• News

  • Opini

Bercermin dari Tanah Batak, Miris Sunda Wiwitan Diusir dari Tanahnya Sendiri

Birgaldo Sinaga saat menghadiri ritual masyarakat Sunda Wiwitan
Facebook/Birgaldo
Birgaldo Sinaga saat menghadiri ritual masyarakat Sunda Wiwitan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sebelum misionaris asal Jerman I.L Nomensen datang ke tanah Batak, orang Batak memiliki agama dan kepercayaan sendiri. Dikenal dengan agama Parmalim. Nomensen memulai pelayanannya dari Tarutung pada 11 November 1863.

Pengaruh penyebaran injil di tanah Batak mendesak agama Parmalim. Pelan-pelan pemeluk kepercayaan Parmalim ini berkurang. Pada masa ORBA agama Parmalim semakin berkurang. Mereka beribadah sembunyi-sembunyi.

Pemerintah memaksa agama-agama kepercayaan ini berpindah ke agama impor. Hanya 5 agama yang diakui negara. Otomatis warga negara yang beragama di luar 5 agama resmi itu kesulitan mendapatkan hak-hak warga negara. Seperti KTP, surat nikah, pekerjaan  dll.

Sejak reformasi, pemeluk agama-agama kepercayaan nusantara ini mulai berani menunjukkan jati dirinya. Salah satunya agama Parmalim di tanah Batak ini.

Di tanah Sunda agama Sunda Wiwitan juga berani muncul. Presiden Gus Dur memberi hak yang sama sesuai jaminam konstitusi.

Beberapa hari lalu, makam sesepuh masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan di Desa Cisantana, Kecamtan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat disegel pemerintah daerah setempat.

Makam tersebut rencananya akan digunakan untuk Pangeran Djatikusumah (88) dan istrinya.

Desakan ormas tertentu memaksa agar makam itu dibongkar membuat pemerintah daerah tunduk. Alasan klise pemda tidak ada IMB. Walhasil, pemeluk Sunda Wiwitan gagal membangun tugu makam buat leluhur mereka. Negara gagal melindungi hak-hak asasi pemeluk Sunda Wiwitan.

Bagaimana di tanah Batak?

Saat ini ada sekitar 11 ribu jiwa pemeluk agama Parmalim. Mereka bebas melakukan ibadah ritual di sana. Mayoritas warga tanah Batak adalah Kristen. Tidak pernah terdengar ada isu benturan antara pemeluk Kristen dan Parmalim.

Saya pernah mengikuti prosesi kepercayaan Parmalim ini.

Pada 7 Juli 2016, Parsadaan Pomparan Ni Si Raja Batak dalam komunitas Rumahela Raja Isumbaon mengadakan ritual budaya leluhur Batak.

Ritual ini berlangsung setiap tanggal 7 bulan 7 setiap tahun bertempat di kaki bukit Pusuk Buhit, Samosir Danau Toba.

Saya, sebagai putra Batak kelahiran Medan, belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana bentuk dan  ritual religi leluhur orang Batak.

Dulu sih sering mendengar cerita dari orang orang tua bagaimana para leluhur Batak dulu melakukan ritual penyembahan kepada Supreme of Power, Yang Maha Kuasa, Ompu Mula Jadi Na Bolon.

Di atas Bukit Gunung Pusuk Buhit, beralaskan   panorama menawan nan indah Danau Toba di bawah kaki bukit, Saya melihat prosesi  ritual leluhur Batak ini dengan kegembiraan.

Ritual ini  di mulai dgn iring iringan para perempuan yang membawa air segar dari air terjun.

Air itu ditaruh di tempayan kecil di atas kepala. Seluruh peserta ritual berjalan kaki sambil mengapit sehelai daun sirih dengan kedua tangannya.

Daun sirih diapit disela sela telapak tangan dengan pangkal daun menghadap atas.

Prosesi  ritual dipimpin seorang ibu Boru Situmorang yang memegang tongkat melebihi tinggi badannya.

Tongkat hitam ini berukirkan wajah wajah leluhur orang Batak dari bawah hingga ujung atas tongkat.

Pemimpin ritual ini diyakini memiliki kemampuan supranatural roh leluhur Opung yang berdiam dalam dirinya.

Prosesi memasuki rumah adat (rumah panggung) yang menghadap Gunung Pusuk Buhit di atas Danau Toba di mulai dengan memakan daun sirih campur pinang dan kapur.

Semua peserta ikut memakannya, termasuk saya ikut mengunyahnya hingga mulut saya merah.

Rasanya pahit pahit pedas. Kalo baru pertama memakn sirih biasanya merasa aneh. Lidah kita serasa kesat gitu.

Saya harus berjuang mengunyahnya agar tidak memuntahkannya krn belum terbiasa. Telan saja air ludah saat mengunyah sirih, itu obat terbaik bagi tubuh.

Saat kecil namboru saya  dulu selalu mengunyah sirih sebagai penguat gigi dan menghilangkan bau mulut.

Mulutnya selalu merah dengan nonstop mengunyah sambil beraktifitas biasa setiap hari.

Kini, tidak banyak lagi ditemukan orang mengunyah sirih. Peradaban modern menyikat gigi dengan odol gigi menggantikan sirih sebagai obat pelindung gigi dan penghilang bau mulut.

Tetabuhan suara gendang (gondang), sarune, seruling, hasapi (alat musik tradisional Batak) mengiringi pergerakan peserta yang perlahan melangkah menapak naik anak tangga menuju Rumah Panggung.

Di dalam rumah panggung prosesi ritual terasa aroma mistisnya. Ada 7 prosesi sepanjang ritual itu. Pikiran saya melayang seperti berada pada abad pertengahan.

Ketika para leluhur Batak memuja Ompu Mula Jadi Na Bolon memanjatkan doa-doa meminta hikmad kebijaksanaan, mengasihi sesama, kesuburan dan perlindungan dari mara bahaya.

Apa yang terjadi di Kuningan Jabar adalah teror dan kesewenang-wenangan kelompok mayoritas. Kelompok yang merasa punya hak mengusir agama-agama lokal nusantara. Agama kepercayaan yang lebih dulu lahir sebelum kedatangan agama impor dari luar.

Kini nasib penerus agama leluhur terancam. Sejatinya merekalah pemilik asli nusantara kita. Mereka menerima dengan tangan terbuka agama-agama impor tumbuh dan berkembang. Mereka tidak pernah memusuhi. Mereka menerima keberagaman itu sebagai kodrat ilahi.

Sayangnya, kini mereka seperti anak tiri di negeri tempat para leluhur mereka lahir. Di tanah tempat leluhur mereka menerima dengan tangan terbuka para pendatang dari luar.

Kini tangan mereka sendiri yang diikat. Diborgol. Agar tidak bisa menyembah Sang Pencipta yang dulu pernah diwariskan turun temurun dari leluhur mereka.
Dan sialnya negara ikut andil menyumpal dan membelenggu hak asasi mereka.

Miris sekali.

Salam Perjuangan Penuh Cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto