• News

  • Opini

Di Tengah Pandemi, Trinity: Jangan Bius Aku, Aku Tak Mau Dibius

Trinity korban bom Samarinda saat menjalani pengobatan di China
foto: istimewa
Trinity korban bom Samarinda saat menjalani pengobatan di China

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Trinity duduk gelisah. Kedua tangannya di sandarkan ke kursi panjang. Gadis mungil itu memakai masker. Matanya menatap dengan rasa takut para perawat dan dokter yang akan mengoperasi dua jemari tangannya.

Ibu Trinity tahu kecemasan putrinya. Ia mengelus kening borunya itu. Membisikkan kata-kata lembut. Tapi Ity tetap gelisah. Ibu Trinity mengajak anaknya itu berdoa. Meminta perlindungan dan kekuatan dari Tuhan Yesus.

Usai berdoa, Trinity dinaikkan ke ranjang beroda. Ia akan di operasi di lantai 15. Matanya masih menyiratkan penolakan. Tapi tak kuasa dilawannya. Sudah puluhan kali Trintiy dioperasi. Disayat-sayat kulitnya. Rasa sakit itu membekas dalam benaknya. Membekas dalam alam bawah sadarnya.

Sesampai di ruang tunggu operasi, Ibu Trinity memeluk putrinya. Ia tidak bisa menemani Trinity. Trinity didorong masuk ke ruang operasi. Tapi Trinity menolak masuk. Trinity menangis. Ibu Trinity membujuk masuk. Akhirnya Ity mau masuk. Ibu Trinity menunggu di luar ruangan.

Di dalam ruang operasi Trinity berpindah ranjang. Ia dinaikkan di meja operasi khusus. Para dokter dan perawat bersiap.

Dokter anestesi mendekati Trinity. Ia mau melakukan pembiusan. Trinity ketakutan. Ia menangis. Dokter anestesi berusaha menenangkan Trinity. Tapi Ity malah menjerit.

Para dokter kalang kabut. Trinity menyembunyikan tangannya dalam dadanya. Ia seperti orang yang sedang menyembunyikan tubuhnya dari sergapan orang jahat. Baru kali ini Trinity seperti itu. Sebelumnya tidak pernah.

Biasanya ada dokter David yang menemani Ity. Tapi dokter David sedang di Jakarta. Dokter David tidak bisa kembali ke Guanzhou karena penerbangan ditutup sejak pandemi Covid 19.

Trinity terus melawan. Ia menjerit. Ia terus menangis. Ia tidak mempan dibujuk para perawat dan dokter.

"Aku tak mau dibius. Jangan bius aku. Aku tak mau!!!" pekik Ity kencang.

Hampir 20 menit para dokter membujuk Trinity. Ity tak mau dibius.

Dokter menyerah. Akhirnya Ibu Trinity dipanggil. Diminta masuk untuk membujuk anaknya.

Masa Covid 19 ini prosedur penanganan pasien juga berbeda di China. Lebih ketat dan ribet. Ibu Trinity masuk ruang operasi.

Trinity sesunggukan. Ia menangis sambil merapatkan kedua lengannya ke dadanya.

Ibu Trinity mendekati anaknya. Ia memeluk Ity. Membelai kepala Trinity. Tangis Ity sedikit reda. Ada rasa nyaman. Tapi Ity tetap berontak.

Ibu Trinity membisikkan sesuatu. Ibu dan anak ini berdebat disaksikan para dokter dan perawat. Lima menit lebih diperlukan Ibu Trinity menaklukkan rasa ketakutan Ity.

Ibu Ity mempersilakan dokter anestesi menyuntik cairan bius. Ibu Trinity ikut di dalam ruangan. Menemani putrinya disuntik bius. Agar Ity tenang. Agar nyaman. Ada orang yang disayangnya menjagainya. Melindunginya.

Tidak lama, obat bius itu bereaksi. Ity tertidur. Ibu Trinity keluar ruang operasi. Ia menunggu di luar ditemani Ibu Cyntia.

Di ruang tunggu Bu Trinity terus berdoa. Mulutnya komat kamit. Menaikkan doa permohonan kepada Tuhan Yang Maha Baik. Agar operasi lancar. Agar anaknya disembuhkan. Bisa pulih.

Pukul 12.00 siang operasi dimulai. Balon yang ditanam dipunggung Ity diambil. Balon itu sudah sebesar mangga golek. Ditanam sejak awal Januari lalu.

Kulit di punggung Ity disayat. Diambil kulitnya. Lalu kulit itu dicangkokkan ke jari jemari Ity. 8 jari Ity bengkok dan tidak bisa berfungsi. Akibat terbakar hebat waktu dibom teroris pada 13 November 2016 lalu. Di depan gereja Ouikumene Samarinda.

Hampir 9 jam operasi. Ini operasi paling lama dan rumit. Mencangkok kulit di dua tangan jemari Ity bukan seperti menempel kulit kayu di pohon. Jaringan kulit yang rumit dan sulit itu harus dilakukan dengan super teliti. Trinity dioperasi oleh dokter senior. Para suhu yang terbaik di bidangnya.

Pukul 20.30 malam operasi usai. Trinity dibawa ke ruang rawat inap. Bius sudah habis efeknya. Ity menangis. Kedua tangannya sudah di perban. Punggungnya juga. Ia tidak bisa bergerak.

"Mak sakit Mak..., sakit kali Mak...," isak Ity lirih.

Ibu Trinity tak kuasa melihat putrinya. Air matanya jatuh. Berat sekali derita hidup yang harus dilalui putri bungsunya. Sejak 4 tahun lalu. Saat Ity masih usia 3 tahun. Sampai sekarang. Air mata itu terus menetes. Sampai hari ini.

Ahh Ity..., maafkan kami ya sayang. Maafkan negeri ini yang tidak pernah peduli dengan penderitaan yang kamu rasakan.

Tulang hanya bisa nyanyikan lagu buatmu.

"Bila Kau ijinkan sesuatu terjadi
Ku percaya semua untuk kebaikanku
Bila nanti telah tiba waktuMu
Ku percaya kuasaMu
Memulihkan hidupku

Waktu Tuhan pasti yang terbaik
Walau kadang tak mudah di mengerti
Lewati cobaan, ku tetap percaya
Waktu Tuhan pasti yang terbaik"

Stay strong Ity...

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto