• News

  • Opini

Meski Ada Corona, Ibu Hamil (Bumil): Lebih Baik Bekerja Jualan Koran Saja

Sosok Ibu Hamil (Bumil) yang dikisahkan oleh Birgaldo Sinaga
Facebook/Birgaldo
Sosok Ibu Hamil (Bumil) yang dikisahkan oleh Birgaldo Sinaga

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Oh, saya sampai lupa menulis tentang Bumil penjual koran yang beberapa hari lalu kami berjumpa di simpang.

Dua hari lalu, saya bertemu lagi dengan si ibu hamil (Bumil). Setelah saya bagi makan siang dan beras, saya ajak ngobrol si bumil itu.

Ibu Hamil itu bersedia ngobrol. Ngobrolnya tidak di tepi jalan. Ia masuk ke mobil. Lalu kami bergerak sambil ngobrol di dalam mobil. Tentu dengan masker di mulut.

Di dalam mobil sambil menyetir saya sampaikan maksud dan tujuan saya. Saya sampaikan kami akan mengganti pendapatan hariannya selama 3 bulan.

Ibu hamil itu bernama Bu Siti berasal dari Makassar. Sudah punya anak 1 berumur 1.5 tahun. Ini anak kedua jika lahir bulan depan.

Bu Siti mengaku dapat 40-50 ribu saban jualan koran. Itu total keuntungan koran dan tips.

Saya ajukan mengganti pendapatannya 50ribu perhari. Artinya 1.5 juta perbulan. Akan dibayarkan sekali seminggu sebesar 350ribu.

Bu Siti mengaku tak punya rekening bank. Saya ajukan diantar relawan uangnya ke rumahnya.

Bu Siti akhirnya menjawab lebih senang berjualan untuk mendapatkan uang. Ia tidak mau duduk-duduk tanpa bekerja dapat uang.

Saya pastikan kepadanya bahwa penawaran kami ini semata kemanusiaan karena lagi mewabah Corona. Bukan bermaksud merendahkan atau mengasihani. Niatnya semata menjaga si calon bayi dan keselamatan si ibu.

Sekitar 15 menit kami memutar di jalan. Akhirnya di ujung obrolan Bu Siti mengucapkan terimakasih. Tapi ia lebih memilih untuk berjualan koran saja.

Ya uwis..saya bilang tidak memaksa. Pilihan ada pada Bu Siti. Bagaimanapun yang menjalani hidup ya Bu Siti. Yang terbaik pilihan Bu Siti yang memilih.

Akhirnya kami balik lagi ke base camp jualannya. Mengantarnya kembali ke tempat jualannya. Disertai doa semoga Bu Siti baik-baik, sehat-sehat selalu.

So, hidup ini seperti spektrum cahaya. Warnanya berwarna warni. Pilihan warna yang kita pilih sesuai selera kita masing-masing.

Bicara soal selera maka tidak ada harga mutlak. Orang lebih suka rendang dibanding gulai itu sah-sah saja. Gak ada yang merasa lebih di atas.

Begitu juga pilihan-pilihan dalam hidup ini. Selalu ada keberagaman. Dan itu keniscayaan.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto