• News

  • Opini

Satu Jam Bersama Veronica, Perempuan Batu Karang yang Dihantam Gelombang Tak Melawan

Birgaldo Sinaga saat menyerahkan buku ke Veronica Tan
foto: istimewa
Birgaldo Sinaga saat menyerahkan buku ke Veronica Tan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kali ini saya ingin cerita berbeda. Cerita yang tak begitu penting. Saking gak pentingnya, saya berharap yang membaca tidak perlu berkernyit dahi. Setidaknya jangan baper lalu berpolemik. Anggaplah cerita ini pengantar istirahat siang.

Beberapa waktu lalu, sebuah foto Ahok bersama Puput wara wiri di timeline kita. Foto itu semakin riuh bergemuruh karena ada latar Anies Baswedan seterusnya di Pilgub DKI 2017.

Ada yang bertanya, di mana Veronica Tan saat itu? Banyak yang merindu pada Veronica. Bayang-bayang Veronica nampaknya masih terbawa saat orang melihat Ahok. Dan lucunya Ahok juga masih menyenggol nama Veronica saat ia berbicara di acara launching bukunya beberapa hari lalu.

Bagaimana dengan Veronica? Apakah ia pernah bicara soal kisah hidupnya?

Jejak digital tidak ada satupun mencatat komentar Veronica saya dengar. Sampai hari ini ia masih membungkam mulutnya. Diam serapat2nya. Ia menjadi misteri. Ia bagai batu karang kokoh yang dindingnya terus dihantam gelombang tapi tetap diam teguh tidak melawan.

Tentu tulisan ini bukan bermaksud menuliskan kisah Ahok Veronica. Saya bukanlah William Shakespeare yang mengisahkan kisah romantika Romeo dan Juliet.

Saya sama seperti anda yang hanya penonton tanpa tiket. Mendengar tapi tidak pernah menyaksikan drama dengan mata dan telinga sendiri. Jadi diam dan masa bodo adalah sikap terbaik dari cerita tanpa orkestra musik ini.

Begini ceritanya.

Ada sekitar 7 kali saya bertemu dengan Veronica perempuan punya daya tarik alami ini. Enam pertemuan dengannya pada acara debat kandidat, konser Gue 2 dan beberapa tempat acara lain. Enam pertemuan itu sekedar berjabat tangan. Tidak lama paling 20 detik.

Tapi, pada Minggu, 9 April 2017, benar-benar spesial. Kala itu masa-masa kampanye. Acara senam pagi bersama warga Sunter di Gor itu punya memori tersendiri buat saya.

Acara dimulai pukul 07.00 WIB. Ratusan warga Sunter ramai ikut senam pagi. Lagu Maumere menemani joged senam pagi yang dipandu Melsa Pardede.

Saya juga membagikan buku kepada warga. Buku Mengapa Aku Membela Ahok diserbu warga saat dibagikan. Bahkan tidak sampai hitungan jam 2000 buku ludes dibagikan.

Sekitar pukul 09.30 Wib Veronica tiba. Senam seketika berhenti. Para ibu yang tahu kedatangan Veronica langsung menyerbu. Berebut menyalami. Sontak riuh sorakan dan tepuk tangan mengiringi Veronica naik ke panggung.

Saya mengucapkan selamat datang kepadanya. Veronica datang hanya ditemani seorang perempuan berambut pendek. Wajahnya bulat putih bersih. Ia tampak sigap mengawal Veronica. Siapapun yang coba macam-macam colek Veronica kudu hati-hati jika tidak ingin kena plintiran ala Wong Fei Hung ajudannya.

Saya menjadi MC memandu acara tatap muka menyapa warga pagi itu. Tentu kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Di tangan saya nasib Veronica pagi itu.

Saya bisa minta Veronica melucu, atau cerita mengapa bisa jatuh cinta sama Ahok yang keras kepala itu. Tapi itu tidak saya tanya, gak berani. Hihihi

Saya punya waktu 1 jam memandu acara itu. Itu artinya saya bisa berdiri di samping Veronica hampir satu jam. Bayangkan berdiri di sampingnya satu jam tanpa ada Ahok. Ini namanya rezeki anak soleh. Yekannn.

Layaknya MC, tentu saya perkenalkan Veronica secara singkat.

“Ibu-ibu yang cantik..bapak-bapak yang ganteng dan semua yang berbahagia…Ini Bu Vero yang cantik dan baik hati akan menyapa kita semua…tepuk tangan donkkk,“ ucapku sambil melirik Veronica yang tersenyum mendapat aplaus meriah warga.

Saya segera memberinya microphone. Veronica langsung menyapa warga. Menyapa dengan senyum cemerlang miliknya. Ia bicara program PKK yang dipimpinnya. Pergerakkan timnya yang membantu warga miskin dan terpinggirkan. Cukup panjang ia bicara.

Lima menit ia bicara saya masih menyimak apa yang diucapkannya. Selebihnya saya lupa. Hanya suara lembut lamat-lamat yang terdengar masuk ke telinga saya.

Aku lebih tertarik mengamatinya. Gerakan ekspresinya saat berbicara. Dari dekat sekali aku melihat penampilannya yang sangat bersahaja. Bahkan untuk ukuran emak-emak biasa yang hendak pergi ke gereja, penampilan Veronica terlalu sederhana.

Saya sering melihat penampilan para emak istri pejabat di ibadah gereja. Koleksi perhiasan emas miliknya menempel di badannya. Ditungkai kaki akan terlihat bergemerincing gelang emas 24 karat dengan lonceng kecil. Kring..kring…kringg bunyinya saat berjalan. Semua mata melihatnya.

Di tangan kanan ada gelang 12 rupa. Di tangan kiri jam tangan merk terkenal lengket. Naik ke leher, kalung emas 24 karat plus permata besar terlihat. Naik ke atas lagi ada giwang gede bermata intan menyilaukan mata. Naik ke atas lagi sanggul besar bertusuk konde emas makin melengkapi penampilannya.

Tas tangan bermerk Hermes padu dengan warna yang serupa dengan corak pakaiannya semakin menambah daya tarik emak istri pejabat itu. Jadilah ia pusat perhatian. Baju ketat kebaya berleher rendah kadang memperlihatkan lekukkan bodinya yang tidak enak lagi dilihat.

Veronica pagi itu terlalu sederhana. Saya sampai berpikir apakah Veronica lupa pake cincin? Apakah Veronica lupa pake giwang? Apakah Veroniva lupa dandan pake maskara, perona pipi, lipstick?

Apa Veronica lupa pake parfum? Mengapa hidungku tidak mencium farfum Dolce Gabana atau Luis Vitton seperti istri pejabat umumnya? Apakah mungkin karena tertimpa bau badanku karena makan nasi goreng petai semalam? Hihihi

Biasanya saat bertemu, Veronica selalu pake celana panjang. Kadang bahan kain, kadang jeans. Tapi pagi itu, ia pake rok hitam selutut padu baju putih tanpa kerah. Kontan imajinasi saya yang mendengar Ahok bilang kaki Veronica indah tercolek.

Saya melirik kakinya. Sepatu coklat muda yang ku taksir buatan dalam negeri seharga 500 ribu nampak pas membungkus kakinya.

Tak ada rantai emas melingkar ditungkai kakinya. Sepasang kaki indah dengan bentuk betis bagus menahan tubuh rampingnya. Ahok benar benar jujur. Ia berkata benar tentang betis indah Veronica.

Rok hitam kembang selutut yang dipakenya paling dibeli di Mangga Dua seharga 200 ribu rupiah.

Naik ke atas, baju putih tanpa kerah yang dipakenya paling dibeli seharga 250 ribu.

Di jemarinya tidak kulihat ada cincin. Hanya sebuah jam tangan bulat hitam melingkar di tangan kirinya. Tidak tampak mereknya. Tapi sepertinya banyak terjual di Mangga Dua. Tidak mahal paling 600 ribu rupiah.

Naik ke atas, telinganya steril dari anting. Ini Veronica kayak bayi aja. Polos sekali. Saya melirik lehernya. Mencoba melihat apakah ada terjuntai kalung besar emas 24 karat mirip istri pejabat? Saya tidak melihatnya.

Uppsss tunggu dulu!! Ada kalung melingkar dilehernya. Tapi hanya kalung kecil berantai emas 22 karat . Hampir tidak terlihat olehku. Tertutupi oleh baju berleher tinggi tanpa kerah itu.

Total jenderal yang melekat di tubuh Veronica tidak sampai satu juta lima ratus lima puluh ribu rupiah. Plus kalung kecil 8 gram senilai 6 juta. Luar biasa sederhana bukan?

Terbayang dengan istri pejabat di kotaku dulu yang mirip manekin. Sekujur tubuhya melingkar emas gede. Berlapis emas. Kayak pameran perhiasan. Dari bawah sampai kepala penuh rantai emas. Hihihi

Veronica pagi itu benar-benar membingungkan nalarku. Seorang istri gubernur pengelola 70 trilyun uang APBD hanya melekat baju dan pakaian murah meriah. Tapi tidak murahan ya. Tidak ada riasan glamor wah ala emak emak istri pejabat yang kehilangan orientasi hidup. Bahkan terlalu polos menurutku penampilannya.

Namun, bak bayi atau anak-anak yang polos, justru melihat kepolosan bayi atau anak-anak menjadi kekuatannya. Kita semakin gemes dan terpesona dengan kepolosan bayi.

Kulit lembut, mata bening, senyum sumringah tanpa beban adalah karakter bayi atau anak-anak. Itu sebabnya kita senang dengan anak-anak nan polos.

Kita orang dewasa yang keliru dalam memaknai hidup. Kita menabur bedak tebal agar terlihat cantik. Kita melapis bibir dengan gincu tebal agar terlihat menarik. Kita memakai anting berlian, kalung emas agar dilihat berharga. Kita memakai pakaian wah agar terlihat mewah.

Padahal semua itu palsu. Palsu karena semua yang dipakai itu hasil korupsi suaminya. Tidak akan mungkin istri pejabat itu bisa memiliki intan berlian, tas hermes ratusan juta jika suaminya tidak korup.

Bagaimana mungkin bisa seenaknya bisa gonta ganti tas ratusan juta rupiah jika bukan karena hasil korupsi? Berapalah gaji pejabat tinggi. Paling tinggi 80 juta. Sanggup beli tas Hermes seharga ratusan juta, dari mana uangnya? Dari Hongkong!!

Istri menjadi kunci stir kemudi suami. Jika sang istri hedonis maka suami akan semakin serakah dan tamak. Ia akan melahap uang rakyat demi memenuhi selera hedonis istrinya.

Veronica mengajar banyak hal pagi itu. Kesederhanaannya menjadi magnet alami yang tidak akan pernah menyusut daya tariknya.

Daya tariknya di panggung pagi itu membuat saya kehilangan pendengaran. Saya tidak tahu apa yang ia ucapkan saat saya berikan waktu berbicara menyapa warga. Yang saya tahu saya terpesona pada karakter kuat kepribadiannya.

Sebuah buku karya saya, saya berikan buatnya di atas panggung itu. Saya membuka halaman pertama. Menunjukkan pesan singkat tulisan tangan saya.

Isinya: "Dear Bu Vero, Terimakasih telah melayani warga Jakarta dengan keras dan penuh cinta. Salam perjuangan. 9/4/2017".

"Terimakasih ya", ujarnya pendek sambil tersenyum.

Saya mengangguk. Membalas senyumnya. Senyum sumringahnya saat menerima buku menjadi penutup betapa indahnya pagi itu buat saya. Satu jam berdiri di samping First Ladies DKI Jakarta. Ruarrrrr biasa.

Nah, itu kisah 2017. Cerita nostalgia. Kini cerita episode tentang Veronica dan Ahok sudah berbeda lagi narasinya.

Di samping Ahok tidak ada lagi Veronica. Ada Puput yang dulu saya lihat saat acara mendampingi Veronica.

Apakah itu dosa?

Ya tidak. Hidup dan kehidupan punya cerita misteri tersendiri. Yang kita tidak tahu ujung akhirnya seperti apa.

Yang saya tahu, babak kehidupan setiap kita selalu punya kisah dan kejutan.

Kisah dan kejutan itu ada jika kita masih bernafas. Dan untuk masih terus bernafas, hidup sehat dan bahagia itu syarat utama.

Maka berbahagialah kita atas semua kisah yang pernah terjadi itu. Sekalipun kisah itu menggantung asa kita tentang apa itu cinta, perjuangan, harapan, dan pengorbanan.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto