam.

Ma'ruf yang juga Wapres RI ini menjelaskan, setiap orang yang berada di dalam gerbong kereta harus mengikuti masinis menuju tujuan yang sudah ditetapkan. Jika ada orang tidak sesuai dengan masinis, dapat keluar dari MUI sebagai kereta dan memilih kendaraan lainnya."Orang yang tidak sesuai dan jalan yang dilalui sebaiknya tidak naik kendaraan MUI. Sebaiknya menggunakan kendaraan lain saja sesuai dengan keinginannya," jelasnya.

Dia menjelaskan, jika orang tidak mengikuti MUI yang memiliki prinsip Islam wasathiyah, dapat keluar dari MUI. "Begitu juga dalam ber-MUI harus tunduk dan patuh pada prinsip dan garis MUI. Bila tidak cocok hal itu bisa gunakan organisasi lain dan tidak menggunakan MUI," jelasnya.

Dia juga menegaskan kepada para pengurus MUI agar tetap menyesuaikan diri sesuai karakter dan jati diri kelembagaan MUI. Setiap pengurus harus menjadi contoh dalam dalam berkehidupan dan beribadah. "Label keulamaan yang kental terhadap MUI menuntut setiap pengurus bukan hanya penggerak tapi juga teladan dalam aspek pengamalan agama," pungkasnya.

Editor : Taat Ujianto