• News

  • Opini

Jerit Pilu Trinity di Ruang Operasi RS Sun Yat Sen China di Tengah Wabah Covid-19

Tangan Trinity, korban Bom Samarinda, sebelum dan sesudah operasi
Facebook/Birgaldo
Tangan Trinity, korban Bom Samarinda, sebelum dan sesudah operasi

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pagi-pagi sekali Ibu Trinity sudah bangun. Para pasien di dalam ruangan rawat inap RS Sun Yat Sen Guangzhou masih tertidur lelap.

Trinity, putri bungsunya masih tertidur pulas. Kedua tangannya masih di perban. Ia memandangi wajah putrinya itu. Ada bulir air mata menetes. Sebentar lagi perban di kedua tangan anaknya akan dilepas. Jahitan akan dibuka. Kawat baja yang ditanam di jari telunjuk Ity akan ditarik.

Sudah hampir 3 tahun mereka berjuang di sana. Untuk memulihkan luka bakar yang dialami Trinity. Bocah 6 tahun yang terkena bom pada 13 Novembet 2016 saat sekolah minggu di Gereja Ouikumene Samarinda.

Di pojok ranjang itu, Ibu Trinity membuka Alkitab. Menundukkan wajahnya. Memohon kekuatan dari Tuhan. Ia ingat kejadian ledakan bom 4 tahun lalu. Ia sedang berdiri di mimbar memimpin ibadah gereja. Tiba2 bom meledak.

Sejak hari itu, hidup keluarganya berubah. Duka dan luka menyatu. Perjuangan dengan beban teramat berat dipikul. Semua demi kesembuhan putri bungsunya sekalipun harus berpisah dengan Joe dan Cila, dua anaknya yang masih remaja.

Pagi itu, Trinity tampak bergelayut manja di ketiak ibunya. Ia memegang lengan ibunya kuat sekali. Tidak ingin lepas.

Trinity tahu, sebentar lagi neraka dunia akan dirasakannya. Sudah puluhan kali Trinity merasakan neraka itu. Ity terus memegangi tangan ibunya dengan memepet rapat meskipun kedua tangannya masih diperban. Ity mulai ketakutan. Ia trauma. Rasa sakit perih itu begitu jelas terasa dari pelupuk matanya.

Pukul 08.30, seorang perawat memberitahu Ibu Trinity. Satu jam lagi dokter akan tiba. Dokter akan membuka perban dan melepas jahitan.

"Ity tak mau lepas dariku Ito. Ia lompat dari tempat tidur. Lari keluar ruangan. Mengejar saya," ujar Ibu Trinity kemarin.

Apa yang terjadi?

Ibu Trinity bercerita anaknya sangat ketakutan. Ia gemetar. Suaranya terbata-bata meminta ibunya tetap dalam ruangan.

"Saya sebenarnya gak kuat mendengar jeritannya ito. Nyaring dan kencang sekali. Sampai terdengar ke luar ruangan. Gak sanggup saya melihatnya Ito," ucap Ibu Trinity.

"Apalagi saat besi yang ditanam di jari telunjuknya dicabut. Aduhhhh...gak tahan melihatnya Ito", ujarnya lagi.

Video melepas jahitan operasi kedua tangan Trinity yang saya terima itu sangat menguras perasaan saya.

Saya tahu seperti apa suasana di rumah sakit itu. Dua kali saya mengunjungi Trinity. Saya pernah melihat cairan disuntikkan ke dalam balon yang ditanam di punggung Trinity.

Saya melihat dokter melakukan fisio terapi dengan memijat tangan Ity. Ahh, gak tega melihat anak sekecil itu harus merasakan kesakitan yang luar biasa.

Hampir 1.5 jam tangan Ity diubek-ubek dokter. Membuka jahitan. Jari jemari Ity itu dilihat perkembangan pencangkokkan kulitnya. Kulit dari punggung Ity diambil lalu dicangkokkan ke jarinya.

"Makkkk....sakitttt makkk..sakittttt...uhhhhhhh!!!" teriak kencang Ity sambil memandangi jahitan di jari jemarinya dilepas dokter.

Ibu Trinity berusaha tegar. Ia tetap berdiri di samping anaknya. Sambil mendokumentasikan proses pelepasan jahitan.

"Saat melihat kesakitan anakku, rasa sakit hatiku sama negara meledak Ito. Tidak ada sedikitpun perhatian dan bantuan dari mereka", ujar Ibu Trinity.

Saya menarik nafas panjang. Perjuangan keluarga ini sudah begitu jauh. Saya sudah beberapa kali bertemu dengan LPSK. Menyuarakan suara getir Ibu Trinity.

Meminta negara memberi perhatian. Berharap Menlu Retno juga memberi perhatian. Bukan hanya kepada WNI yang tidak bisa pulang karena terisolasi Covid-19 di India sana.

Saya hanya bisa membesarkan hatinya. Saya bilang kepadanya untuk tidak banyak berharap lagi sama negara. Semakin berharap semakin besar nanti rasa sakit hati.

Hari ini Trinity mengirim pesan kepada saya. Ia sudah lebih lumayan enak badannya. Kemarin malam saya bernyanyi untuknya. Saya mencoba menghibur  hatinya yang terluka.

Saya nyanyikan lagu kesayangannya. Jangan Pernah Menyerah.

"Tuhan tak pernah janji langit selalu biru
Tetapi Dia berjanji selalu menyertai
Tuhan tak pernah janji jalan selalu rata
Tetapi Dia berjanji berikan kekuatan
Jangan pernah menyerah, jangan berputus asa
Mukjizat Tuhan ada saat hati menyembah
Jangan pernah menyerah, jangan berputus asa
Mukjizat Tuhan ada bagi yang setia dan percaya".
Jangan pernah menyerah Trinity...jangan pernah.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto