• News

  • Peristiwa

Ade Sebut Ada yang Panik dan Takut Jika Habib Rizieq ‘Dihabisi‘, Kenapa? 

Ade Armando, dosen Universitas Indonesia dan peneliti Saiful Mujani Research Center.
saifulmujani.com
Ade Armando, dosen Universitas Indonesia dan peneliti Saiful Mujani Research Center.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dosen Universitas Indonesia (UI) Ade Armando mengomentari sejumlah pihak, termasuk beberapa politisi yang mengecam sikap TNI terhadap Habib Rizieq Shihab (HRS) dan Front Pembela Islam (FPI) cs. Ia menyebut, mereka membangun narasi-narasi untuk menyudutkan dan membuat pemerintah bimbang. 

"Saat ini kita mendengar banyak suara yang mengecam keterlibatan TNI. Mereka nampaknya ingin pemerintah bimbang. Narasi yang terus mereka angkat adalah TNI nggak boleh berpolitik, tidak boleh berpihak, kewajiban TNI kata mereka bukanlah menjaga ketertiban dan keamanan, itu adalah kerjaan polisi," kata Ade di kanal YouTube Cokro TV, dilihat netralnews.com, Kamis (26/11/2020). 

"TNI kata mereka seharusnya cuma campur tangan saat negara terancam oleh kekuatan-kekuatan yang hendak menghancurkan Indonesia. Lawan TNI bukan masyarakat sipil, lawan TNI kata mereka misalnya adalah OPM. TNI kata mereka seharusnya tidak ikut menurunkan baliho dan spanduk, keterlibatan TNI dituduh akan mematikan demokrasi dan mengembalikan Indonesia ke era pemerintahan otoriter," sambungnya. 

Ade menilai, pihak-pihak tersebut membangun narasi demikian karena mereka ketakutan. "Segenap serangan itu menunjukkan ada ketakutan besar dengan langkah-langkah tegas TNI saat ini. TNI memang sedang menunjukkan ketegasannya," ujarnya. 

Menurut Ade, ketegasan TNI terhadap Habib Rizieq dan kelompoknya sudah tersirat dari pernyataan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto 15 November 2020 lalu yang menyebut bahwa siapa pun pengganggu kesatuan dan persatuan bangsa akan berhadapan dengan TNI, dan tidak ada satu pun akan dibiarkan melakukan ancaman dan gangguan terhadap cita-cita luhur bangsa dan negara Indonesia. 

"Panglima TNI memang tidak secara spesifik menyebut satu nama orang atau organisasi, tapi publik tahu siapa yang dituju. Pernyataan ini dikeluarkan 5 hari setelah Rizieq tiba di Jakarta dan menyelenggarakan rangkaian acara yang menghebohkan Indonesia," ungkap Ade. 

Usai pernyataan itu, lanjut Ade, di sepanjang pekan berikutnya berlangsung penurunan dan pencabutan baliho dan spanduk Habib Rizieq di banyak kota, seperti di Jakarta, Cianjur, Bekasi, Semarang, Solo, Palembang, Mataram dan kota-kota lainnya. 

"Di hampir semua kota itu yang melakukan penurunan adalah Satpol PP. Namun di beberapa lokasi seperti di Petamburan, Jakarta, terlihat jelas anggota TNI berjaga-jaga dan bahkan juga menurunkan gambar-gambar Rizieq," ucap dia. 

Ade menambahkan, ketika penurunan baliho-baliho HRS itu ramai dipertanyakan, Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman menyatakan keterlibatan TNI di Jakarta dilakukan memang atas perintah Pangdam. Lebih dari itu Pangdam Jaya dengan jelas mengatakan bila perlu bubarkan saja FPI, dia bilang FPI jangan main-main. 

"Belum cukup itu, media memberitakan bahwa kendaraan komando operasi khusus TNI parkir di dekat markas FPI di Petamburan. Mereka hanya berhenti, tidak ada tindak kekerasan apapun terjadi. Tapi kita semua tahu TNI sedang menyatakan kepada FPI bahwa mereka ada kalau FPI sampai macam-macam," imbuhnya. 

Ketegasan TNI inilah, kata Ade,  menyebabkan banyak orang panik jika sepak terjang Habib Rizieq benar-benar dihabisi. Dan jika itu terjadi, menurut Ade, cita-cita mereka untuk menggunakan Habib Rizieq sebagai kendaraan politik akan hancur berantakan. Karena itulah mereka membangun narasi seolah-olah TNI dan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) mengkhianati demokrasi. 

"Banyak yang panik bahwa Rizieq benar-benar akan dihabisi. Dan kalau Rizieq dihabisi, efek dominonya akan luar biasa. Ini akan menghancurkan FPI dan juga menggetarkan kelompok-kelompok radikal lain, artinya segenap cita-cita untuk menggunakan Rizieq sebagai kendaraan politik akan hancur berantakan," imbuhnya. 

"Karena itulah mereka berusaha memfram demokrasi di Indonesia seolah-olah sedang menunju kematian. Mereka berusaha menuduh bahwa tentara dan Jokowi mengkhianati demokrasi," pungkas Ade. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Irawan.H.P