• News

  • Opini

Pandemi, Jokowi Blusukan di Gang Sempit Bukan Sekadar Konpers Alay

Presiden Jokowi blusukan di Sempur
foto: istimewa
Presiden Jokowi blusukan di Sempur

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Saya tak habis pikir dengan komentar sinis bernada hujatan dari sebagian orang. Orang-orang yang hatinya tetiba mengeras benci melihat blusukan Jokowi. Presiden Jokowi Minggu malam (26/4/20) memberikan sedikit bantuan kepada warga di perumahan sempit.

Ada yang bilang, masak Jokowi selevel presiden masih bergaya capres. Pencitraan. Ia punya kewenangan yang besar untuk melakukan lebih berdampak lagi dibanding sekedar bagi-bagi sembako langsung ke rakyat.

Saya hanya tarik nafas sama orang-orang yang merespons miring ini. Mereka menuding Jokowi pencitraan ala capres. Padahal sejatinya merekalah yang justru menarik-narik kenangan pilpres di saat suasana pandemi Covid-19.

Apapun yang dilakukan Jokowi pasti miring di mata mereka. Buruk di mata mereka.

Saya bukanlah orang yang mengkultuskan Jokowi. Saya bukan BuzzerRP yang mendapat uang setiap bulan dari istana. Bukan juga orang yang menganggap Jokowi pemimpin 100 persen tak mungkin salah. Banyak kebijakannya saya protes keras.

Termasuk soal proyek kartu prakerja online yang menelan uang rakyat 5.6 T. Banyak hal kebijakan Jokowi saya tidak setuju. Termasuk waktu awal Maret diumumkan kasus Covid-19, saya mendesak segera lockdown Jakarta. Kunci semua jalur masuk keluar ke Jakarta.

Apa yang dilakukan Jokowi mengunjungi warga miskin di perkampungan kumuh bagian dari manajemen kepemimpinan. Melihat masalah langsung ke akar rumput. Bukan sekedar mendengar dari bawahan yang biasanya bagus-bagus semua.

Saya bisa bilang ini karena sudah hampir sebulan turun ke bawah. Mendengar langsung apa suara masyarakat.

Asisten ajudan Presiden Jokowi Syarif Muhammad Fitriansyah menulis. Secara mendadak Bapak Presiden @jokowi meminta kami untuk menyiapkan rangkaian kendaraan dan membawa paket sembako, akan tetapi kami tidak diberitahu tujuannya ke mana.

Ketika Bapak keluar dari rumah menuju kendaraan, Bapak menyampaikan tujuannya ke arah "daerah sumur, yang di depan." Seketika itu pun saya langsung paham ternyata yang dimaksud Bapak daerah "sumur" itu adalah "sempur".

Rangkaian pun bergerak ke daerah yang dituju, lalu setibanya di lokasi, Bapak keluar dari mobil dan langsung memerintahkan kami untuk membawa beberapa paket sembako sambil menuju gang kecil di Kampung Lebak Pilar, Kelurahan Sempur.

Situasi saat itu sangat gelap, jalan kecil, sedikit licin, dan jalan yang dilalui Bapak pun sangat curam. Ternyata saya baru tahu maksud Bapak itu ingin menyapa dan melihat kondisi warganya secara langsung. Ini kesaksian sang asisten ajudan yang ikut kemarin malam.

Di Pulau Galang tepatnya di pulau kecil Korek, Kepri, kemarin saya dan teman-teman relawan kemanusiaan Sahabat Birgaldo Sinaga turun membagikan paket sembako.

Saat duduk di bawah pohon Pulau Korek, seorang ibu berdaster mendekati kami. Ia tahu kami akan membagikan sembako.

Si ibu berdaster bernama Meysa itu curhat pada saya. Seminggu lalu kampungnya dapat bantuan sembako dari Pemkot Batam.

Ada 30 kk di pulau itu. Tapi jumlah sembako hanya 29 saja yang diberikan Pemkot Batam. Bu Meysa tidak dapat. Ia sedih sekali. Ia merasa tidak dianggap. Ia merasa terasing di pulau itu.

Apa yang salah? Lagi-lagi soal data. Data kependudukan memang bermasalah. Itu yang terjadi.

Saya bilang, bahwa kami bukan pemerintah. Jadi bantuan sembako murni pribadi relawan Sahabat Birgaldo Sinaga. Jadi kami memastikan Bu Meysa pasti mendapatkan bantuan.

"Kalo bisa diserahkan langsung, Pak. Jangan melalui RT," ujar si Ibu setengah berbisik.

Saya dan Bu Dokter Zahro sepakat. Paket bantuan sembako khusus Bu Meysa akan diserahkan langsung. Untuk warga lain Pak RT yang akan kelola.

Saat kami serahkan paket sembako itu, wajah Bu Meysa senang sekali. Matanya berbinar-binar. Ia tidak sedih lagi. Seminggu lalu ia jengkel kecewa sekali. Ia satu-satunya warga yang tidak dapat bantuan.

Saya pikir, kunjungan Presiden Jokowi tujuannya melakukan pengecekan langsung. Mendengarkan persoalan apa yang terjadi di masyarakat. Bertanya langsung. Melihat langsung.

Jokowi tahu, masuk ke jantung perumahan kumuh masyarakat memudahkannya melihat realitas dan persoalan riil yang dihadapi warga.

Bukan sekedar konpers-konpers alay yang sibuk mencari perhatian bak pahlawan kesiangan. Padahal kerja gak beres. Seperti Anies Baswedan gubernur DKI itu.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto