• News

  • Opini

Kelaparan di Pulau Tanjung Malagan

Birgaldo Sinaga
foto: istimewa
Birgaldo Sinaga

"Kisah perjalanan Birgaldo Sinaga bersama rekan-rekannya, saat membagikan bantuan berupa sembako bagi masyarakat selama wabah corona."

 

BATAM, NETRALNEWS.COM - Sejak pukul 7 pagi, tim SBS sudah bersiap berangkat ke pulau. Dua relawan saya datang dengan antusias.

Setelah beres-beres, pukul 09.30 WIB saya menjemput Bu dokter gigi Zahrotur Riyad. Kami satu mobil dengan membawa sembako di belakang. Sementara dua relawan SBS naik mobil lain dengan sembako penuh di dalam mobil.

Perjalanan darat sekitar 1.5 jam. Menempuh jarak sekitar 85 kilometer. Menuju Pulau Galang ujung. Pulau tempat RS Corona dibangun Presiden Jokowi.

Sesampai di pelabuhan rakyat Kampung Baru, tim menurunkan sembako. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB. Ada 100 paket sembako kami bawa. Beras, telur, mie instant dan minyak goreng. Total barang semua sekitar 800 kg.

Dari Pelabuhan Kampung Baru, kami bergerak ke Pulau Tanjung Malagan. Sekitar 30 menit berlayar. Naik perahu kecil yang biasa disebut pancung oleh nelayan di sana.

Di pelabuhan rakyat Tanjung Malagan, barang dibongkar. Dinaikkan ke jembatan papan yang memanjang sekitar 200 meter.


Setelah dibongkar, paket sembako itu dibawa ke Posyandu yang berjarak kurang lebih 250 meter. Dibawa satu persatu. Jalan kaki.

Usai serah terima barang, wajah letih pucat tampak di wajah tim relawan. Selidik punya selidik saya dan dua tim relawan belum sahur sejak pagi. Air putih juga kosong. Kami lupa membawanya.

Lalu saya saya suruh cari kedai. Di pulau Malagan itu ternyata tidak ada kedai. Tadinya mau beli roti, kue atau apa saja buat ganjal perut. Pandangan mulai berkunang-kunang. Lapar berat. Haus berat.

Tak ada jalan lain, kami akhirnya memutuskan lanjut ke Pulau Korek. Sekitar 20 menit perjalanan. Membawa paket sembako ke pulau yang berpenghuni 30 KK.

Untungnya, rumah Pak RT Syahril di dermaga. Jadi tidak perlu jauh membawa paket sembako seperti di Malagan.

"Ada kalian yang bisa panjat pohon kelapa?" tanya saya pada tim SBS.

Keduanya menggeleng. Perut sudah keroncongan. Haus sungguh menyiksa.


Puji Tuhan. Di depan ada kedai kecil. Hanya itu satu-satunya kedai di Pulau Korek.

Saya minta air mineral. Tidak ada. Saya cari roti atau kue. Tidak ada.

Akhirnya ada minuman ale-ale sama nata de coco model Aqua gelas.

Ya uwislah. Itu pun jadi. Glekk..glek..glek. Dua gelas langsung pindah ke tenggorokan. Serasa disiram air dingin wajahku.

Saya lirik rak-rak kedai. Ada mie instant. Saya mengiba sama pemilik warung. Membeli mie instant itu tapi minta dimasak untuk kami.

Penjaga kedai bilang gak bisa. Ini bulan puasa.

"Kami musafir, Bang. Belum sahur dari subuh sampai sekarang. Perjalanan jauh. Ini sudah sempoyongan," rayu saya.

Penjaga kedai menatap saya. Ia sepertinya kasihan. Seumur-umur baru kali ini penjual kedai menjual mie instant rebus.

15 menit kemudian.

Mie rebus masakan istri pemilik warung terhidang di depan kami. Kami masuk kedainya.

"Di dalam saja, Bang. Jangan di luar makannya. Lagi puasa," ucapnya.

Kami masuk kedainya. Duduk di lantai papan. Melingkar tanpa tikar.

Dalam tempo 3 menit mie instant itu habis kami sikat. Aduhh.., wajah si pemilik warung langsung ganteng kulihat.

"Terimakasih, Bang. Udah selamat kampung tengah kami," ujar saya sambil pamit.

Dua relawan saya wajahnya langsung cerah. Tidak pucat lagi. Kami pulang.

Sekitar pukul 17.00 wib kami tiba di Batam.

Dan hasilnya..., sejak malam sampai subuh ada 7 kali saya ke toilet. Sepertinya perut saya mules. Tidak kuat lagi kalo terlalu lapar trus diisi mie instant.

Gak apa-apalah.., yang penting selamat dulu. Daripada sempoyongan. Pingsan kelaparan.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto